Asmar Latin Sani, Metamorfosis Sang Teroris

88
views

Apa yang terjadi pada seorang anak asal Bengkulu yang santun dan polos di mata keluarga dan guru sekolahnya, di kemudian hari setelah dewasa meledakkan diri dan meluluhlantakkan Hotel JW Marriott Jakarta? Bagaimana mulanya ia bermetamorfosis dari “anak manis” menjadi pemuda teroris? Apa yang ada di dalam pikirannya? Bagaimana bisa ……..? dst.

Sejuta pertanyaan serupa bertahun-tahun hinggap di benak pasangan Abdul Wahid gelar Sutan Marajo dan Marji’a, kedua orang tua Asmar Latin Sani, sejak nama puteranya disebut-sebut polisi dan media sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott tahun 2003 lalu. Kisah sepenggal kepala yang terlempar hingga ke lantai tiga gedung hotel JW Marriott yang meledak, menjadi potongan cerita tragedi keluarga yang memilukan dan menghantui seumur hidup kedua orang tua, saudara kandung, dan keluarga besar Asmar Latin Sani.

Kehilangan seorang anak bagi siapa pun adalah kepedihan mendalam, lebih-lebih bila kematiannya melalui jalan pintas dan disebabkan hal-hal yang tidak dapat dimengerti dengan akal sehat; bom bunuh diri. Kendati kedua orang tuanya telah meninggal dunia, kematian Asmar Latin Sani menyisakan luka batin bagi saudara kandung dan keluarga besarnya. Luka yang tak pernah kering.

Itulah yang dialami banyak orang tua sejak rentetan teror bom meledak di Indonesia. Setidaknya sejak Bom Bali I tahun 2002 hingga Bom Kampung Melayu tahun 2017, belasan bahkan mungkin puluhan pemuda Indonesia telah direkrut dan dijadikan “pengantin” oleh kelompok teroris.

Satu persatu dari mereka tewas berguguran, bagai bunga yang gagal mekar dan mewangi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsanya.

Bagaimana menjelaskan semua ini? Tentu saja ada begitu banyak kajian ilmiah dan buku-buku yang menyingkap tabir bagaimana mulanya seseorang menjadi teroris, hasil pendalaman komprehensif para pakar terorisme nasional dan internasional. Namun, sayangnya karya-karya hebat itu tidak mudah dipahami oleh orang awam, terutama para orang tua zaman sekarang yang diserbu miliaran informasi setiap hari dari telepon pintar di genggamannya.

Cerita seputar bom JW Marriott I dan kehidupan hingga kematian Asmar Latin Sani menjadi renungan bagi para orang tua tentang pentingnya mencegah dan melindungi buah hati dari potensi radikalisme di sekitar lingkungan pendidikan dan pergaulannya.

 

Bom Marriot, Kisah Selasa Penuh Duka di Ibu Kota Jakarta

Selasa, 5 Agustus 2003. Gumpalan asap hitam pekat membumbung tinggi dan menggelapkan sebagian langit pusat kegiatan bisnis dan pemerintahan, kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Siang itu, sekitar pukul 12.44 sebuah bom mobil berdaya ledak tinggi (high explosive) mengguncang Hotel JW Marriott. Bagian depan bangunan hotel yang megah seketika rontok. Guncangan yang sangat keras menyebabkan kaca-kaca jendela di gedung-gedung sekitarnya pecah berkeping-keping.

Ledakan dahsyat itu memicu kepanikan banyak orang di dalam dan sekitar Hotel JW Marriott. Ratusan orang berhamburan keluar dari hotel dan perkantoran, berusaha menyelamatkan diri, atau mencari sumber ledakan. Korban di dalam dan di luar hotel berjatuhan. Polisi bersama Satpam dan warga masyarakat berusaha menolong korban, melarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat.

Singkat cerita, peristiwa teror bom skala besar itu menelan korban 14 orang tewas dan 156 luka-luka. Dampak sosial ekonominya lebih tak terbilang. Kegiatan bisnis di Ibu Kota Jakarta pada hari itu otomatis stagnan. Indeks harga saham ikut tertekan. Dan, masyarakat dilanda kecemasan. Berjuta pasang mata menyorot layar televisi, menanti kabar dengan harap-harap cemas; semoga keluarga, sahabat, atau rekan kerjanya tidak menjadi korban.

Dari hasil penyelidikan polisi, terungkap bahwa ledakan yang megguncang JW Marriott berasal dari bom bunuh diri, menggunakan mobil Toyota Kijang bernomor polisi B 7462 ZN yang dipicu melalui sebuah telepon seluler yang ditemukan di lokasi kejadian. Kapolri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar menerangkan dalam konferensi pers, lengkap dengan foto potongan kepala, bahwa pengendara mobil sekaligus “pengantin” bom bunuh diri itu adalah Asmar Latin Sani.

Siapa sebenarnya Asmar Latin Sani dan bagaimana lingkungan (milieu) yang membentuk kepribadiannya? Penulis berusaha menelusuri jejak perjalanan hidup Asmar Latin Sani, dengan mengunjungi sekolah dan tempat tinggalnya, mewawancarai sejumlah warga di sekitar kediaman, guru sekolah dasar, dan sumber-sumber terpercaya yang mengetahui latar belakang sosok pemuda misterius itu.

 

Di SDN 12 Kota Bengkulu inilah Asmar menempuh pendidikan dasar selama 6 tahun.

 

Asmar di Mata Guru SD: Pendiam dan Taat Beribadah  

T

iga halaman profil yang minim catatan dilengkapi foto hitam putih berukuran 3×4 di dalam buku induk murid yang tersimpan di lemari arsip ruang kantor SD Negeri 12 Kota Bengkulu, melengkapi cerita tentang sosok Asmar, yang kelak dikenal sebagai Asmar Latin Sani, setelah meledakkan diri dan meluluhlantakkan Hotel JW Marriott, Jakarta, 2003.

Tercatat di dokumen itu, Asmar masuk SD sejak Juni 1982. Semasa SD, menurut Welly Asmani (60), guru kelasnya, Asmar tergolong anak berpretasi. Di kelas 5, ia menyukai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan meraih nilai rata-rata 7.

Pada masa itu, Asmar sudah mengenal ilmu elektronik dasar yang menjadi bagian dari pelajaran IPA. “Asmar aktif mengikuti praktikum. Dia senang membuat rangkaian elektronik untuk menghidupkan lampu boghlam,” tutur Welly Asmani.

Dari Buku Induk Siswa diperoleh foto Asmar di masa Sekolah Dasar.

Kendati begitu, nilai tertinggi Asmar diraih pada pelajaran agama Islam; 9. Welly ingat, ruang kelas tempat Asmar kerap menjadi imam sholat dzuhur, berjamaah dengan teman-temannya. Kegiatan rutin para siswa yang menjadi program wajib di sekolah ini. “Asmar anak yang pendiam dan taat beribadah,” kenang Welly Asmani.

Setelah lulus SD pada 1989 di usia 14 tahun, entah atas pengaruh dari siapa, Asmar memaksa ayahnya untuk disekolahkan ke Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Sang ayah tidak mengizinkan anak bungsunya merantau ke Jawa.

Di rentang waktu antara 1989 – 1991, Asmar kerap pergi dari rumah dan tidak pulang selama beberapa hari. Orang tuanya tidak mengetahui kegiatannya di luar rumah. Kelak di kemudian hari, berdasarkan keterangan aparat keamanan, terungkap dugaan adanya keterlibatan Asmar dalam pembakaran Pos Polisi Gunung Balak di Lampung Tengah (Lampung Timur sekarang) yang menjadi bagian dari rangkaian peristiwa Talangsari 1989.

 

Welly Asmani (60), wali kelas Asmar, di lantai dua ruang kelas 6 tempat Asmar belajar.

 

Diduga, Ada Asmar di Pos Polisi yang Terbakar

Pada Selasa 7 Februari 1989 sekitar pukul 10.30 WIB, sekelompok orang menyerang Pos Polisi Gunung Balak di Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Lampung Tengah (Lampung Timur sekarang). Dalam peristiwa itu, dua aparat pemerintah gugur terbunuh; Serma Pol. Sudargo (Kepala Pos Polisi) dan Santoso Arifin (Kepala Desa Sidorejo), satu luka parah terkena panah beracun; Serda Pol. Arifin Sembiring, dan 2 pucuk pistol colt 38 direbut para penyerang (arsip Laporan Kodim 0411 Lampung Tengah, Februari 1989).

Penyerangan Pos Polisi Gunung Balak adalah reaksi balas kelompok Abdullah dan Usman, dua anak buah Anwar Warsidi (pimpinan GPK Warsidi) yang tidak terima atas penangkapan 5 orang pengikutnya – berusia belasan tahun– oleh Koramil Way Jepara pada Minggu 5 Februari 1989 di Sidorejo. Mereka ditangkap sekitar pukul 24.00 WIB karena kedapatan menyiapkan 53 panah beracun dan 2 ketapel untuk menyerang aparat, usai Warsidi menggelar pengajian di Umbul Cihideung (Dusun Talangsari III).

Abdullah dan Usman adalah aktivis gerakan “Usroh” pimpinan Abdullah Sungkar (pendiri Ponpes Al-Mukmin Ngruki) dan mantan guru Ngruki yang melarikan diri ke Lampung. Mereka kemudian menjadi pengikut Warsidi, dan merekrut remaja belasan tahun dari berbagai daerah sebagai jamaahnya. Asmar Latin Sani diduga termasuk salah satu jamaahnya yang mengikuti pengajian dan terlibat menyerang Pos Polisi Gunung Balak.

Dugaan keterlibatan Asmar dibenarkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) periode 2011 – 2014, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Ansyaad Mbai. “Menurut laporan anggota, Asmar pernah ditahan karena ikut menyerbu Pos Polisi di Gunung Balak. Waktu itu usianya sekitar 14 tahun,” tegas Ansyaad Mbai.

Mantan Kepala Desk Terorisme Kemenkopolhukam itu menambahkan, keterkaitan lainnya adalah Abdulah Sungkar sering berkunjung ke Jamaah Islamiah Wakalah Lampung di mana sebagian besar anggotanya adalah kelompok Warsidi, dan merupakan bagian dari kelompok Usroh Abdullah Sungkar.

Keterlibatan Asmar dalam penyerangan Pos Polisi Gunung Balak juga sempat disebut oleh Majalah Tempo edisi 17- 24 Agustus 2003, dalam berita berjudul “Memburu Anggota Wakalah Lampung”:

Dari “album” masa lampau itu menyeruak nama Asmar, yang disebut-sebut pernah ditahan karena ikut menyerbu pos polisi di gunung Balak. “Waktu itu usianya sekitar 14 tahun,” tutur seorang yang sempat ditahan dalam kasus tersebut. “Saya ingat banyak remaja seusia dia yang ikut menyerbu pos polisi atau kantor Kodim Lampung Tengah,” sumber itu menambahkan. Asmar inilah, yang boleh jadi pada waktu itu hanya “ikut-ikutan’, yang belakangan, sejak 1993, menimba ilmu di Pondok Al-Mukmin, Ngruki.

 

Nilai ujian Asmar di kelas 6 SD.

 

Kelas Jihad dan Pemikiran Radikal yang Mengkristal

Siapa yang memengaruhi Asmar sehingga memaksa ayahnya untuk disekolahkan di Ponpes Al-Mukmin Ngruki Solo? Bagaimana mulanya Asmar yang menetap di Bengkulu sampai di Lampung dan terlibat penyerangan Pos Polisi Gunung Balak? Aparat keamanan menduga Asmar sudah dibina oleh alumni Ngruki yang juga anggota Jamaah Islamiah dari Wakalah Lampung (membawahi Sumatera Bagian Selatan, termasuk Bengkulu) sejak sebelum lulus dari SDN 12 Kota Bengkulu.

Mengetahui Asmar kecewa karena hasrat kuatnya untuk sekolah di Ngruki ditolak ayahnya, sang “pembina” kemudian mengajak Asmar ke Lampung untuk “mondok” sementara waktu kepada Abdullah dan Usman (guru Ponpes Al-Mukmin Ngruki Solo yang kabur ke Lampung dan menjadi pengikut Warsidi) di Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Lampung Tengah (Lampung Timur sekarang), sebagai persiapan untuk sekolah di Ngruki. Jarak Bengkulu-Lampung sekitar 600 km dan dengan kendaraan bus umum ketika itu sudah dapat ditempuh hanya dalam waktu 15 jam.

Di desa Sidorejo inilah kemudian Asmar diduga terlibat,penyerangan Pos Polisi Gunung Balak pada Selasa 7 Februari 1989 sekitar pukul 10.30 WIB. Dalam peristiwa itu, dua aparat pemerintah gugur terbunuh; Serma Pol. Sudargo (Kepala Pos Polisi) dan Santoso Arifin (Kepala Desa Sidorejo), satu luka parah terkena panah beracun; Serda Pol. Arifin Sembiring, dan 2 pucuk pistol colt 38 direbut para penyerang.

Pada 1991, Asmar melanjutkan studi di Ponpes Al-Mukmin, Dukuh Ngruki, Desa Cemani, Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo. KMI adalah program pendidikan yang secara khusus disiapkan untuk menjadi guru. Setingkat dengan SLTA. Semua materi pelajaranya lebih ditekankan pada materi-materi agama. Lulusan ini tidak memiliki ijasah. Tetapi dapat mengikuti persamaan ujian nasional standar Departemen Agama setingkat Madrasah Aliyah sehinga dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Asmar satu angkatan dengan Muhammad Rais (anggota JI dan saudara ipar Noordin M Top yang terlibat persiapan serangan bom JW Marriot I-2003), Nur Said (pelaku bom bunuh diri JW Marriott II-2009) dan Abdul Hadi (teroris yang tewas tertembak dalam penyergapan polisi di Wonosobo).

Di Ngruki, seperti santri Ponpes Al-Mukmin lainnya, Asmar mendapat materi-materi pengajaran umum dan khusus. Pelajaran umum tidak ada bedanya dengan sekolah umum dan ponpes lainnya. Yang membedakan adalah materi khusus baik di kelas maupun di pengajian Masjid Baitulsalam yang berada di dalam lingkungan Ponpes Al-Mukmin Ngruki.

Materi khusus itu bersumber dari pemikiran para tokoh fundamentalis seperti Fathi Yakan, Sayyid Qutb, Hassan al-Banna, Said Salim al-Qahthani, Ibn Taimiyyah, Abdullah Azzam dan sejenisnya. Di antara kitabnya adalah Tarbiyah Jihadiyah, Jundullah, Ma’alim fi al-Thariq, Al-Wala’ wa al-Bara’ dan lain-lain yang efektif mewarnai alam pikir seseorang untuk menjadi “jihadis”.

Menurut M Kholid Asyadulloh, alumnus Ponpes Al Mukmin Ngruki dan Pemred Majalah Matan PW Muhammadiyah Jatim, yang mungkin agak ”membedakan” Ngruki dengan pesantren lain adalah keberadaan tema jihad (fisik) dalam mata pelajaran akidah sejak di kelas I MTs atau yang sederajat. Secara kebetulan pula, buku pegangannya adalah karya dua sosok pemberi corak khusus Ngruki, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir (Solopos.com, Jumat, 09/03/2012).

“Pembentukan pola pikir fundamentalis semakin nyaman karena Ngruki mengamalkan filosofi ikan laut yang tidak terpengaruh oleh tingkat keasinanan air laut. Ngruki cenderung menutup diri dari informasi umum dari luar, seperti televisi, radio dan surat kabar, kecuali beberapa yang telah ‘disensor’. Perpustakaan yang tersedia juga hanya menyediakan buku-buku sejenis dan sevisi sehingga tidak banyak memberikan alternatif bagi santri untuk memilih,” papar M Kholid.

 

Rumah orang tua Asmar Latin Sani di Kota Bengkulu.

 

Dari Rencana Aksi Hingga Hari “Resepsi Sang Pengantin”

Lulus dari Ngruki tahun1994, Asmar disebut-sebut sempat mengajar di Ponpes Al-Mutaqin, Lampung, selama sekitar dua tahun. Namun tidak diketahui pasti Ponpes Al-Mutaqin yang dimaksud, mengingat di Lampung terdapat tiga ponpes dengan nama yang sama di tiga lokasi berbeda. Setelah itu keberadaannya tidak diketahui.

Pasca Reformasi, sekitar tahun 2000, Asmar muncul kembali di Bengkulu. Hampir satu tahun, ia membantu ibunya menjual beras di Pasar Minggu, Kota Bengkulu. Selain itu, ia aktif berceramah di beberapa masjid, antara lain Masjid Al Suhada, sekitar seratus meter dari rumah orang tuanya di Jalan Sulawesi, Gang Damai, RT 06, Kelurahan Pengantungan, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.

Kedua orang tua Asmar, Abdul Wahid dan Marji’a, sehari-hari menjual sembako, seperti beras dan kopi bubuk di Pasar Minggu. Abdul Wahid dan Marji’a, menurut sejumlah tetangga, adalah suami-istri yang taat beribadah, namun jauh dari kesan sesat, lebih-lebih radikal. Dari pergaulan keseharian, tetangga tidak melihat adanya kejanggalan dari pikiran, ucapan, dan tindakan kedua pasangan itu. Bahkan Abdul Wahid dan Marji’a dikenal aktif kegiatan sosial keagamaan di lingkungan rumahnya.  Kini rumah kediaman mereka sudah dijual orang tua Asmar dan dihuni pemilik baru.

Pada 2001, Asmar juga sempat mengelola warung fotokopi di dekat kampus Universitas Bengkulu. Warung itu milik Aminuddin, PNS setempat, yang disewa Jhon Hendry, kakak ipar Asmar, untuk usaha fotokopi. Di waktu luang, Asmar mengajar ngaji dan menyampaikan  ceramah di sejumlah masjid, khususnya di masjid lingkungan masyarakat Minang yang tinggal di Bengkulu.

Bekas kios fotokopi tempat Asmar pernah bekerja kepada kakak Iparnya sebagai operator mesin fotokopi, kini menjadi warung laundry.

Diduga semasa bekerja di warung fotokopi milik kakak iparnya inilah, Asmar kemudian direkrut oleh Abu Tholut alias Mustopha alias Pranata Yudha (mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiah) untuk disiapkan sebagai “pengantin” di Jakarta. Dr Azahari juga sempat menemui Asmar di kios fotokopi ini.

Di penghujung tahun 2002, Asmar bertemu Noordin M. Top dan Dr Azhari di Bengkulu. Mereka mengemas bahan peledak yang diambil oleh kurir bernama Ismail dari agen bus SAN di Bengkulu. Bahan peledak itu di-packing menjadi tiga bagian yang terbungkus rapi menggunakan plastik warna putih dan diikat. Sejak meninggalkan Bengkulu, Asmar mulai diburu polisi atas sangkaan melindungi dua tersangka bom Bali, Dr Azhari dan Dulmatin.

Asmar kemudian bertemu kembali dengan Noordin M. Top dan Dr. Azhari Husain pada Januari 2003 di Bengkulu. Kali ini dihadiri pula oleh Muhammad Rais (anggota JI dan teman sekolah Asmar di Ngruki) yang baru tiba dari Dumai, Riau. Mereka mematangkan rencana aksi serangan bom di Jakarta. Ketika itu, lokasi yang dijadikan target pengeboman belum ditentukan. Sekitar Februari 2003, mereka mendapat tambahan detonator. Bahan peledak disimpan oleh Sardona Siliwangi, alumnus Ngruki dan anggota JI di Bengkulu.

Densus 88 terus memburu Noordin M Top dkk. Rais ditangkap akhir April 2003, Sardona bulan Mei. Toni Togar pada 6 Mei 2003 karena melakukan perampokan untuk mengumpulkan dana operasi. Noordin kemudian memerintahkan Ismail, anggota JI, untuk mengambil paket di Dumai yang isinya uang sebanyak 25.000 dolar Australia yang dikirim Hambali lewat kurir. Uang berasal dari Gun Gun (adik Hambali/kakak ipar Asmar) di Pakistan yang mendapat uang dari seorang Arab di Pakistan. Oleh Ismail uang dibawa ke Lampung atas perintah Noordin.

Medio April 2003, Asmar bersama Ismail bergerak ke Lampung, membawa dan menyimpan semua bahan peledak di warung fotokopi Kos Birto di Jl. Kedelai Tanjung Karang, Kota Bandar Lampung. Di tempat ini, Noordin M. Top, DR. Azahari Husin, Tohir, Ismail dan Asmar Latin Sani menguatkan rencana aksi bom di Jakarta. Sampai di sini pun, titik lokasi yang dijadikan target belum ditentukan.

Rencana aksi semakin matang. Pada pertemuan 4 Juni 2003 di Bandar Lampung,  disusun pembagian tugas, Noordin M Top (pemimpin operasi), Azhari (pimpinan lapangan), Ismail (asisten), Asmar dan Tohir pencari “safe house” (rumah aman, kontrakan), membeli mobil dan membawa bahan peledak ke Jakarta. Saat itu, Asmar menyatakan telah bersedia menjadi “pengantin”.

Pada hari yang sudah direncanakan, Selasa 5 Agustus 2003, Asmar mengemudikan mobil Toyota Kijang B 7462 ZN, meledakkan diri dan meluluhlantakkan Hotel JW Marriott, Jakarta. Dahsyatnya ledakan bom menyebabkan kepala Asmar terlempar sampai lantai lima gedung hotel. Tubuhnya hancur berserakan.

 

Ruang kelas lantai dasar yang dahulu kerap dijadikan “mushola” darurat, tempat Asmar sebagai imam menunaikan shalat dzuhur berjamaah bersama teman-temannya.

 

Senandung Asmar Latin Sani: Hikmah di Balik Musibah

Polisi memerlukan waktu sekitar 4 bulan untuk mengidentifikasi kepala dan potongan tubuh Asmar. Karena itu, jasadnya baru bisa dimakamkan pada Jumat 19 Desember 2003 di TPU Kampung Kandang, Jakarta. Prosesi pemakaman Asmar diwarnai tangis histeris Marji’a (ibu Asmar) dan Mariana (kakak Asmar) di pusara makam. Sedangkan Abdul Wahid (ayah Asmar) terduduk lemas dan membisu dengan mata berkaca-kaca.

Asmar telah pergi selamanya. Tapi ideologi yang dianutnya masih tetap “hidup” bahkan tumbuh subur di lingkungan pendidikan dan pergaulan yang menyemai paham radikalisme. Karena itu, perhatian penuh orang tua, pemenuhan kebutuhan kasih sayang, serta pembinaan mental spiritual yang memadai diperlukan untuk melindungi anak-anak Indonesia dari pengaruh radikalisme dan terorisme.

Kita berharap tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang mengalami nasib seperti Asmar akibat terpapar ideologi teroris.

Kita ingin nama Asmar Latin Sani kembali harum, seperti sejatinya lagu indah berjudul “Asmar Latin Sani” yang kerap dilantunkan umat Islam. Mari kita peduli dan ambil peran dengan mencegah muncul dan berkembangnya radikalisme di lingkungan sekitar.