Boy G. Rahman: Dari Kerani Tanjung Perak Jadi GM, Kisah tentang Karir, Cinta, Uang dan Persaudaraan

0
1570
views

Tanjung perak tepi laut…

Siapa suka boleh ikut…

Bawa gitar keroncong piul…

Jangan lupa bawa anggur…

Tanjung perak tepi laut…

Penggalan lirik lagu yang dibawakan maestro keroncong Waljinah itu, mengabadikan keceriaan dan kegembiraan orang-orang di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.  Pada suatu waktu ketika denyut jantung kehidupan di sana begitu hidup, dengan warung kopi dan beragam kuliner berjejer menghadap ke laut, orang-orang Perak dan wisatawan bersantai melepas letih dan penat dengan menikmati kopi, kudapan, seraya memandangi panorama indah birunya laut. Lagu itu berhasil membentuk citra Tanjung Perak sebagai obyek wisata. Setidaknya gambaran itulah yang muncul di benak banyak orang ketika menyebut nama Tanjung Perak; tempat bersenang-senang untuk semua orang.

Tapi tidak bagi Boy G. Rahman. Setiap kali menyebut nama Perak, ia terkenang pahit getirnya kehidupan ketika pertama kali menginjakkan kaki ke pelabuhan internasional itu; tidur di halte, mengantre untuk mendapatkan pekerjaan, menjadi pencuci piring dan bekerja serabutan  untuk ditukar dengan tempat berteduh dan sesuap nasi. Semuanya demi bertahan hidup di rantau. Berbeda dengan banyak orang, ia tak sempat nongkrong dan menikmati keindahan di sudut Perak, sebaliknya bekerja keras tanpa mengenal lelah dan kalah, berjuang hari ini untuk hari esok yang lebih cerah.

Dalam perjalanannya, berkat kerja tulus, trengginas dan tuntas selama sekitar tiga dekade, dibentuk dan ditempa kehidupan keras Tanjung Perak, berkarir dan berkarya dengan penuh disiplin di perusahaan Jepang Ajinomoto, Boy G. Rahman kemudian menjadi sosok tangguh, rendah hati dan gemar melayani. Buah kerja keras dan kebaikannya ia nikmati hari ini, mendapat amanah tugas yang lebih besar sebagai General Manager PT Berkah Aneka Laut (PT BAL), membantu H. Sunarto Sholahudin selaku Presiden Direktur PT BAL dalam mengelola, mengembangkan dan memajukan perusahaan, demi menyejahterakan karyawan dan berkontribusi pada perekonomian bangsa dan negara Indonesia.

Menjalani hidup dengan prinsip bekerja melampaui harapan dan keinginan pimpinan, gemar berbagi dan menjalin persaudaran dengan semua orang, membuat nama Boy G. Rahman tanpa disengaja melambung ke panggung nasional, khususnya sejak ditugaskan oleh Kusnanto, SE, CCPS (Anto Jangkar) Ketua Umum Ikatan Pengusaha Muda Indonesia (IPMI) untuk membantu memajukan organisasi sebagai Wakil Sekretaris Jenderal IPMI, agar manfaat keberadaan IPMI lebih terasa bagi anggota, dan bagi bangsa dan negara.

Bagaimana bisa kerani Tanjung Perak dan pencuci piring itu akhirnya menjadi general manager perusahaan perikanan nasional dan pengurus pusat organisasi pengusaha? IndonesianBiography.com mengungkap cerita inspiratif perjalanan hidup, pemikiran dan karya Boy G. Rahman bertajuk “Dari Kerani Tanjung Perak Jadi GM, Kisah tentang Karir, Cinta, Uang dan Persaudaraan”.

H. Sunarto Sholahudin, Presiden Direktur PT Berkah Aneka Laut (BAL)
salam komando dengan Boy G. Rahman, General Manager PT BAL, berlatar
pabrik pendingin ikan (cold stored) PT BAL di Probolinggo, Jawa Timur.

Dari Pasuruan ke Surabaya, Pahit Getir Kehidupan Seorang Kerani

Medio Mei 1990, hanya berbekal ijazah SMA dan satu tas berisi beberapa potong pakaian, Boy G. Rahman berangkat dari Pasuruan ke Surabaya, dengan harapan sederhana; mendapat pekerjaan di kota. Seorang teman yang pernah bekerja sebagai juru hitung (kerani) mengantar Boy ke Pelabuhan Tanjung Perak dan kembali ke Pasuruan, meninggalkan Boy dengan segenap asa, setidaknya dapat mengikuti jejak temannya dengan menjadi kerani.

Pukul 14.00 di Tanjung Perak, Boy mengamati anak-anak muda mengantre untuk diseleksi, sebelum kemudian dipekerjakan sebagai kerani.  Ia ikut mengisi buku pendaftaran dan mendapat nomor antrean 38. Hingga sore tak ada panggilan. Tiba-tiba pukul 17.00, pihak perusahaan mengumumkan kapal tidak jadi sandar, tidak ada aktivitas hari ini, semua pendaftar dipersilahkan pulang dan diminta kembali esok pukul 05.00 subuh. Mereka diberi uang selembar lima ribuan, lalu bubar, pulang ke rumah masing-masing. Boy satu-satunya pemuda yang tidak pulang. Ia tak punya teman dan saudara di Surabaya, yang mungkin sudi menerimanya untuk menumpang tidur semalam. Kembali ke Pasuruan bukan pilihan yang bagus, selain menghabiskan uang, tentu juga waktu. Pulang kampung berarti sama dengan melewatkan kesempatan bekerja di Perak esok subuh. 

“Akhirnya saya berteduh di halte. Berusaha tidur, tapi sampai jam empat pagi mata tak bisa dipejamkan karena suara bising orang lalu-lalang dan nyamuk yang lumayan banyak. Saya putuskan kembai lagi ke kantor tempat kami mendaftar sebagai kerani. Begitu sampai, saya langsung mengisi buku antrean. Lembar sebelumnya di mana saya mendapat urutan 38 saya sobek, saya ganti dengan lembar baru. Saya tuliskan nama sendiri di nomor urut 1 karena saya yang pertama kali datang,” kenang Boy.

Sebelum pukul lima pagi para pemuda yang mendaftar mulai berdatangan, jumlahnya semakin banyak, sampai 40 orang. Setelah itu, pihak manajemen mengumumkan karena kapal yang bersandar terbatas, maka yang diterima bekerja sebagai kerani dibatasi hanya 17 orang. “Alhamdulilah saya termasuk salahseorang dari 17 pemuda yang akhirnya diterima bekerja sebagai kerani di Pelabuhan Tanjung Perak. Saya tak tahu kenapa saya dipilih. Mungkin pihak perusahaan tidak mau repot melakukan seleksi detail, jadi dari nomor urut 1 sampai dengan 17 semuanya terpilih,” tutur Boy.

Boy bersama rekan-rekannya yang terpilih dibekali alat hitung dan ditempatkan di pos-pos. Uniknya, dampai dengan saat itu, ia belum tahu tugas-tugas seorang kerani. Bahkan, ia belum pernah menggunakan alat hitung yang berada di tangannya. Modalnya hanya nekat dan mau belajar cepat.

“Kita ini mau ngapain?,” tanya Boy kepada seorang teman.

“Loh kamu belum pernah ya?,” temannya itu balik bertanya.

 “Belum,” balas Boy.

“Loh loh loh.”

“Ya sudah kamu ikut saya. Jadi nanti sewaktu kapal menyandar dan menurunkan semen, lalu diangkut ke truk dan truk masuk ke gudang, nah ketika semen turun dari truk itu kita hitung jumlahnya,” jelas temannya.

Beruntung Boy mendapat pertolongan seorang pemuda yang baik hati, yang bersedia menjelaskan tugas seorang kerani dan mengajarinya cara menggunakan alat hitung. Boy berusaha belajar cepat dan terus menekuni pekerjaan sebagai kerani. Di sisi lain, ia menambah penghasilan di luar jam kerja sebagai kerani, dengan menyambi pekerjaan bongkar-muat semen.

“Belakangan saya baru mengerti bahwa di antara pendaftar nomor urut 18 dan berikutnya sampai 40, ada adik seorang manajer, ada keponakan owner. Sementara saya datang sendiri, tidak ada yang membawa saya dan tidak seorang pun mengenal saya,” ujar Boy. Seminggu Boy tidur di gudang dan tak pulang-pulang, akhirnya memunculkan pertanyaan karyawan gudang.

“Loh kamu kok tidak pulang- pulang?”

“Iya pak, saya tidak punya rumah.”

“Lah kamu kesini dengan siapa?”

Boy ingat ia ke Tanjung Perak diantar temannya, Rahmat, yang kebetulan keponakan Leo, orang yang cukup dikenal di kawasan pelabuhan itu. Boy nekat menyebut nama Leo.

“Dengan Pak Leo, Pak,” jawab Boy, singkat.

 “Ya sudah. Ayo ayo ikut saya,”

Ia kemudian di bawa ke sebuah ruangan.

“Kamu kerja disini saja ya, jangan bilang-bilang ke Pak Leo,” pinta karyawan gudang itu.

Boy diberi kesempatan tinggal sementara di sebuah ruang kerja berukuran kecil, namun cukup lumayan untuk sekadar istirahat malam melepas lelah hingga subuh dapat kembali bekerja. Di ruangan itu, ia berkenalan dengan seorang OB. “Saya amati OB itu ngomel saja sambil mencuci piring, gelas dll. Setiap kali mencuci, ia selalu membanting gelas. Setiap hari ada saja gelas yang dipecahkannya. Saya pikir mungkin beban tugasnya banyak, jadi saya coba membantu meringankan tugasnya. Setiap ada piring dan gelas kotor saya cuci. Semua tugasnya di dapur saya gantikan.  Karena merasa tidak enak hati saya bantu dia setiap hari, dia selalu membawa nasi bungkus double, untuknya dan untuk saya. Jadi dari karyawan gudang saya diberi tempat istirahat dan dari OB itu saya dapat makan siang. Alhamdulillah. Allah memang Mahakasih dan Mahasayang,” ungkap Boy.

Suatu ketika setelah tiga bulan bekerja keras di Perak, Boy jatuh sakit. Selama seminggu Boy tidak bekerja dan istirahat karena sakit, OB itu membantunya membelikan obat dan menyediakan makanan-minuman. Ketika Boy sakit, ia mendapati adik kandungnya mengenakan seragam sekolah datang bersama dua orang teman ke kantor tempatnya bekerja. Boy memahami barangkali adiknya ingin mengenalkan teman-temannya padanya, bahwa ia punya kakak yang bekerja di perusahaan besar di Surabaya. Namun, Boy memilih bersembunyi, tak ingin adiknya tahu bahwa ia sedang sakit, jika sampai tahu bakal membuat orang tuanya resah. Lalu uang yang ada di dompetnya ia ambil semua untuk diberikan kepada adik kandungnya melalui OB yang merawatnya.

“Tolong kasihkan uang ini ke adik saya di depan. Bilang saya lagi bekerja,” ujar Boy kepada OB itu. 

”Masnya lagi kerja tidak bisa ditemui,” tutur OB itu meneruskan pesan Boy kepada adiknya.

Adik kandung Boy kembali ke Pasuruan dan cerita kepada sang Ibu, “Mah, saya dikasih uang sama kakak, uangnya banyak.” 

“Syukurlah, dia tak tahu kalau saya sakit,” kenang Boy.

Boy bersama Gunarsih, dan putra-putri mereka; Ayuning Silvera Porty Boyanda, Rosselyna Aprillia Kartini, dan Abdul Gregeory Silvery Portho Boyand.

Kontraktor Dadakan: Belajar Cepat Mengambil Peluang

Di lingkungan Perak, Boy terus memperluas pertemanan dan persaudaraan. Ia kemudian bertemu dengan seorang sarjana ekonomi yang bekerja sebagai OB di perusahaan forwarding contractor yang berada di sebelah kantornya.  Boy berusaha membantu tugas OB itu bersih-bersih, sayangnya si OB bukannya berterima kasih, sebaliknya menghardik. “Kamu ini tidak bisa bersih-bersih, ini masih kotor semua.” Namun, Boy tak terpancing, berusaha tetap membantunya dengan tulus.

Dari OB itu Boy mendapat informasi, bahwa Linda, istri pemilik perusahaan, sedang mencari pekerja. Ia tak melewatkan kesempatan itu. 

 “Saya tidur disini ya?”

“Terserah kamu, tapi di sini tidak ada tempat.”

“Baiklah, saya tidur di manapun bisa.”

Esoknya Boy bertemu Linda.

“Loh ini siapa? Siapa ini?.”

“Anu buk, saya lagi mencari kerja.”

“Lah kamu bisa apa?.”

“Semuanya saya bisa.”

“Bisa pasang wallpaper dan window paper?” tanya Linda

“Bisa Bu,” dalam hati, waduh istilahnya saja saya baru tahu.

 “Benar?” tanya Linda, lagi.

“Benar bisa, Bu,”

 “Ayo bikin proposal, kamu minta gaji berapa?”

“Terserah ibu saja.”

“Ya sudah ini kerjakan dulu, nanti setelah selesai saya kasih 500 ribu ya.”

Boy senang bukan kepalang, uang 500 ribu tahun 90-an lumayan besar. Dari biasanya sehari cuma dapat 5000 rupiah, ia mendapat peluang penghasilan ratusan kali lipat hanya dari satu pekerjaan singkat. Gulungan windowpaper dan berlembar-lembar wallpaper dibawa Boy bersama dua orang yang direkrutnya ke kantor klien Linda. Di sana mereka harus memasang wallpaper dan windowpaper di ruangan presiden direktur berbentuk kotak-kotak, jendela, dan rak lemari.  Ia pasang menggunakan lem satu persatu. Tiba-tiba pengawas perusahaan itu datang dan memarahi Boy dkk.

“Wah, kamu ini bisa apa tidak memasang ini?,” suara pengawas dengan nada tinggi.

“Iya maaf Pak,” jawab Boy.

“Kamu ini disuruh siapa?” tanya pengawas itu, sambil memaki.

“Saya disuruh Bu Linda,” Boy tidak mengaku menerima pekerjaan borongan dari Linda, sebaliknya mengaku sebagai pekerja Linda.

Mendengar keributan di ruangan itu, presiden direktur perusahaan muncul.

“Ada apa ya?,” tanya sang presdir.

“Oh tidak apa-apa mister, ini saya lagi mengarahkan anak kerja,” jawab si pengawas.

“Ya sudah silahkan keluar-keluar,” presdir memerintahkan pengawas untuk keluar.

“Sebenarnya kamu sudah pernah memasang seperti ini?” presdir meminta penjelasan Boy

 “Belum pernah mister,” jawab Boy.

Sang Presdir dengan baik hati mengajari Boy dkk cara memasang wallpaper dan window paper.

“Begini caranya, ini dibuka dulu, jadi tepung taruh di timba tunggu 10 menit sampai mengembang, lalu oleskan di kertas dalam keadaan basah, lalu pasang,” jelas sang presdir.

Singkat cerita, ketika pengawas datang lagi, dia terkejut wallpaper dan windowpaper sudah terpasang semua.

“Loh kok sudah bisa?”

“Iya tadi itu mengira-ngira dulu.”

“Wah kamu ini.”.

Dalam perjalanan kembali ke kantor Linda, dua orang teman yang dibawa Boy untuk membantu pekerjaannya, mengutarakan ketakutan karena Boy menerima pekerjaan pemasangan wallpaper dan windowpaper, padahal belum pernah mengerjakannya. “Kamu ini loh, kok berani memborong pekerjaan yang kamu tidak mengerti?,”

Linda senang Boy dkk berhasil mengerjakan pemasangan wallpaper dan windowpaper. Boy kemudian diberi kepercayaan yang lebih berat, menagih kepada klien melalui pengawas proyek itu yang terkenal killer. Meski sempat dimarahi, Boy akhirnya mampu menagih uang perusahaan yang dipercayakan Linda padanya. Setiap kali Linda ada tagihan dan itu berarti harus beradu-hadapan dengan pengawas proyek tsb, Boy yang diutus. Boy kerap menghadapi ucapan keras dan pedas si pengawas proyek. Meski begitu, ia hadapi dengan tenang, santun dan hormat. Alhasil, hubungan selanjutnya dengan si pengawas proyek semakin baik dan pembayaran klien menjadi lancar.

Perjalanan selanjutnya, Boy ditugasi perusahaan untuk mengawal kontainerdan mengurus administrasi di Bea Cukai. Untuk melancarkan tugasnya, perusahaan memberikan fasilitas mobil. Karena setiap hari berpakaian rapi seperti orang kantoran dan mengendari mobil kantor, ia kerap disapa bos oleh teman-temannya yang masih bekerja sebagai kerani dan OB.

Suatu hari Boy dipermalukan oleh OB di kantornya, yang dulu kerap ia bantu bersih-bersih tapi tak berterima kasih, justru menghardiknya.  OB itu dengan sombong memerintah Boy untuk memfotokopi berkas. Ia tak tahu bahwa tugas dan jabatan Boy sudah naik, selevel dengan pengawas, bahkan kerap mewakili perusahaan terkait urusan adiministrasi yang berhubungan dengan pemerintahan.

“Ini ya tolong di foto kopi,” ucap OB itu kepada Boy.

Boy tak menolak perintahnya, sebaliknya mencoba menggunakan mesin fotokopi, tapi tak berhasil. 

“Sini, ini dibaca petunjuknya ini,”OB itu memarahi Boy di hadapan banyak karyawan.

Boy geram, tangannya ingin memukul OB itu, tapi ia berusaha menahan diri. Dalam hatinya, kelak kamu akan menyesal dengan ucapanmu dan sikapmu.

Beruntung seorang staf datang dan membantu Boy. Staf itu mengajari Boy cara memfungsikan mesin fotokopi.

Kelak di kemudian hari, ketika karir Boy sudah mapan dan penghasilan yang bagus, ia bertemu lagi dengan OB yang sombong itu. Ternyata di kantornya si OB bermasalah, dipecat, dan terpaksa pulang kampung. Kuliah S2-nya di Jakarta gagal dan ia sedang mencari kerja. Meski ingat dengan perlakukan si OB di masa lalu yang menyakitkan, Boy sama sekali tak menaruh dendam. Boy justru mengajak OB itu keliling pelabuhan menumpang sepedamotor GL-Max hasil kerja kerasnya.

“Kamu sekarang beda ya,” cetus OB itu.

 “Ayo ikut saya ke Pelabuhan,” ajak Boy.

“Wah kamu sekarang bergaya ya,” OB itu memegang GL-MAX.

“Saya traktir makan ya,” Boy melaju dengan sepedamotornya menggonceng si OB.

Ajinomoto: Bekerja Sambil Belajar dari Bangsa Jepang

Titik balik kehidupan Boy terjadi pada 1994, ketika Ajinomoto, perusahaan asal Jepang, menyewa kantor milik pasangan Edi Darwis dan Linda, tempat Boy bekerja sebagai pelaksana kontraktor. Saat itu Ajinomoto mencari karyawan potensial, Boy mendaftar dan mengikuti seleksi. Tanpa diduga ia diterima di Ajinomoto. Sementara adik dan keponakan Edi Darwis yang sama-sama diajukan malah tidak terpilih. Perusahaan Jepang memang tidak pandang bulu siapa dibawa oleh siapa, mereka mengutamakan etos kerja. Karena kecewa adik dan keponakannya tidak diterima di Ajinomoto, Edi Darwis mengusir Boy untuk tidak lagi tinggal di kantor itu. Boy legowo dan tetap bersyukur karena diterima di perusahaan Jepang. Ia kemudian tinggal di kamar kost.

Karir Boy di Ajinomoto ia jalani dengan penuh loyalitas dan dedikasi selama 25 tahun, sepanjang tiga perempat abad. Selama itu ia bekerja sambil menimba ilmu manajemen dan bisnis dari sejumlah pimpinan berkebangsaan Jepang. Meskipun secara hirarki jabatan tidak berhubungan langsung dengan Chief Executive Officer (CEO) Ajinomoto Indonesia Grup Kaoru Kurashima, Boy belajar banyak dari Kurashima. Sosok pemimpin tertinggi di Ajinomoto Indonesia itu dikenal sangat disiplin dan menguasai detail operasi perusahaan.

Di Ajinomoto, Boy lebih banyak memainkan peran sebagai foreman, pengendali atau motor di lapangan. Jiwa seorang foreman harus dewasa dalam mengambil langkah dan matang dalam memecahkan permasalahan di lapangan, serta mampu menentukan sikap yang cepat dan tanggap terhadap masalah di lapangan dalam bentuk apa pun.  Selain itu seorang foreman juga harus mampu menjadi jembatan informasi dan komunikasi, dengan mitra kerja di luar perusahaan, khususnya dengan jajaran pemerintah dan masyarakat.

Sebagai foreman, Boy berusaha menerjemahkan visi Ajinomoto, menjadi perusahaan makanan nomor satu di Indonesia, lewat tugas kesehariannya di kantor dan di lapangan yang lebih banyak berhubungan dengan institusi pemerintahan dan masyarakat. Boy turut berperan serta membantu Ajinomoto meningkatkan dan memelihara kepercayaan pemerintah dan masyarakat, membuat karyawan bangga bekerja di Ajinomoto, dan meningkatkan kontribusi Ajinomoto dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan kepada masyarakat Indonesia.

Dalam bekerja, Boy berusaha melampaui kewajiban, dengan mendedikasikan waktu, pikiran, tenaga dan pelayanan lebih dari yang diinginkan pimpinan. Bahkan, tidak jarang Boy mengeluarkan dana pribadi untuk operasional dan entertain mitra kerja, demi keberhasilan menunaikan misi perusahaan. Lebih dari itu, Boy mampu mengatasi banyak persoalan di lapangan, termasuk mengatasi kendala impor barang, yang seharusnya menjadi tugas level direktur dan manajer. Berbagai kebiasaan, sikap mental, dan kemampuan Boy dalam bekerja sulit diikuti banyak karyawan lainnya, karena itu Boy disukai pimpinan Ajinomoto dan perusahaan kesulitan mencari karyawan yang dapat bekerja seperti Boy.

Sebab itu, ketika Boy diminta bergabung ke PT Berkah Aneka Laut (BAL) dan dua kali mengajukan pengunduran diri, Januari dan April 2019, tidak disetujui oleh manajemen Ajinomoto. Baru pada pengajuan ketiga, Juli 2019, surat pengunduran dirinya ditanggapi. Boy dipanggil oleh direktur. “Mungkin Ajinomoto terlalu sempit buat Bapak. Saya tahu bapak dapat berkembang lebih luas lagi di luar sana,” akhirnya direktur bersedia melepas Boy, karyawan andalannya, dan mengucapkan terima kasih banyak atas pengabdian Boy selama 25 tahun di Ajinomoto.  

Jatuh Hati dengan Putri Ibu Kost

Bersamaan dengan diterimanya Boy di Ajinomoto, Boy bertemu dengan Gunarsih, putri pemilik kost, tempat Boy tinggal setelah ia diusir oleh Edi Darwis. Dari semula sering tatap muka, ngobrol dan makan bareng, dalam perjalanannya kemudian Boy dan Gunarsih menjalin kasih.

Boy yang sedang merintis karir di Ajinomoto harus pandai mengatur gajinya yang masih terbatas. Jadi ketika waktunya membayar kost tiba, Boy bersiasat dengan mengajak Gunarsih jalan-jalan dan makan bareng.

“Dek ikut saya yuk.”

“Kemana Bang?”

“Makan, ayo pilih menunya, makan apa?”

“Beneran nih?”

“Itu saja ayam goreng.”

Setelah makan makan-makan, Boy berikan uangnya kepada Gunarsih untuk membayar makan, sebagai pengganti uang sewa kamar kost.

“Ini ya, uang kosnya, dibayar makan saja.”

“Loh saya nanti bagaimana kalau ditanya ibu.”

“Ya mana saya tau.”

Singkat cerita, Narsih kerap menomboki uang kost Boy.

Enam bulan berselang, hubungan Boy dan Narsih kian erat. Atas permintaan orang tua Narsih dan persetujuan orang tua Boy, keduanya kemudian memutuskan hubungannya berlanjut ke jenjang pernikahan.

“Kalau saya tidak disarankan nikah dengan Narsih oleh ibu kost mungkin saya tidak akan nikah, karena dunia Perak saat itu begitu menggiurkan. Hari ini saya pegang dua dokumen clearance saja, uang hasilnya tak akan habis untuk bersenang-senang seminggu,” kenang Boy.

Kini, pasangan Boy dan Gunarsih, dikarunai tiga buah hati; Ayuning Silvera Porty Boyanda, Rosselyna Aprillia Kartini, dan Abdul Gregeory Silvery Portho Boyand. Anak-anak keluarga Boy sudah dewasa, dan karena itu Gunarsih punya banyak waktu luang untuk berbisnis. Ia memilih menekuni usaha kuliner dengan merek dagang Bebek Bom Bu Boy. Bebek Bom Bu Boy cukup dikenal di Kota Surabaya dan menjadi salahsatu tujuan kuliner pavorit masyarakat Surabaya.

Boy berbicara di hadapan rekan-rekan pengurus Masyarakat Numismatik Indonesia.

Numismatik: Mengoleksi Uang RI adalah Wujud Patriotisme

Suatu hari, ketika berkunjung ke Indonesia, seorang kolektor uang (Numismatik) dari Tiongkok, mengumbar ancaman, “Kami sengaja mengoleksi uang Indonesia, kelak di kemudian hari, generasi Indonesia berikutnya harus membayar mahal uangnya sendiri dari yang kami koleksi.” Boy menyimak serius pernyataan kolektor asal Tiongkok itu, merekam dalam pikiran dan hatinya, dengan kesimpulan; ternyata uang Indonesia sangat diburu oleh kolektor Tiongkok, bahkan sengaja diniatkan Tiongkok untuk dikuasai dan dijual mahal kepada bangsa Indonesia puluhan dan ratusan tahun kemudian. Ternyata bangsa Tiongkok tak hanya ingin menjadi penguasa ekonomi dunia, tapi juga penguasa mata uang dari semua negara di seluruh dunia.

Menyadari hal itu, sikap patriotisme Boy bangkit. Sebagai Ketua Masyarakat Numismatik Surabaya (MNS) ia terpanggil untuk menggalang kekuatan sesama kolektor uang untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat bersama-sama mengoleksi uang RI agar tidak dikuasai asing. Agar bangsa Indonesia memiliki dan mencintai uang peninggalan sejarah sebagai salahsatu kekayaan ekonomi-budaya bangsa. “Mengoleksi uang bukan semata tindakan melestarikan peninggalan sejarah. Lebih dari itu, mengoleksi uang sebenarnya adalah wujud patriotisme kita sebagai bangsa untuk menjaga dan melestarikan kekayaan ekonomi-budaya Indonesia, agar tidak dikuasai asing. Jangan sampai anak-cucu kita membeli mahal beribu kali lipat uang hasil karya bangsa Indonesia sendiri,” tutur Boy G. Rahman.

Boy George Rahman memang orang lama di dunia kolektor uang dan dikenal luas di kalangan pengurus dan anggota Masyarakat Numismatik Indonesia. Sebagai kolektor uang, ia sudah berkali-kali melewati berbagai kategori; uang kuno, uang seri solid, sampai uang sambung. Kini ia dikenal sebagai kolektor uang kembar pertama dan terbanyak di Indonesia, yakni uang yang punya nomor seri dan urutan prefix yang sama, hanya dibedakan satu huruf di depannya. Boy memiliki lebih dari 60 pasang uang kembar model tersebut dan menyimpannya dengan baik. Upaya mengumpulkan uang kembar sungguh tak mudah dilakukan Boy, karena itu ia menolak ketika kolektor asal Singapura mengutarakan niat membeli sepasang uang kembarnya dengan harga tinggi.

Momen kebersamaan Kusnanto, SE, CCPS (Anto Jangkar) Ketua Umum Ikatan Pengusaha Muda Indonesia (IPMI) bersama Boy G. Rahman, Wakil Sekretaris Jenderal IPMI.

Uang Tak Bisa Menggantikan Persaudaraan

Salahsatu hal yang paling mahal dalam hidup adalah persaudaraan. Nilai persaudaraan tak bisa digantikan dengan uang, bahkan dengan apa pun. Karena itu, sejak muda Boy berusaha membangun hubungan persaudaraan dengan banyak orang, tanpa membedakan latarbelakang suku, bangsa, agama, status ekonomi, sosial dan politik. “Prinsip hidup saya sederhana. Saya akan senang kalau orang lain yang juga senang. Karena itu saya senang menjalin persaudaraan. Tentunya persaudaraan yang benar-benar dibangun dengan hati. Dengan menambah saudara hidup kita lebih terasa bermanfaat dan bermakna,” ujar Boy.

Boy mengisahkan, ia kerap mengalami keajaiban hidup dari hubungan persaudaraan yang dibangunnya. Salahsatunya kisah pertemanan dengan Anto Jangkar di Facebook yang diawali pada tahun 2015 dan berkembang menjadi persaudaraan erat hingga kini. Boy tak mengira di kemudian hari ia diberi kepercayaan Anto Jangkar untuk membantunya di IPMI, sebagai wakil sekretaris jenderal. Padahal, ia tak pernah berharap, lebih-lebih meminta sesuatu dari siapa pun yang dianggapnya sahabat dan saudara. Baginya pantang menukar persahabatan dengan kepentingan pribadi. Namun, karena Anto Jangkar berniat baik memajukan dunia usaha dan berkontribusi kepada masyarakat dan bangsa-negara, visi yang sama dalam hidupnya, Boy akhirnya menerima penugasan tsb.

“Awalnya  kenal bro Anto di Facebook, kita saling menyukai postingan. Beliau posting saya like, begitu juga sebaliknya saya posting beliau like. Itu tahun 2015. Tahun 2016 saya diundang bro Anto untuk kopi darat. Waktu itu saya masih di Ajinomoto. Jadi, supaya seragam perusahaan tidak terlihat, saya tutup dengan rompi Harley Davidson yang selalu saya bawa di kendaraan. Kebetulan saya dan bro Anto sama-sama penyuka motor besar,” ungkap Boy.

Boy G. Rahman dan Anto Jangkar

Hal yang paling berkesan bagi Boy pada pertemuan pertamanya dengan Anto Jangkar adalah ketika Anto mengenalkan Boy kepada pejabat militer sebagai saudaranya. “Mas Boy ini saudara saya. Begitu bro Anto Jangkar mengenalkan saya kepada Komandan Pusdikpomal. Saya begitu tersentuh dianggap sebagai saudara. Padahal baru pertama kali kopi darat. Tapi secara hati, sejak awal berteman di FB, saya memang respect dengan kerendahan hati dan tutur kata beliau yang terlihat di medsos,” tutur Boy.

Enam bulan kemudian, Boy bertemu kembali dengan Anto Jangkar pada acara touring Harley Davidson. Boy terkejut begitu mengetahui ia dan istrinya sudah diregistrasikan oleh Anto Jangkar untuk mengikuti touring esok harinya, dengan biaya Rp 4,7 juta per orang. Semua biaya ditanggung Anto Jangkar. Bahkan, Anto Jangkar menyediakan motor besar dengan merek yang sama dengannya setiap kali Boy mengikuti kegiatan Harley Davidson di Jakarta dan sekitarnya. Begitu pula setiap kali Boy ke Jakarta, info tiket penerbangannya sampai ke Anto, lalu Anto Jangkar mengirim anak buah untuk menjemput Boy dan keluarga di bandara dan menyediakan kamar bintang lima di rumahnya untuk keluarga Anto.

Boy berusaha menghindari fasilitas dan bantuan Anto Jangkar untuk tidak merepotkan saudaranya, tapi Anto pintar untuk membuat Boy tidak bisa menolak. Ketika Anto menyediakan Rubicorn untuk Boy sekeluarga jalan-jalan, Boy memilih memesan taksi online. Esok harinya, sewaktu Boy sekeluarga hendak mencari tempat makan, Anto sengaja mengantarnya, lalu Anto berhenti di tengah jalan dengan alasan ada perlu dengan teman dan menyerahkan mobilnya kepada Boy untuk dipakai. Dengan begitu, Boy terpaksa menggunakan fasilitas mobil yang disediakan Boy untuknya dan keluarga.

“Banyak kejadian menunjukkan sikap bro Anto yang selalu ingin mengistimewakan saya dan keluarga. Beliau memang respect dengan siapa saja dan berusaha menyenangkan semua orang. Bukan hanya orang yang dikenalnya. Tapi juga kepada masyarakat yang tidak mampu. Bro Anto gemar berbagi sebagian rizkinya,” tutur Boy.

Banyak kisah tentang pengalaman Boy menjalin persaudaraan. Termasuk persaudaraannya dengan Gus Hadi, tokoh NU Jawa Timur yang menetap di Mojokerto; La Nyalla Mattalitti, mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur dan Ketua Umum PSSI, yang belakangan menjadi Ketua DPD RI; H. Masfuk, SH, mantan Bupati Mojokerto dua periode.

“Setiap kali berkenalan dengan saudara baru, saya selalu berbagi gift berupa uang langka. Selain sebagai wujud respect saya kepada saudara, juga untuk memasyarakatkan budaya mengoleksi uang RI,” ucap Boy.

Boy mendampingi La Nyalla Mattalitti, sekarang Ketua DPD RI, semasa kampanye pemilihan Gubernur Jawa Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here