BJ Habibie: Prinsip, Gagasan dan Kebiasaan Unggul Bapak Iptek Indonesia

148
views

Kehidupan Presiden Republik Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi inspirasi bangsa Indonesia.

Menyebut nama Habibie dan membincangkan berbagai pencapaian dalam hidupnya seperti menyuguhkan energi kolektif kepada bangsa Indonesia untuk melampaui keterbatasan dan tidak lagi mempertanyakan seberapa tinggi, seberapa jauh, seberapa besar, seberapa banyak dan seberapa agung hal-hal yang dapat dicapai manusia Indonesia.

Pelajar dan mahasiswa meneladani Habibie tentang bagaimana meraih prestasi puncak di sekolah dan kampus; orangtua menjadikan Habibie tokoh utama dalam cerita untuk menyemangati anaknya ketika belajar di rumah; pemerintah, masyarakat dan media kerap menyebut nama Habibie setiap berbicara tentang pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Bila hal tersulit dapat dikuasai, otomatis teknologi yang tingkat kesulitannya ada di bawahnya akan gampang dikuasai.

Dalam suatu kesempatan memberikan sambutan penutupan pada acara Penataran Pedoman Pengamalan & Penghayatan Pancasila (P-4) di Gedung Pola, Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta, di hadapan para peneliti dari LAPAN, BPPT, BATAN, LIPI dan BAKOSURTANAL, Habibie mengatakan, “Jika ingin menguasai teknologi, lebih baik sekalian kuasai teknologi yang paling sulit. Bila hal tersulit dapat dikuasai, otomatis teknologi yang tingkat kesulitannya ada di bawahnya akan gampang dikuasai. Mulai dari akhir, selesai di awal. Karenanya jika bangsa Indonesia mampu menguasai teknologi pesawat terbang, antariksa dan nuklir, niscaya teknologi pendukungnya seperti otomotif, elektronik, senjata, dan produk massal lainnya akan lebih mudah dikuasai”.

Semua orang yang berada di ruangan menyimak pernyataan Habibie dengan penuh kekaguman. Bagaimana seorang Habibie, orang teknik yang kerjanya melototi kontruksi pesawat terbang dapat mengemukakan dengan gamblang pemikiran yang brilian seperti itu. Aris Wahyudi, salahseorang peneliti radar dari LAPAN yang berada dalam ruangan itu mengulas pidato Habibie — yang patut dikenang dalam sejarah pembangunan Iptek Indonesia — pada sebuah novel teknologi berjudul Von Braun Van Java (Aris Wahyudi: 2011).

Aris Wahyudi mengatakan, “Dengan metode menguasai teknologi ala Habibie ini, berarti  kita tidak perlu membuang banyak waktu, tenaga dan biaya untuk mencipta ulang roda, tapi langsung memanfaatkan roda tersebut untuk membuat kendaraan. Itulah yang dinamakan dengan teori ‘lompatan katak’ dari Habibie, sebuah strategi yang akan membuat bangsa Indonesia mampu mengejar kertertinggalan teknologi dari negara-negara industri”.

Sejak pidatonya itu, Habibie kemudian dikenal publik sebagai teknosof, seorang ilmuwan yang mampu secara mendalam memadukan teknologi dengan filosofi. Dalam pemahaman saya, apa yang  dilakukan Habibie lebih dari sekadar memadukan, tetapi juga memaknai proses penguasaan teknologi, sehingga dapat menemukan cara yang lebih singkat dan menggunakan teknologi secara lebih baik untuk kemajuan bangsa. Penjelasan Habibie “Mulai dari akhir, selesai di awal“ bukan sekadar gagasan, metode atau strategi, tetapi ini merupakan prinsip dasar dalam meraih pencapaian di semua bidang kehidupan secara lebih baik dan lebih cepat.

Sejak mengemukakan filosofinya itu di ranah publik, kita dapat menyimpulkan Habibie telah mencapai apa yang disebut oleh penganut sufi dalam Islam sebagai maqom makrifat atau kesempurnaan. Dalam konteks Habibie berupa kesempurnaan memahami prinsip dasar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Gagasan, metode, strategi dan prinsip dasar yang dikemukakan Habibie telah membuka mata hati kita semua dari selubung batas ruang dan waktu dalam hal penguasaan pengetahuan dan teknologi. Bahwa penguasaan pada hal-hal yang paling sulit akan memungkinkan kita menjangkau pengetahuan dan teknologi dalam semua tingkat kesulitan di bawahnya. Artinya, tidak ada batas pencapaian dalam Iptek, yang membatasi hanyalah daya kemampuan kita menjangkau pemikiran.

Kontribusi Habibie dalam hal memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi diakui para pemimpin dunia. Ratusan penghargaan dalam berbagai bentuk, baik disampaikan tertulis maupun lisan pada berbagai forum internasional telah memenuhi ruang kehidupannya. Tentu saja hal ini membanggakan, ketika salahsatu putera terbaik bangsa Indonesia tercatat dalam sejarah industri dirgantara dunia.

Kepantasan Habibie sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi karena sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi diakui oleh dunia

~ SBY~

Sebab itu, ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut Habibie sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Indonesia pada pertemuan Presiden RI dengan civitas Akademi Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat Ilmu Pengetahuan Indonesia di Puspitek, Serpong, Tangerang, 20 Januari 2010, banyak orang seperti terheran-heran. Hal itu terasa wajar oleh karena sepanjang sejarah pemerintahan sejak orde baru sampai era reformasi belum pernah seorang presiden mengakui secara terbuka kontribusi Habibie dalam memajukan Iptek. “Kepantasan Habibie sebagai Bapak Ilmu Pengatahuan dan Teknologi karena sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi diakui oleh dunia,” ujar SBY.

Pernyataan serupa dikemukakan SBY untuk kesekian kalinya pada berbagai kesempatan, baik acara formal maupun informal, termasuk ketika berakhir pekan di Istana Bogor pada 28 Januari 2012. “Kita menguasai Iptek dengan mengembangkan enterpreneurship yang di dalamnya termasuk technopreneurship. Itu harapan saya di negeri ini ke depan. Saya tentu memahami pandangan dan kebijakan Pak Habibie, Bapak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kita yang masih berupaya memajukan Iptek. Sampai sekarang saya masih sering berkomunikasi,” tutur SBY.

Usai jabatan sebagai presiden berakhir, Habibie mengisi waktunya diantaranya dengan mendirikan The Habibie Center, yaitu sebuah pusat kegiatan diskusi, seminar, penelitian dan pengkajian mengenai ipktek, HAM, hukum, sosial dan demokrasi. Ide pendirian The Habibie Center berawal dari kekecewaanya saat pidato pertanggungjawabannya pada Sidang Istimewa MPR 1999 ditolak. Namun semangat juang Habibie tak pupus, ia terus menyebarkan dan menumbuhkan semangat demokrasi melalui The Habibie Center. Para tokoh yang tergabung di The Habibie Center adalah intelektual yang menghormati kebebasan akademis yang mendedikasikan diri untuk kemajuan bangsa.

Kegiatan Habibie tidak hanya terpusat pada The Habibie Center, Habibie juga dipinang lembaga Inter Action Council, yaitu sebuah forum bergengsi yang beranggotakan para mantan pemimpin negara terpilih di seluruh dunia. Organisasi ini dibentuk tahun 1983 yang digagas oleh Takeo Fukuda, mantan Perdana Menteri Jepang periode 1976-1978. Forum ini dibentuk dengan tujuan mempertemukan para mantan pemimpin negara di dunia yang telah memiliki pengalaman dan pengetahuan langsung memimpin negaranya sehingga dapat berdiskusi mengenal masalah-masalah global, terkait kelangsungan hidup manusia. Habibie merupakan Presiden Indonesia satu-satunya yang terpilih menjadi anggota Inter Action Council ini. Dalam forum ini cocok buat Habibie yang selalu memikirkan keadaan bangsa baik di dalam dan luar negeri.

Habibie mendedikasikan hidupnya sebagai Maha Karya untuk bangsa dan negaranya, untuk agama dan keluarganya, dan untuk kemajuan peradaban dunia. Belajar dari kegigihan Habibie, kian mempertebal keyakinan, bahwa siapa pun, dan bagaimana pun asal-usulnya serta keadaannya sekarang, setiap orang dapat “menjadi” Habibie berikutnya, dengan menjadikan hidup kita sebagai Maha Karya.

Kejar Kesempurnaan dalam Berkarya

Habibie adalah ilmuwan cemerlang yang tidak pernah malu untuk bertanya apabila merasa tidak tahu tentang sesuatu yang dibicarakan. Ia selalu ingin mendalami sesuatu sampai ke akar-akarnya. Sebagai ilmuwan sejati ia seorang yang idealis, perfeksionis dan keras kepala dalam berupaya memecahkan masalah.

Dalam bekerja ia menganut prinsip ”mutu ditentukan oleh setiap detail”.  Tak heran sejak kecil ia selalu mempelajari apa pun secara detail. Habibie kerap mengingatkan tim kerjanya agar selalu bersikap rasional, bertindak konsisten dan berlaku adil, hal-hal itu yang menjadi prinsip dalam langkahnya mengatasi masalah dan menyelesaikan setiap tugas.

Sebagai pemimpin, Habibie mampu membakar semangat dan memotivasi pemuda-pemudi di dalam dan di luar negeri. Gaya kepemimpinannya dibentuk oleh wataknya yang keras kepala dan selalu ingin melakukan segala sesuatu secara detail.

Semasa kecil Habibie pernah merasakan hidup sebagaimana masyarakat desa pada umumnya, didikan keras orangtua yang mengutamakan pendidikan telah membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dikala ia harus hidup seorang diri merantau ke Jakarta dan kemudian merantau ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan menengahnya.

Berbekal pengalaman masa remaja itu, Habibie sudah tak takut lagi ketika dilepas ibunya pergi seorang diri ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ke Aachen, Jerman, yang menjadi kawah candradimuka dalam membangun karier di bidang teknologi industri pesawat terbang.

Habibie selalu menginginkan kesempurnaan dalam bekerja. Dalam bekerja ia mementingkan  pengawasan dari atasan langsung ke bawahan dengan ketat agar memperoleh hasil yang memuaskan.

Sebagai ilmuwan, dia menanamkan prinsip; belajar menguasai teori itu sangat perlu, tetapi teori saja tidak cukup. Untuk meningkatkan pengetahuan penguasan teori memang diperlukan, namun untuk keterampilan nyata kita harus mempraktikan teori itu secara konkret di lapangan.

Habibie juga tidak segan mengakui keunggulan orang lain. Habibie menekankan pentingnya ”kepercayaan (credibility)” sebagai modal utama. Nama baiknya sebagai ilmuwan menunjukkan sikap dan nilai karakter: mengutamakan kebenaran, kejujuran, ketelitian, ketekunan, kepolosan, kesederhanaan, keterbukaan, tidak lekas percaya pada orang yang tak jelas sumbernya, percaya pada diri sendiri, tidak memihak dan tidak fanatik pada sesuatu hal.

Bagi Habibie, sikap saling percaya akan membuat hidup semakin nyaman dan terasa lebih mudah, karena dasar kepercayaan merupakan unsur kesatuan sikap dan nilai yang melahirkan satu kesatuan pemikiran yang sama. Sikap dan nilai yang sama akan melahirkan ’pra anggapan’ dan ’batasan-batasan’ yang sama pula.

Dalam bekerjasama dia punya prinsip ”bekerjasama dengan yang besar dan kuat akan membuat segalanya lebih mudah. Bekerjasama dengan yang besar dan kuat juga menjadi lebih aman, karena mereka sudah punya nama besar dan bisa dipercaya”.

Selain itu, dalam bekerja kita harus total, tidak boleh setengah-setengah, Habibie menunjukkan kebiasaanya yang selalu memberikan segalanya: kepandaiannya, tenaganya, dan seluruh waktunya.

Habibie berprinsip, untuk meraih kesuksesan tidak penting banyak bicara, yang penting adalah bagaimana kita menunjukkan prestasi dan mutu dari apa yang kita kerjakan. Selain itu kita juga harus memiliki karakter yang teguh pada pendirian dan memiliki komitmen pada ilmu, komitmen pada negara dan bangsa, komitmen pada keluarga dan komitmen pada pekerjaan dan rekan-rekan seperjuangan.

Ir. Djermani Sandjaja, salah satu kawan Habibie yang bersama-sama berangkat ke Jerman untuk menuntut ilmu, mengenang Habibie sebagai sahabat yang dianugerahi Tuhan suatu kelebihan otak yang cemerlang. Ada tiga hal yang dimiliki oleh Pak Habibie, yaitu logika, intuisi dan visi.

Jenderal (Purn) Dr. Awaloedin Djamin, Mph (mantan Kepala Kepolisian Negara, Menteri Tenaga Kerja dan Duta Besar RI di Jerman Barat) menyebut Habibie sebagai kombinasi antara keahlian teknologi dan kemahiran manajemen dengan pengalaman yang terus berkembang. Hal ini digunakan Habibie dalam mengemban tugas sehingga mencapai kesuksesan.

Presiden perusahaan penerbangan MBB Dr.Bolkow, seperti dikutip oleh Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, mengangggap Habibie sebagai seorang yang unik.  Ketika Habibie diangkat sebagai Wakil Presiden MBB, ia sudah menghasilkan banyak temuan di bidang teknologi dirgantara. Diangkatnya Habibie sebagai Wakil Presiden di perusahaan MBB sebagai bukti bahwa karya dan pikiran orang Indonesia diakui oleh perusahaan raksasa.

Mantan menteri Urusan Ekonomi Kerjaan Belanda Dr.G.M Van Aardene -yang pada 1986 sering bertemu dengan Habibie – menyebut Habibie sebagai seorang arsitek pembangunan teknologi Indonesia.  Kegairahan dan energinya bernilai tinggi untuk Tanah Air Indonesia dan dunia.

Mengenai keberhasilannya meraih prestasi tertinggi ketika menempuh studi S-3 pada 1964, Habibie mengatakan, modalnya hanya kertas, pensil dan otak. ”Namun untuk mencapai prestasi atau cita-cita, yang kita butuhkan adalah cinta dan doa. Kita harus mencintai pekerjaan dan tidak lupa selalu meminta doa orangtua dan keluarga,” ujarnya. Habibie mengakui kesuksesannya tidak lepas dari doa ibu, istri dan keluaga besarnya.

Rudy Habibie

Berusaha Pahami Setiap Detail

Sosoknya dikenal sebagai orang yang serba sempurna dan berusaha mengetahui segala sesuatunya secara detail. Saking detailnya untuk urusan hal-hal yang dianggap temannya sebagai sesuatu yang remeh atau kecil, justru oleh Habibie dianggap sebagai sesuatu yang penting.

Habibie memegang prinsip orang Jerman,”Wer den pfennig nicht ehrt, auch des talers nicht wert!”, yang dalam bahasa Indonesia berarti: ”Barang siapa yang tidak menghargai yang tampaknya kurang satu pfenning (uang pecahan terkecil di Jerman), maka dia pun tidaklah pantas untuk memiliki atau menguasai satu taler atau dua setengah deutsch mark, zaman dahulu”.

Prinsip ini diterapkan Habibie dalam kehidupannya. Ia selalu menghargai segala sesuatu sampai detail. Tak heran jika Habibie menguasai persoalan sampai terinci sehingga memudahkannya dalam mengambil keputusan, tepat sasaran dan efisien.

Kebiasaan Habibie yang berhasrat mengetahui segalasesuatu dengan rinci membuat stafnya selalu berhati-hati dalam menyampaikan laporan. Tentunya akan berbahaya apabila laporan yang disampaikan dengan data tidak lengkap dan akurat. Mereka paham sekali, Habibie tidak suka dengan laporan yang bersifat ”asal bapak senang”.

Habibie kerap mengingatkan kesempurnaan itu tidak datang dengan sendirinya. Kesempurnaan itu harus diupayakan dan harus dinilai. Ia mengutamakan ”konsentrasi penuh”, terutama menyangkut pengendalian dan pengawasan mutu, jadwal, biaya. Semua yang dikerjakannya atau dikerjakan anak buahnya selalu diteliti sendiri sampai sedetail-detailnya.

Bagi Habibie inti kehidupan adalah komitmen pada ilmu, negara, bangsa, anak, istri keluarga, rekan-rekan seperjuangan. Komitmen itu mutlak: ya atau tidak. Kalau setengah-setangah, lebih baik jangan dilakukan.

Komitmen yang diinginkannya tidak berarti stafnya harus selalu membeo pada apa yang ia katakan. Mereka harus memiliki keyakinan sejati yang diperoleh dari perpaduan pikiran dan perasaan. Kesatuan pikiran dan perasaan antara staf dengan Habibie akan memudahkan segalanya.

Habibie tidak pernah melanggar hirarki dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu wibawa orang lain. Hubungannya antara dirinya dengan anak buah selalu terpelihara dengan baik. Gaya kepemimpinan Habibie mengarah pada model kepemimpinan bisnis modern.

Habibie & Ainun

Ibadah Shalat sebagai Sumber Kekuatan

Ibarat baterai, energi manusia juga perlu di-charge (diisi), diberi kekuatan. Bagi Habibie, ibadah shalat adalah sumber kekuatan. Dari shalat itu, ia memperoleh ketenangan dan kejernihan pikiran.

Sepanjang kariernya, ke mana pun ia bepergian tidak pernah lupa membawa tasbih. Ia berupaya menjalankan shalat di masjid mana pun yang berada dekat dengannya. Habibie selalu ingat petuah ayahnya agar ia tidak meninggalkan shalat lima waktu dan mengaji. Bahkan, ia kerap terkenang peristiwa ketika ayahnya meninggal dunia dalam posisi sujud saat sedang menunaikan ibadah shalat Isya.

Di tengah kesibukannya bekerja, sang ibu mengingatkan agar Habibie sempatkan diri menunaikan ibadah umrah bersama anak dan istrinya. Permintaan ibu dikemukakan pada Duta Besar Indonesia di Jeddah, H. Achmad Tirtosudiro. Akhirnya jadwal umrah diatur, Januari 1983 Habibie beserta istri dan Thareq menjalankan ibadah umrah, sementara Ilham harus menyusul dari Jerman menuju Mekkah.

Usai umrah, Habibie sempat mengemukakan niatnya untuk  beribadah haji pada musim dingin. Sebelum niatnya terlaksana, pada 1984 raja Arab Saudi Abdul Aziz berkunjung ke Indonesia yang terkagum-kagum pada sosok Habibie sebagai seorang muslim yang sukses membangun industri penerbangan berteknologi tinggi di Indonesia.

Tak lama dari kunjungan King Abdul Aziz, Habibie sekeluarga mendapat undangan menjalankan ibadah haji gratis. Artinya ia tak perlu menunggu waktu 10-12 tahun untuk menjalankan ibadah haji. Berkat undangan Abdul Aziz itu Habibie sekeluarga dapat menjalankan ibadah haji lebih cepat dari rencananya.

Setahun usai menjalankan ibadah umrah, Habibie beserta istri, ibu, ibu mertua dan keluarga besarnya menunaikan ibadah haji bersama difasilitasi King Abdul Aziz. Fasilitas penginapan dan pesawat pulang pergi semua sudah disiapkan. Ini adalah berkah tak terhingga yang diperoleh Habibie sekeluarga. Kembali dari ibadah haji, ia semakin bertambah khusyuk dalam menunaikan ibadah wajib shalat lima waktu.

Cermin Pribadi Unggul

Banyak orang menilai Habibie adalah manusia langka yang super jenius. Terlebih keilmuwan Habibie diakui dunia. Dr. Bolkow, Presiden Messerschmitt Bolkow Blohm (MBB) – industri pesawat terbang terkemuka saat itu- yang merekrut Habibie mengakui kemampuan Habibie sangat tinggi. Ia meminta Habibie bergabung di MBB dengan pertimbangan Habibie adalah insinyur unik yang memiliki masa depan cerah.

Rekrutmen terhadap Habibie oleh MBB didasarkan kriteria dan penilaian yang ketat ditinjau dari segi prestasi dan dedikasinya. Selain itu juga penelitian atas karakter Habibie yang diperoleh dari data ayah, ibu, kota kelahiran, lingkungan tempatnya dibesarkan, guru-guru, teman-teman, jenjang pendidikan yang berhasil diraihnya.

Ludwig Bolkow sampai berkelakar, ”untuk menemukan manusia seperti Habibie dibutuhkan waktu ratusan tahun”. Selain pintar dan unik, Habibie memiliki daya ingat yang kuat. Ia mampu menyimpan memori kenangan bersama teman-temannya, yang kadang teman-temannya sendiri bahkan sudah ada yang tak mengingat lagi kapan dan di mana peristiwa itu terjadi. Hal-hal kecil juga tak luput dari ingatan Habibie.

Wardiman Djojonegoro pernah dibuat terkejut oleh Habibie. Wardiman sedang belajar bahasa Perancis menggunakan kaset ketika Habibie muncul di hadapannya. Ketika suatu saat mereka bertemu kembali—Habibie mampu mengulang isi kaset yang Wardiman dengarkan. Rupanya diam-diam Habibie ikut menyimak pelajaran yang didengarkan Wardiman lewat kaset yang diputarnya keras-keras dari dalam kamarnya itu.

Keluarga Habibie

Di Balik Kecerdasan, Ada Seni Mengendalikan Pikiran

Selain berotak encer, dengan kecerdasan di atas rata-rata di sekolah terutama untuk mata pelajaran matematika dan fisika, Habibie juga memiliki talenta seni. Lewat bernyanyi ia melepaskan keletihan berfikir dan bekerja. Dengan menulis puisi ia meneguhkan komitmen diri untuk terus belajar, bekerja dan berkarya.

Habibie juga penikmat karya lukisan. Sebagian besar dinding di kediaman pribadinya di Patra Kuningan, Jakarta, dipenuhi lukisan karya pelukis terkenal. Ia juga penikmat puisi karya Chairil Anwar.

Habibie seorang yang pantang mengeluh pada orang lain, siapa pun itu. Apakah itu berarti ia tidak pernah mengalami kesulitan, kegetiran dan penderitaan sebagai seorang manusia?. Tentu saja ia sama seperti manusia pada umumnya, hanya bedanya ia memiliki kemampuan mengendalikan pikiran sehingga dapat melampiaskan keletihan, kepasraan, dan semangat pantang menyerah pada cara yang positif, salahsatunya dengan menulis puisi.

Banyak sudah karya puisi yang dibuat Habibie disela-sela kesibukkan kerja dan aktivitasnya yang menumpuk itu. Di antaranya, yang paling ngetop dan kerap dikutip banyak orang adalah puisi yang ditulis Habibie saat dia sakit keras dan terbaring di klinik kampus di Jerman, akibat penyakit influenza akut yang hampir merengut nyawanya saat hendak menggelar Seminar Pembangunan. Puisi itu berjudul ”Sumpahku!”

SUMPAHKU

 

Terlentang!!!

Djatuh!

Perih!

Kesal!

 

Ibu pertiwi!

Engkau pegangan

Dalam perdjalananku

 

Djanji pusaka dan sakti

Tanah air tumpah darahku

Makmur dan Sutji

 

Hantjur badan

Tetap berdjalan

Djiwa besar dan sutji

 

Hantjur badan

Tetap berdjalan

Djiwa besar dan Sutji

 

Membawa aku

Padamu !!!

 

Ketika hendak meluncurkan prototipe N-250 di lapangan upacara di Hanggar Gedung IPTN di Bandung, Habibie masih menyempatkan diri menulis bait-bait ah puisi karena merasa tidak puas dengan isi dan narasi puisi yang sebelumnya dibuat oleh panitia. Dalam waktu lima menit, Habibie mencipta puisi berjudul ”Generasi Penerus”:

GENERASI PENERUS

 

Padamu ibu pertiwi

Padamu pahlawan

Padamu pejuang

 

Dikenal maupun tidak dikenal

Terimalah persembahan kami

Generasi penerus

Karya kami teknologi canggih

 

Umat manusia

Kami kuasai

Kami miliki

Kami kembangkan

Kami kendalikan

Mandiri..

 

Untukmu Ibu pertiwi

Meneruskan perjuanganmu

Masyarakat Indonesia

Adil dan makmur

Berdasarkan pancasila UUD ’45

 

Pembangunan

Berkesinambungan

Dengan semangat

Tekad

Tak mengenal lelah

Tak mengenal menyerah

 

Semangatmu

Pahlawan, pejuang bangsa

Di bumi Indonesia

Di alam baka

 

Kami lanjutkan

Sepanjang masa

Ainun, kekasih dan pasangan hidupnya, beberapa kali menemukan coretan puisi di belakang berkas lembaran pekerjaan Habibie. Semua puisi-puisi karya Habibie mengungkapkan kecintaannya pada Indonesia. Melalui puisi, Habibie mencurahkan kegigihan, kesungguhan dan tekad untuk terus berbuat nyata dalam memajukan bangsa.

Rendah Hati dan Suka Menolong

Bagi Habibie, tidak ada perbedaan teman kaya dan miskin. Semua bisa menjadi teman dekatnya. Ia seorang teman yang rendah hati dan sederhana. Ia mudah bergaul dengan siapa saja tanpa memandang status sosial dan ekonominya.

Habibie bergaul dengan semua orang, mulai duta besar, guru sekolah, dosen, petugas penyapu jalanan, wartawan dan karyawan. Ketika kuliah, seorang profesor yang kerap disebut ”profesor killer” pun dengan mudah didekati olehnya. Kelak di kemudian hari, sang profesor menjadi teman Habibie untuk berdiskusi panjang yang kadang membuat mahasiswa lain jemu mendengarkan perdebatan mereka.

Raut wajahnya yang serius jika sedang belajar membuat orang salah mengira bahwa dia jauh dari sifat humoris. Kenyataannya Habibie kerap menjadi guyonan baik di sekolah mau pun di kampus. Kecuali, ketika sedang serius belajar, Habibie fokus pada pelajarannya dan selalu menolak halus ajakan teman-temannya untuk bersenang-senang menikmati hiburan malam di luar rumah.

Semasa studi di Jerman, setiap akhir pekan, ketika sebagian teman-temannya mengisi malam Minggu di klub malam, Habibie justru mengurung diri di dalam kamar. Ia sibuk belajar dan tenggelam di antara tumpukan buku. Begitu juga saat liburan panjang tiba, ketika teman-temannya asyik berlibur keluar kota, Habibie justru berada di dalam kota di rumah pondokan dan memilih mengikuti kuliah tambahan.

Sifatnya menonjol lainnya dari sosok Habibie adalah rasa percaya pada diri sendiri dan tegas pada setiap tindakan dan perkataan. Bahkan dalam hal berjanji ia selalu berusaha memenuhi janji yang pernah diucapnya. Tentang hal ini ada cerita menarik.

Pada 1954, Kengki, salah seorang temannya sedang berada di dekat Masjid Al Azhar Jakarta ketika Habibie menyapa. ”Dari mana kau?”.

Tiba-tiba Habibie berkata dalam bahasa Jerman dengan mata berapi-api,”Ik ga met jou nee (saya ikut dengan kamu)”.

”Kau tunggu di sana, saya menyusul”.

Benar saja, pada Mei 1955, Kengki yang baru selesai kuliah dan hendak pulang ke rumah di Limburgerhof, kota Aachen, bertemu kembali dengan Habibie yang muncul di hadapannya dan melompat sambil berkata,”hier ben ik .. ha .. ha .. ha”. (Ini saya datang menyusul, ha ha ha). Begitulah cara nyentrik Habibie memenuhi janji yang pernah dia ucap di hadapan temannya.

Satu lagi sifat asli Habibie yang begitu dikenali oleh teman-temannya, yaitu ringan tangan atau gemar menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Sudah tak terhitung orang yang mendapatkan bantuan Habibie atau pun Ainun.

Demi menolong sesama, Habibie dan Ainun mendirikan Yayasan Amal Abadi Orbit untuk membantu anak-anak berbakat tetapi kurang mampu dengan memberikan beasiswa untuk memenuhu cita-cita belajar mereka.

Suatu saat ketika berada di toilet sedang cuci muka, Habibie berjumpa teman sepermainan di masa kecil. Teman bermain kelereng di kampung Labukkang, Parepare itu sudah menjadi Pamong Praja. Habibie disapa dengan nama panggilan kecilnya di Parepare yaitu,”Udding”. Sebagai ungkapan rasa senangnya bertemu teman masa kanak-kanaknya itu, Habibie memberikan sang teman hadiah berupa ”biaya menunaikan ibadah haji”.

Saat pulang kampung ke Sulawesi, Habibie menyempatkan diri berkunjung ke desa kecil Lanra’e, membangun masjid di tengah sawah dengan suasana alam pedesaan. Bantuan yang diberikan Habibie sebagai rasa terimakasihnya kepada warga di desa kecil ini karena keluarganya pernah diberikan tumpangan tinggal selama masa pengungisan saat tentara Jepang menyusup ke kota Parepare.

Bagi Habibie memberikan bantuan kepada orang lain tidaklah mudah, karena bisa jadi bantuan yang diberikan itu dapat menyinggung perasaan orang lain. Karena itu, ia selalu bersikap hati-hati sebelum memberikan bantuan atau hadiah kepada orang yang ingin dibantunya.

 

Ramah, Hangat dan Bersahabat

Dr. Ir. Said D. Jenie terkagum-kagum pada Habibie. Habibie baginya seorang yang ramah, hangat dan bersahabat. Dalam jiwa Habibie terdapat sifat seorang pendidik atau guru, di mana ketika berusia 37 tahun Habibie mampu memimpin rombongan teknolog pesawat terbang Jerman dalam rangka persiapan pembangunan industri strategis di Indonesia.

Dr Said terkesan dengan Habibie yang mengurai rencana pembangunan industri penerbangan di Indonesia dengan visi jauh ke depan yang dijelaskan secara ilmiah berkaitan dengan teknologi rancang bangun konstruksi pesawat terbang saat memberikan ceramah di kampus ITB.

Habibie sangat terbuka dalam berdiskusi membicarakan semua masalah, bahkan secara detil dia akan menjelaskan mengenai prinsip-prinsip dasar fisika dan matematika. Habibie mampu mencetuskan ide besar, sekaligus merancang dan mengaplikasikan idenya.

Sebagai profesor, tentu saja ia mampu menguraikan pemikirannya secara detail, tanpa menyebabkan lawan bicara merasa digurui namun membuat siapa pun yang mendengarkan penjelasannya terkagum-kagum.

Habibie adalah inspirator, promotor dan transformator utama dalam pembangunan masyarakat, yang hidupnya didedikasikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meniadakan kebodohan dan mengentaskan kemiskinan.

Kepada kader-kader generasi penerus perjuangannya, Habibie mengingatkan:

(1). Trust is good, but check is better. Pesan ini mengandung makna untuk saling percaya pada semua disiplin keilmuan namun harus selalu melakukan pemeriksaan agar tercapai kondisi check and balance.

(2). Memeriksa setiap detail dari persoalan yang menjadi masalah. Popok permasalahan terdalam dari masalah itu sendiri. Jadi penting untuk selalu mengetahui detail tiap kali menyelesaikan tugas kantor atau pekerjaan.

(3). Angka bisa dipermainkan, tetapi kita tidak bisa mengingkari hukum alam.

Prinsip ini diterapkan Habibie dalam merancang dan merakit pesawat terbang.  Ukuran, bentuk dan desain pesawat yang indah belum tentu memenuhi kaidah hukum aerodinamika dalam menghasilkan karakteristik terbang yang kita inginkan. Pesan-pesan ini terbukti berdampak positif dalam peningkatan mutu SDM yang dilakukan Said Jenie saat mendidik kader pekerja di IPTN dan ITB.

 

Cinta Produk Karya Bangsa Sendiri

Dalam berpakaian, Habibie bukanlah seorang yang mengejar merek. Ia memiliki penjahit khusus untuk keluarga besarnya, yakni Teddy Kurniawan. Teddy adalah generasi ketiga dari usaha jahit Djiefen Tailor.

Teddy menuturkan, dalam setahun ia kerap dipanggil sebanyak 6 kali untuk mengukur baju Habibie dan keluarga. Biasanya Habibie memesan 2 jas dan 3 pakaian kerja. Selain membuatkan pakaian baru, Habibie juga kerap memintanya memvermak celana blue jeans, kemeja batik, overcoat dan menambah bordiran pada baju-baju tertentu untuk dibuatkan insial Habibie di dada kiri bajunya.

Hampir sebagian besar pakaian yang digunakan Habibie adalah rancangan Tedy. Pernah Habibie bercerita pada Teddy bahwa teman-temannya mengira pakaian yang dikenakannya itu buatan Broini, Italia. Teman-temannya tidak percaya kalau pakaiannya itu adalah buatan penjahit dalam negeri. Untuk membuktikan pakaiannya itu buatan dalam negeri, Habibie memperlihatkan kerah dalam bajunya yang tertulis merek ”Djiefen”. Setelah melihat merek itu barulah teman-teman Habibie percaya.

Tak hanya soal baju, sepatu Habibie  pun buatan dalam negeri dari pengrajin Cibaduyut. Dengan bangga, Habibie memperlihatkan kepada temannya apa yang dipakainya adalah buatan dalam negeri. Habibie sangat menghargai produk dalam negeri. Ia lebih suka membeli produk dalam negeri ketimbang membeli produk luar negeri karena itu berarti dia membayar tenaga orang luar negeri, sementara karya putera-puteri Indonesia tidak kalah kualitasnya.

Meskipun banyak penjahit dalam negeri yang terkenal, Habibie tidak mudah untuk berpaling ke penjahit baru. Pendiriannya begitu kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal baru. Selain membuatkan baju untuk Habibie, Teddy juga membuatkan baju untuk Ainun, Ilham dan Thareq.

Kadang Habibie membeli baju dari luar negeri dengan model baru tetapi tidak untuk dipakainya, baju itu diberikan pada Teddy untuk dipelajari. ”Coba kamu rombak, pelajari dan tiru dengan perubahan-perubahan yang lebih baik” kata Habibie yang menasehatinya agar mau mempelajari hal baru yang di dapat dari teknik menjahit baju buatan orang lain.

Habibie menganggap Teddy sebagai keluarganya. Tak jarang Teddy diajak meninjau lokasi industri strategis yang dipimpinnya. Habibie selalu dekat dengan orang-orang yang banyak membantu keluarganya. Ketika ayah Teddy terkena kanker, Habibie membantu memberikan dua kotak obat kanker yang dikirim dari temannya di Jepang.

 

Puasa Senin-Kamis dan Makan Sederhana

Sutinah adalah petugas dapur yang paling lama bekerja pada keluarga Habibie, sejak 1989. Sehari-harinya Sutinah bertugas memasak. Saking lamanya bekerja pada keluarga Habibie, ia sangat paham selera masakan kesukaan keluarga Habibie.

Pantangan dalam memasak di keluarga Habibie adalah tidak boleh keasinan atau kemanisan. Sejak dinihari antara pukul 03.00 atau 04.00, Sutinah bangun dari tidur dan menyiapkan menu sarapan untuk Habibie dan istri. Terutama setiap hari Senin dan Kamis, ia wajib menyiapkan sahur untuk Habibie dan Ainun yang rajin berpuasa Senin-Kamis.

Makanan kesukaan Habibie untuk sarapan pagi, kalau sedang tidak berpuasa adalah telor rebus, roti dan kopi. Itu jika Habibie sempat sarapan di rumah. Sebaliknya kalau tidak sempat, biasanya Habibie sarapan roti di dalam mobil atau di kantor. Soal sayuran, Habibie paling suka makan sayur asam, sayur wuluh jipang, sayur lodeh, dan pengganti nasi biasanya makan lontong. Pada hari Minggu menu istimewanya adalah bubur Manado.

Habibie jarang makan siang, biasanya lebih suka makan malam. Menu masakan buatan Sutinah yang paling disukainya adalah sop ikan bandeng, goreng ikan asin, goreng ikan gereh, sayur dan sambal terasi.

Sutinah merasa nyaman berpuluh tahun bekerja untuk keluarga Habibie. Hal itu terutama karena Habibie dan Ainun tidak rewel dengan makanan. Apa saja masakan yang disukai Ainun, Habibie pasti suka juga. Sutinah juga mendapatkan ilmu memasak dari Ainun.

Yang mengharukan Sutinah adalah perhatian Habibie pada keluarganya, terutama ketika pada 1994 ia dan suami ”dibekali” Habibie dana ibadah haji. Begitulah cara Habibie mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang tulus melayani keluarganya sejak lama.

 

Otak dan Hati Menyatu

Habibie menjadi idola keluarga Indonesia, bahkan banyak keluarga yang menginginkan putra mereka seperti Habibie. Tidak sedikit ibu muda yang baru melahirkan anak menyematkan nama ’Habibie’ pada anak mereka, dengan harapan kelak anaknya akan sepintar idola mereka, Profesor Habibie.

Banyak remaja yang mengirim surat dan menanyakan apa saja resep agar mereka bisa sepintar Habibie. Pada pertengahan 1990 di suatu acara di Jerman ada seorang anak muda dari Indonesia yang sedang mengambil program doktor mendekati Habibie dan menunjukkan sebuah buku diktat bahan kuliah Habibie semasa kuliah di Jerman.

Sebagai kenang-kenangan, anak muda itu meminta Habibie membubuhkan tanda tangan di buku diktat yang diperolehnya dari seorang profesor, yang juga pembimbing Habibie ketika studi di Jerman, padahal kini tak ada satu pun buku diktat bekas pelajarannya di Jerman yang dia simpan. Jadi hanya satu-satunya jejak buku diktat yang tersisa ada pada anak muda itu!

Ketika Habibie memberikan orasi ilmiah di Universitas Islam Negeri pada Maret 2011 Rektor UIN berkelakar,”Habibie itu pintar karena orangnya pendek, makanya dengan mudah hati dan otaknya nyambung”. Kelakar itu disambut tawa lepas para mahasiswa yang menghadiri acara itu.

 

Hobi Memasak

Terlahir dari keluarga sederhana, Habibie terbiasa mensyukuri makanan apa adanya yang tersedia. Bicara soal makanan dia paling suka dengan menu makanan sehari-hari yang pada umumnya dimakan oleh keluarga Indonesia.

Makanan kegemarannnya sejak kecil adalah bubur Manado, bubur yang dicampur dengan sayur bayam, labu merah dan kacang merah yang dimakan panas-panas serta menu tambahan ikan asin kakap. Ia juga menyukai sambal yang diulek di atas cobek.

Ikan adalah salah satu makanan favorit Habibie. Mulai dari ikan asin peda, ikan bakar Jambaran. Semua jenis makanan khas daerah tak luput dari incaran Habibie untuk dicicipi. Seperti makanan khas Makassar berupa putu cangkir yang merupakan makanan kenangan masa kecilnya. Atau Gogoso (gogos) sejenis lemper tanpa isi ala Bugis yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dipanggang. Aroma daun pisang hangus ini yang mengundang selera Habibie untuk mencicipinya ketika ada kesempatan berkunjung ke Makassar.

Makanan di masa kecil adalah kenangan yang tak dapat ia lupakan. Tak heran banyak pegawai staf hotel tempatnya menginap jika sedang berkunjung ke suatu daerah sering dibuatnya kelabakan karena permintaan Habibie akan jenis makanan masa kecilnya itu.

Habibie juga pandai memasak. Kepandaian memasak ini didapat dari pengalamannya hidup seorang diri sewaktu menjadi mahasiswa di luar negeri. Karena hidup berjauhan dari ibunya, praktis Habibie belajar memasak makanan yang diinginkannya. Begitu juga dengan teman-teman pondokannya, mereka biasa memasak bersama-sama dan menyantap bersama pula.

Habibie dan teman-teman pondok bergantian memasak untuk makanan mereka sehari-hari. Terkadang ia unjuk kebolehan dalam memasak makanan khas Indonesia. Menu andalannya adalah rendang, nasi goreng, mie kuah dan ikan tuna dengan bumbu maggie.

 

Badan Boleh Kecil, Tapi Akal Harus Besar

Berperawakan kecil kerap membuat Habibie dikira masih kanak-kanak. Ceritanya, ketika pertama kali naik pesawat menuju Jerman Barat, Habibie dikira penumpang lain sebagai anak-anak yang sedang berlibur. Padahal Habibie saat itu tengah memulai perjalananya menimba ilmu ke luar negeri.

Begitu pula saat Habibie dan mahasiswa Indonesia di Aachen ramai-ramai pergi menonton bioskop, Habibie sempat ditolak masuk oleh petugas bioskop dengan alasan masih di bawah umur. Habibie sempat marah dan diledek pula oleh teman-temannya agar menunggu di luar bioskop lantaran wajahnya seperti anak-anak.

Habibie tak putus asa. Ia mencari akal agar diperbolehkan masuk bioskop dengan cara menunjukkan kartu mahasiswanya yang mencantumkan usianya saat itu 19 tahun. Setelah itu barulah ia diperbolehkan masuk bioskop dan menonton film bersama teman-temannya.

Ibu pondokan di Jerman tempat tinggalnya pun menganggap Habibie masih anak kecil yang perlu penjagaan dan pengawasan dan diminta harus sudah sampai di pondokan pukul 10 malam. Pernah suatu hari dia belum pulang di atas pukul 10 malam, ibu Wirtin dibuat kerepotan dan sempat memanggil polisi untuk mencari Habibie yang belum pulang karena asyik belajar di kampus.

Pejabat senior Jepang yang sudah berumur berbisik-bisik dan menyebut Habibie lebih pantas menjadi cucunya. Peristiwa itu terjadi pada saat Habibie menjadi Penasihat Direktur Utama Pertamina dan Penasihat Presiden RI Bidang Teknologi. Ketika itu Habibie berusia 37 tahun, rambutnya lebat dan sedang menyampaikan pidato sambutan di hadapan para senior pejabat Jepang yang memberikan penjelasan.

Mantan Menteri Luar Negeri Jepang Saburo Okita di sebuah acara di Tokyo pun berkelakar tentang Habibie, ”ia lebih pantas menjadi cucu”.