DIAZ HENDROPRIYONO: Panggilan Ibu Pertiwi, dari Kegelisahan hingga Kepemimpinan

52
views

Hidup bagai sebuah piano. Kunci putih mewakili kebahagiaan, sedangkan kunci hitam mewakili kesedihan. Tetapi ketika Anda menjalani perjalanan hidup, ingatlah bahwa kunci hitam membuat musik juga,”

~ Diaz Hendropriyono, via Facebook 20 Januari 2011 ~

Perjalanan hidup selalu ajaib bagi setiap orang yang mengikuti kata hati. Dari seluruh etape hidupnya sebagai mahasiswa, analis sosial politik dan keamanan, aktivis pemuda, pecinta musik, wirausahawan dan kemudian politikus, tak sedetik pun pernah terbersit di benak Diaz Hendropriyono akan menjadi Ketua Umum partai, memimpin Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Lebih-lebih di usia muda, menjelang 40 tahun.

Karena itu, momen 14 Mei 2018 di Gedung Sekar Wijayakusuma, Jakarta, menjadi titik balik perjalanan hidup Diaz Hendropriyono ketika menerima bendera pataka dari Jenderal TNI (purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke-6 selaku pendiri sekaligus Ketua Dewan Penasihat PKPI, prosesi simbolik penyerahan kepercayaan kepadanya untuk memimpin perjalanan PKPI, setidaknya lima tahun ke depan.

Pendiri dan Ketua Dewan Penasihat PKPI Jenderal (Purn) Try Sutrisno, menyerahkan pataka PKPI kepada ketua umum PKPI terpilih, Diaz Hendropriyono.

Peristiwa 14 Mei 2018 menjadi tonggak sejarah bagi pemuda kelahiran 25 September 1978 itu, untuk mewarnai panggung politik sekaligus menjadi bagian dari regenerasi kepemimpinan nasional. Tentu saja tak sekadar memimpin, lebih dari itu Diaz Hendropriyono melalui PKPI diharapkan turut menentukan arah perjalanan negara dan bangsa ke masa depan. PKPI diharapkan bergerak bersama pemerintahan Presiden Jokowi untuk menjemput kejayaan Indonesia.

Presiden Jokowi mengapresiasi terpilihnya Diaz Hendropriyono sebagai Ketua Umum PKPI. Jokowi optimis, PKPI di bawah kepemimpinan Diaz mampu menjalankan peran sebagai partai politik; memberikan pembelajaran berpolitik yang dewasa dan menjunjung tinggi etika sopan-santun, memberikan pencerahan masyarakat pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan sesama saudara sebangsa, menyadarkan masyarakat untuk menghindari fitnah dan ujaran kebencian yang berpotensi memicu perpecahan, dan membangkitkan sikap positif dan optimis dalam kehidupan sehari-hari demi menggapai masa depan yang lebih baik.

Ketika tampil di podium dan menyampaikan pidato politik perdana sebagai Ketua Umum PKPI, Diaz tampak tenang, penuh syukur dan percaya diri.

Saya menghaturkan terimakasih yang mendalam atas mandat yang diberikan oleh seluruh pimpinan PKPI, khususnya kepada Bapak Try Sutrisno yang menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada diri saya secara pribadi. Insya Allah saya nyatakan siap untuk membawa partai ini menjadi partai yang lebih besar.

Diaz mengakui, memimpin PKPI bukanlah hal yang mudah, berbagai masalah telah dilalui sejak PKPI berdiri. Namun dengan kesungguhan, ketabahan dan kesetiaan para kader terhadap partai, PKPI akhirnya diberikan kesempatan dan dinyatakan lolos untuk menjadi peserta Pemilu 2019. “PKPI bukanlah partai baru. Saat ini PKPI sudah berumur 19 tahun. Sebagai partai yang sedang beranjak dewasa, PKPI akan memiliki kewajiban yang lebih besar, tanggung jawab yang lebih berat dan tantangan yang lebih dinamis,” tutur Diaz.

Mengawali kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PKPI, Diaz mengadakan safari politik, mengunjungi sejumlah tokoh nasional dan ketua umum partai pendukung pemerintahan Presiden Jokowi, antara lain Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo. Sebagai sosok muda pemimpin partai, Diaz merasa perlu menjalin silaturahmi sekaligus meminta saran dan masukan para senior untuk kemajuan PKPI, bangsa dan negara.

Uniknya, dalam pertemuan dengan Ketum Partai Nasdem, Surya Paloh di hadapan para pengurus partainya sempat mengungkap cerita tentang pinangan Nasdem kepada Diaz. “Dulu saya pernah minta Diaz untuk pimpin Garda Pemuda Nasdem. Luar biasa, sekarang sudah jadi Ketua Umum partai,” tutur Surya Paloh, yang dibalas Diaz dengan senyum dan gerakan tubuh penuh hormat. “Terima kasih atas bimbingan dan kepercayaannya, om Surya.”

 

 

Menyuarakan Kegelisahan

Apa yang kita fokuskan itulah yang kita dapatkan, maka berfokus pada hikmah akan menghasilkan pelajaran hidup yang berharga. Hikmah itulah yang dapat dipetik jika kita menapak tilas jejak langkah Diaz Hendropriyono pada sepuluh hingga lima belas tahun yang lampau. Kita akan tiba pada pesan bijak: tak ada makan siang gratis. Bahwa pencapaian Diaz Hendropriyono hari ini bukanlah hasil kerja instan. Sebaliknya, buah dari perjuangan panjang seorang pemuda yang membangun karir tahap demi tahap dimulai dari peran sederhana di negeri rantau, tertatih-tatih, menguras otak dan berpeluh keringat.

Perjalanan karir Diaz Hendropriyono sesungguhnya dimulai enam belas tahun lalu sejak 2002 dan jauh dari hiruk-pikuk panggung politik di negeri sendiri. Ia awali dari “peran kecil” sebagai asisten peneliti bagi Johnston & Associates LLC di Washington, D.C., yakni sebuah perusahaan konsultan politik (lobbying firm), yang dipimpin oleh mantan Senator Bennett L. Johnston. Sebagai asisten peneliti di perusahaan konsultan politik terkemuka, Diaz secara tidak langsung bersinggungan dengan praktik politik dan pemerintahan demokrasi di negeri Paman Sam. Peran ini ia tekuni setidaknya selama empat tahun hingga 2005, sambil menempuh studi administrasi publik di Virginia Tech.

Karirnya cemerlang seiring dengan prestasi akademik yang diraihnya. Usai memegang gelar Master of Public Administration (Virginia Tech, USA) dan menjadi kandidat Doktor (PhD) bidang Administrasi Negara di Center of Public Administration and Policy (Virginia Tech, USA), dengan seabrek penghargaan prestisius; Dean’s List (2002), Delta Mu Delta (2002), Phi Kappa Phi (2007), dan Gamma Beta Phi (2007), dua tahun kemudian tepatnya pada 2009, Diaz didapuk organisasi “think tank” ternama RAND Corporation sebagai analis.

Dari RAND Corporation, Diaz belajar bagaimana sebuah organisasi nirlaba skala global yang berdiri sejak 1948 itu membantu pemerintahan di dunia, organisasi internasional, perusahaan swasta dan yayasan, dengan sejumlah masalah pertahanan dan non-pertahanan, termasuk perawatan kesehatan, dengan meningkatkan kemampuan mengambil kebijakan atau keputusan melalui penelitian dan analisis mendalam. Tentu saja, tak mudah bagi siapa pun untuk menjadi analis di RAND Corporation, termasuk Diaz. Tantangannya setiap hari adalah memecahkan masalah interdisipliner dan kuantitatif, menggunakan ilmu terapan dan riset operasi.

Kendati studi dan pekerjaannya di Amerika Serikat menguras pikiran, energi dan waktu, Diaz masih sempat mengikuti perkembangan sosial, politik dan ekonomi di Tanah Air. Bahkan, dinamika nasional dan global terkait Indonesia yang ia amati, menjadi perhatian serius Diaz, termasuk seputar Pemilu, pertahanan dan keamanan, terorisme, pembangunan, kemiskinan, konflik antar lembaga negara, fenomena media sosial dll. Tak berhenti sampai di situ. Kegelisahannya ia suarakan melalui media cetak dan online, serta blog pribadi.

Dari puluhan opini yang ditulis Diaz di berbagai media nasional, jelas memantulkan sosoknya yang kerap gelisah menyikapi situasi dan kondisi di Tanah Air, dan merasakan panggilan untuk berbakti kepada Ibu Pertiwi.

Pandangan dan pemikiran Diaz Hendropriyono yang tajam, kritis dan solutif itu tampil di sejumlah media nasional pada kurun 2006 hingga 2011, antara lain; A Flawed Policy in Libanon? (The Jakarta Post, 18 September 2006), Russia Helps RI Rebuild Defense Capability (The Jakarta Post, 24 September 2007), Indonesian Military Might Will Win Malaysia’s Respect (The Jakarta Post, 25 Oktober 2007), Realita Penundaan RUU Kamnas (Detik.com, 25 Agustus 2008), Indonesia Celebrities Go For Political Seats (The Jakarta Post, 3 September 2008), Artis Harus Menjadi Kepala Daerah (Sinar Harapan, 3 September 2008), Indonesia Should Do More In Gaza (The Jakarta Post, 17 January 2009), Bahasa Indonesia is Immature (The Jakarta Post, 5 Februari 2009), Indonesia Should Bring Back Hambali (The Jakarta Post, 11 Maret 2009), Obama’s Peace Prize as Bad News (diaz-hendropriyono.blogspot.com, 11 Oktober 2009), Cicak, Buaya, Kambing Hitam, dan Adu Domba (Inilah.com dan Waspada Online, 18 November 2009), It May Not Be Soon, But We Can Become an Asian Superpower (The Jakarta Post, 22 November 2009),  Bisakah Indonesia Jadi Negara “Superpower”? (Suara Pembaruan, 26 November 2009), How to Respond to Public Opinion on Facebook? (The Jakarta Post, 31 December 2009), A Symbol of Economic Disparity (The Jakarta Post, 15 Januari 2010), Indonesia’s Gus Dur Impeachment A Reminder For Ivory Coast (The Jakarta Post, 8 Februari 2011).

 

Mendirikan YIDD, Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi

Tak cukup menulis dan berbicara, pada 2009 Diaz bersama rekan-rekan pemuda Indonesia yang merantau dan studi di sejumlah negara berkumpul di Jakarta, dan kemudian memutuskan mendirikan Youth Initiative for Indonesia’s Democracy and Development (YIDD). YIDD adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada pendidikan politik bagi generasi muda Indonesia. Para pendiri YIDD menjalankan organisasi dari tiga negara; Diaz Hendropriyono di Washington DC, Hadianto Wirayuda atau Ian Wirayuda di Inggris, sementara Wisnu Juwono, Michle Riyadi, Satibur Raswanto, Hana Makarim, dan Sari Kusuma Ningrum di Jakarta.

Melalui YIDD, Diaz dkk beriktiar memajukan demokrasi dan pembangunan Indonesia. YIDD mempromosikan pentingnya memelihara esensi demokrasi, yakni toleransi terhadap sesama dan menghargai perbedaan pendapat di atas perbedaan latar belakang agama, suku, dan bahasa, karena pemahaman dan kesadaran pentingnya toleransi masih sangat minim bagi masyarakat Indonesia.

Diaz dkk mendorong pemuda Indonesia untuk berperan aktif dalam proses mematangkan demokrasi Indonesia. Dapat dikatakan, YIDD adalah akar tempat tumbuhnya gerakan pemuda Indonesia di dalam dan luar negeri, yang peduli dengan politik, pemerintahan dan pembangunan Indonesia.

“Demokrasi yang baik hanya akan terjadi jika kita mempunyai pemilih yang pintar. Jika tidak, maka rakyat hanya akan menjadi permainan elit politik. Berdasarkan pengamatan ini, saya bersama kawan-kawan melalui YIDD ingin ikut berpartisipasi  dalam meningkatkan pengetahuan rakyat tentang demokrasi dan tentang sistem pemerintahan yang ada, sehingga rakyat menjadi lebih aware tentang politik. Karena pada akhirnya calon yang kita pilih akan memengaruhi kita semua. Cara yang kita lakukan adalah menyelenggarakan pendidikan politik di sekolah-sekolah dan universitas-universitas di Indonesia,” tutur Diaz, kepada Voice of America Radio Trijaya FM, 28 Januari 2010.

Diaz menyatakan, dengan keberadaan, peran dan kontribusi para pendiri di YIDD dalam memajukan demokrasi, tidak berarti pihaknya mengklaim yang paling pintar tentang politik dan demokrasi.

“Kita tidak pernah merasa expert tentang politik dan demokrasi. Kita hanya ingin menyediakan wadah, ingin menjadi medium, menjadi penyalur, agar diskusi tentang demokratisasi, diskusi tentang politik menjadi tambah banyak dan tambah besar sehingga rakyat makin pintar. Karena itu, kita bekerjasama dengan para ahli untuk memberikan pendidikan demokrasi kepada para pemuda, pelajar dan mahasiswa dengan turun langsung ke kelas dan memberikan simulasi-simulasi,” jelas Diaz.

Ian Wirayuda menambahkan, visi YIDD adalah Indonesia memiliki pilar-pilar demokrasi yang semakin kuat dari masa ke masa. Untuk mencapai kondisi ideal itu, diperlukan skema kerja yang terstruktur dengan baik, yang menekankan pendidikan demokrasi dengan memberdayakan anak-anak muda di sekolah dan universitas.

Karena itu, YIDD aktif menyelenggarakan kegiatan konferensi atau diskusi politik dengan menghadirkan para ahli sebagai panelis dan mengadakan simulasi demokrasi di sekolah dan universitas, dengan melibatkan para pelajar dan mahasiswa.

“Pendekatan YIDD bermula dari people to people contact antara bangsa Indonesia dengan bangsa Indonesia dan kemudian berkembang people to people contact antara bangsa Indonesia dengan bangsa lain. YIDD terbuka untuk bertukar pikiran dan menerima masukan,” jelas Ian Wirayuda, rekan pendiri YIDD.

 

Mendukung Jokowi, Dari Gubernur Hingga Presiden

Berhenti dari RAND Corporations pada 2011, Diaz kembali ke Tanah Air. Ia kemudian bergelut di habitatnya di politik, olahraga dan musik, seraya menjalankan bisnis. Di sela-sela kesibukannya yang padat, pada 2012 ia mengikuti pendidikan reguler Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), yang dikenal sebagai sekolah kader calon pemimpin nasional.

Di saat yang sama, Diaz yang sejak lama mengagumi sosok Jokowi tak melewati perkembangan politik di Ibu Kota Jakarta, yang mulai menghangat menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Ketika nama Jokowi muncul sebagai salahseorang kandidat Gubernur DKI Jakarta, Diaz terpanggil untuk mendukung pemimpin yang ia kagumi agar memimpin pemerintahan dan pembangunan Ibu Kota Jakarta.

Pada 7 Juli 2012, sepekan sebelum pemungutan suara Pilkada Gubernur DKI Jakarta, Diaz Hendropriyono memposting pernyataan Jokowi di akun Facebooknya. “Saya itu juga suka pusing kalo ditanya di TV tentang masalah teknis. Bingung. Saya itu tahunya hanya membuat rencana, mengimplementasikan rencana itu, dan mengawal rencana itu untuk memastikan bahwa rencana itu ter-eksekusi dengan baik….” (In essence, this is what we need in leadership. Sementara orang2x lain berlomba-lomba menyebut nama si ini, si anu, teori ini, teori itu, biar keliatan sedikit pinter. But, in essence, there’s no substance!).

Lewat status Facebook, untuk pertama kali Diaz mengungkapkan kekagumannya tentang sosok Jokowi di hadapan publik. Jelas Diaz belajar banyak dari kepemimpinan Jokowi sebagai Walikota Solo yang sederhana, rendah hati, merakyat dan bekerja dengan langkah efektif, tanpa banyak bicara dan berteori, hingga mencapai hasil kerja yang nyata. “Itulah esensi kepemimpinan,” tutur Diaz.

Hari-hari berikutnya semakin terang, Diaz tak ingin sekadar menjadi pengagum dan pendukung Jokowi. Ia menunjukkan sikap politik yang tegas dengan mengkampanyekan Jokowi untuk memimpin DKI Jakarta. “Warga Jakarta YTH. Ingat ya tanggal 11 Juli 2012, yg ikut pemilukada DKI, ada enam langkah yg harus dilakukan, sbb: Nomer 1 dibuka, Nomer 2 dibaca, Nomer 3 DI COBLOS, Nomer 4 dicek lagi, Nomer 5 dilipat, Nomer 6 dimasukkan ke kotak Selamat berlatih!” ujar Diaz via Facebook, menyerukan warga Jakarta untuk memilih Jokowi.

Semakin mendekati hari H Pilkada DKI Jakarta, aktifitas Diaz sebagai tim sukses, mendukung dan mengkampanyekan Jokowi sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta semakin intens, melalui pertemuan-pertemuan, lobi-lobi, sosialisasi, kunjungan ke masyarakat dan tentu saja kampanye di media sosial. “Hal terpenting di dunia: Tuhan No 1; Keluarga No 2; Gubernur DKI No 3”, tutur Diaz Hendropriyono, di akun Facebooknya tanggal 19 September 2012.

Jokowi-Ahok akhirnya ditetapkan sebagai pemenang Pilkada DKI Jakarta. Diaz bersyukur terpilihnya Jokowi-Ahok, sekaligus mendukung kedua pemimpin untuk menggerakkan perubahan di pemerintahan dan pembangunan DKI Jakarta. Diaz tak pernah mengklaim perannya cukup penting dalam pemenangan Jokowi-Ahok, tapi jelas kontribusinya terlihat nyata khususnya menggalang kekuatan pemuda.

Sesuai harapan banyak pihak, dalam dua tahun setengah kepemimpinan sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi mendulang dukungan luas publik yang merasa puas dengan kepemimpinannya; berhasil menata wajah kota yang semraut, membenahi kampung miskin, menyediakan jaminan kesehatan dan pendidikan bagi pelajar dan warga tak mampu, menjadikan APBD transparan dan berfokus pada kepentingan rakyat, memperbaiki kinerja pegawai dan pelayanan publik, dan lain sebagainya.

Sebab itu, ketika menjelang Pemilu Presiden 2014 nama Jokowi santer didorong masyarakat untuk maju sebagai calon presiden, Diaz mengerakkan kalangan pemuda untuk mendukung dan mengkampanyekan Jokowi. Terlebih setelah nama Jokowi resmi diberikan mandat oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebagai Calon Presiden pada Maret 2014, pergerakan Diaz semakin masif dan terstruktur, dengan mengadakan konsolidasi organisasi pemuda untuk kemudian secara bersama-sama mendirikan Kawan Jokowi (Koalisi Anak Muda dan Relawan Joko Widodo).

Kawan Jokowi adalah sebuah organisasi yang bersimpati kepada figur yang jujur, bersih, dan tegas, seperti Jokowi, yang didirikan oleh Diaz Hendropriyono dkk, bersama belasan organisasi, antara lain; Garda Pemuda Nasdem, Garda Bangsa PKB, Sabrom, HAMI (Himpunan Advokat Muda Indonesia), Jokowi4Me, Sederhana, Jasmev 2014 (Jokowi Advanced Social Media Volunteers), Remaja (Relawan Muda Jakarta), Jokowi Center Indonesia, PaBeJo (Paguyuban Betawi Joglo), AMCI (Anak Muda Cinta Indonesia), Satria Muda Jokowi, dan Aliansi Profesional Muda Pasar Modal Indonesia.

Kawan Jokowi akhirnya dideklarasikan pada 13 Mei 2014 oleh 13 organisasi pemuda sebagai pendiri, dihadiri Jokowi sebagai Calon Presiden dan pengurus perwakilan Kawan Jokowi dari 22 Provinsi. Pada momen itu, Diaz mengungkapkan alasan para pemuda Indonesia mendukung dan memperjuangkan Jokowi untuk memimpin pemerintahan dan pembangunan Indonesia.

Diaz menyatakan, pilihan untuk mendukung dan memperjuangkan Jokowi sebagai Presiden RI didasarkan pada pengamatan para pemuda terhadap kinerja Jokowi selama menjabat Gubernur DKI. Sosoknya yang bersahaja dinilai dapat memberikan teladan. Menurut Diaz, warga Indonesia ingin meruntuhkan tembok pemisah antara rakyat dengan pemimpinnya dan Pemilu Presiden 2014 merupakan momentum untuk mewujudkannya.

Pemuda Indonesia, tak boleh berpangku tangan, dan kini saatnya bersuara lantang, turut mengambil keputusan. Indonesia harus berubah! Indonesia merindukan sosok pemimpin yang berasal dan berjuang untuk rakyat. Indonesia memerlukan pemimpin yang dapat memberikan suri tauladan yang dengan kesederhanaannya seolah berbicara kepada rakyat bahwa tidak ada tembok pemisah antara rakyat dengan pemimpinnya. Indonesia juga membutuhkan pemimpin yang telah memberikan kerja nyata dengan penuh dedikasi dan totalitas bekerja untuk kepentingan rakyatnya. Indonesia membutuhkan Jokowi untuk memimpin Indonesia!

Untuk memperjuangkan Joko Widodo menjadi Presiden RI 2014-2019, Kawan Jokowi bekerjasama secara egaliter dengan organisasi-organisasi relawan pendukung Jokowi lainnya, kendati dengan tugas pokok dan fungsi yang beragam. “Kuat karena bersatu, bersatu karena kuat!” seru Diaz, mengutip semboyan Proklamator RI Ir. Soekarno

Kawan Jokowi dalam perjalanannya melakukan harmonisasi dan sinergitas gerakan sesama organisasi relawan pendukung Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia 2014-2019 dan bergerak sebagai wadah dimana para relawan pendukung Joko Widodo berbagi ide, pengetahuan, kreativitas, dan bersinergi dalam seluruh kegiatan organisasi.

“Sinergi antar relawan pendukung Bapak Jokowi merupakan sebuah syarat mutlak untuk dapat mengantarkan Bapak Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia. Gerakan berbagai elemen pendukung Bapak Jokowi harus dilakukan dengan baik dan terarah, agar dapat berjalan dengan efektif,” tegas Diaz Hendropriyono.

Untuk menghimpun segenap kekuatan pemuda yang ingin bergabung dalam barisan pendukung Jokowi, Kawan Jokowi menggalang dukungan melalui kampanye konvensional, dunia maya, media sosial, hingga situs YouTube. Salahsatu aksinya antara lain dengan meluncurkan situs untuk merekrut relawan www.gerakcepat.com, yang diinisasi Kawan Jokowi bersama Sahabat Muda JK.

Sejarah mencatat, kampanye yang digerakkan kekuatan rakyat, partai pengusung, tim kampanye, organisasi masyarakat, relawan, serta koalisi para pemuda, termasuk pemuda yang tergabung dalam Kawan Jokowi akhirnya mengantar Jokowi dan Jusuf Kalla menjadi Presiden RI dan Wakil Presiden RI 2014-2019.

 

 

Jembatan Komunikasi Pemuda dan Presiden Jokowi

Usai Jokowi ditetapkan sebagai Presiden RI terpilih, Diaz diminta membantunya di Rumah Transisi untuk bersama-sama tim menjabarkan program kerja pemerintahan Jokowi-JK dan menyiapkan transisi pemerintahan.

Tak lama setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden RI, dan membentuk Kabinet Kerja untuk memimpin pemerintahan dan pembangunan, Diaz menjadi incaran para menteri dan pejabat setingkat menteri untuk membantu pemerintah sesuai kapasitas pengetahuan dan pengalamannya selama bekerja sebagai analis di dua organisasi think thank di Amerika Serikat, dan pengalamannya mengorganisir kekuatan pemuda Indonesia.

Mula-mula Diaz didapuk oleh Kepala BIN sebagai Anggota Dewan Analis Strategis di Badan Intelijen Negara, kemudian diminta Menkopolhukam Tedjo Eddy sebagai Staf Khusus bidang Intelijen di Kemenko Polhukam, lalu diangkat oleh Menteri BUMN Rini Suwandi sebagai Komisaris PT Telkomsel, sebuah perusahaan telekomunikasi milik negara yang sangat vital dan strategis dari sisi pertahanan dan keamanan negara.

Namun, ketiga jabatan itu akhirnya ditanggalkan Diaz, menyusul keputusan Presiden Jokowi yang secara khusus memintanya membantu sebagai Staf Khusus Presiden RI. Merasa terhormat atas kepercayaan penuh Presiden Jokowi padanya, Diaz mencurahkan seluruh energi, waktu, dan pikirannya pada tugas-tugas yang diberikan Presiden Jokowi.

Sebagai Staf Khusus Presiden, Diaz aktif berdialog dengan pemuda dari berbagai organisasi kepemudaan, mahasiswa dan pelajar, untuk meminta saran dan masukan yang membangun terkait kebijakan Presiden Jokowi, seperti tol laut, infrastruktur, harga pangan, masalah semen, dll untuk dipertimbangan sebagai kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, Diaz terus mensosialisasikan pencapaian kinerja pemerintahan Jokowi-JK, sambil merangkul para pemuda untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan sesuai profesi dan minat masing-masing, mendorong pengembangan ide dan inovasi untuk kemajuan Indonesia, mengkampanyekan toleransi dan menangkal radikalisme.

Satu di antaranya dengan meluncurkan progam untuk anak muda yang bertajuk #dengaryangmuda. Seri pertama dari rangkaian program #dengaryangmuda adalah seminar dan mentoring session dengan tema #toleransijadiaksi, yang diikuti ribuan pelajar di Jakarta dan daerah-daerah.

Program yang diinisiasi Diaz ini bertujuan mewujudkan kehadiran pemerintah bagi anak muda. Melalui program #dengaryangmuda, pemerintah berkomitmen mengambil peran dalam mengembangkan potensi generasi muda dan terbuka untuk selalu #dengaryangmuda.

“Inisiasi seminar ini berawal dari brainstorming dengan beberapa SMA yang kami undang untuk menanyakan program apa sih yang ingin mereka (generasi milenial) dapatkan, khususnya berkaitan dengan pesan Bapak Presiden agar anak-anak Indonesia terus bermimpi untuk berprestasi untuk bangsa dan sekaligus kami ingin mencegah radikalisme dan menumbuhkan toleransi dikalangan milenial. Hasilnya, mereka ingin adanya suatu talkshow dan juga sharing session dengan para mentor,” papar Diaz Hendropriyono.

 

Diaz mendorong anak muda Indonesia untuk berani bertindak jika ada ajakan negatif dari luar, khususnya radikalisme yang ingin merongrong kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Toleransi jadi aksi sebagai rangkaian pertama acara #dengaryangmuda, bertujuan mengikis sikap diskriminatif dan menanamkan pentingnya menciptakan suasana yang damai bagi perkembangan generasi muda Indonesia.

“Kita hidup di Indonesia dan tentunya mencintai negara kita. Sebagai generasi penerus, anak muda harus berani menyuarakan toleransi, persatuan dan menolak radikalisme di lingkungan kita. Saatnya kita beraksi dengan melakukan hal-hal yang positif bagi bangsa dan negara kita,” imbuh Diaz.

 

Bersama PM Malaysia Dr. Mahatir Mohammad.

 

IMC dan Diplomasi dari Hati ala Diaz

Hubungan Indonesia-Malaysia dalam lintasan sejarah kerap mengalami pasang-surut. Keharmonisan kedua negara berkali-kali diuji dengan berbagai  isu sensitif yang memicu ketegangan dan konflik berkepanjangan. Mulai dari sengketa perbatasan, kekerasan terhadap TKI, klaim kepemilikan hak cipta lagu, meningkatnya peredaran narkoba yang masuk ke Indonesia dari pintu Malaysia, dll.

Pemerintah, lembaga legislatif, organisasi keagamaan, kebudayaan, kemasyarakatan, kepemudaan dan profesi dari kedua negara sudah dan terus berupaya mengatasi berbagai persoalan yang muncul dan menciderai hubungan persaudaraan antar masyarakat kedua negara serumpun.

Mengunjungi Menara Petronas, Kuala Lumpur, 19 Maret 2016.

Sayangnya pendekatan diplomasi yang selama ini diupayakan melalui lembaga-lembaga formal dan informal dirasa belum mampu menyentuh akar rumput, rakyat dari kedua negara. Perselisihan pendapat dan perang argumentasi antar orang per orang dari kedua negara yang telanjur terjadi di ranah publik (media massa dan media sosial) yang memunculkan rasa sentimen, terbukti tidak dapat diredakan melalui jalur organisasi dan atau secara kelembagaan.

Realitas itu menggambarkan betapa hubungan yang harmonis di tingkat elit Indonesia dan Malaysia, tidak selalu mencerminkan relasi harmonis antar anak bangsa dari kedua negara. Jelas diperlukan pendekatan baru untuk menciptakan saling pengertian, cinta kasih, kepedulian, dan budaya tolong-menolong antar masyarakat Indonesia dan Malaysia.

Karena itu, kehadiran Indonesia Malaysia Club (IMC) yang mengedepankan peningkatan hubungan antar orang per orang (people to people relationship) masyarakat Indonesia dan Malaysia patut diapresiasi. IMC yang didirikan pada 16 Maret 2016 atas inisiatif Staf Khusus Presiden RI Diaz Hendropriyono adalah wujud diplomasi dari hati ke hati sesama saudara serumpun.

Diaz Hendropriyono memandang penting peningkatan hubungan Indonesia-Malaysia dari hati ke hati melalui people to people relationship, sebab sejarah mencatat, perbaikan hubungan kedua negara tercapai berkat dukungan publik yang kuat. Hal itu hanya bisa dilakukan jika hubungan antarmanusia di kedua negara tetangga dalam kondisi harmonis dan saling mendukung.

Diaz menekankan perlunya mengedepankan kesamaan dan kesempatan bekerja sama, daripada saling menyalahkan. Dia mencontohkan kesamaan latar belakang pimpinan nasional Indonesia dan Malaysia.

Berbeda dengan organisasi kerjasama Indonesia-Malaysia lainnya, IMC adalah satu-satunya organisasi yang didirikan secara terbuka oleh para pemuda lintas organisasi, lintas partai dan dengan latar belakang yang berbeda-beda, untuk tujuan mempererat hubungan antar orang per orang dari kedua negara berdasarkan semangat persaudaraan, cinta kasih, kepedulian, dan tolong-menolong.

‎Sejak berdiri 2016, IMC telah mengadakan sejumlah kegiatan di kedua negara, antara lain: bakti sosial, konsultasi kesehatan dan pengobatan gratis di Cilincing, Jakarta Utara; “Networking Night” di Menteng; kunjungan ke Petronas, Malaysia, dll. Kesuksesan penyelenggaraan event bakti sosial di Jakarta akan disusul dengan kegiatan serupa di Malaysia, sehingga empati, kepedulian dan tolong-menolong sesama saudara serumpun terus terbangun.

Peran aktif IMC dalam meningkatkan hubungan dari hati ke hati masyarakat Indonesia-Malaysia, diharapkan dapat mencegah potensi konflik yang muncul dalam relasi kedua negara yang berpeluang menghambat roda pembangunan. Pada akhirnya, setiap masalah yang berpotensi memicu konflik dapat diselesaikan dengan semangat persaudaraan.

 

 

PKPI Bersama Presiden Jokowi Membawa Perubahan Indonesia Menjadi Lebih Baik

Kembali ke pidatonya sebagai Ketua Umum PKPI, Diaz mengajak pengurus dan kader PKPI untuk jeli melihat perkembangan yang terjadi di Indonesia dan di dunia saat ini. “PKPI harus mengerti, bahwa dunia ini sedang mengalami perubahan yang begitu pesat. Khususnya karena perkembangan teknologi yang mempengaruhi semua lini kehidupan. Baik kehidupan kebangsaan maupun kehidupan secara individu,” papar Diaz.

Beberapa dekade yang lalu, jelas Diaz, industri ekstraktif menjadi penopang perekonomian suatu negara. Tapi sekarang, suatu negara tidak akan maju tanpa ditopang oleh ide dan inovasi yang berkelanjutan. Melakukan perubahan internal partai untuk mengikuti perubahan yang terjadi di dunia, bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan cepat. Bahwasanya mengikuti perkembangan dunia bukanlah sebuah pilihan bagi kita semua, namun merupakan keharusan, kewajiban dan keniscayaan.

 

Dan yang terpenting, bahwasanya kita harus bisa melakukan perubahan agar tidak tertinggal oleh bangsa-bangsa lain, sesuai dengan pemikiran dari Presiden Joko Widodo, seorang pemimpin yang kita banggakan; seseorang yang mampu menjaga keberagaman di tengah ancaman polarisasi elemen bangsa; seseorang yang mampu membangun kesatuan negara dengan membangun konektivitas antar pulau; seseorang yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan berbagai program jaminan sosial; seseorang yang berani melakukan reformasi birokrasi secara konsisten; seseorang yang mampu mengurangi ketimpangan Barat dan Timur; seseorang yang mampu membangun kepercayaan investasi dunia terhadap Indonesia; dan yang terpenting, seseorang yang mampu membawa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Namun, Diaz mengingatkan, perubahan itu jangan sekali-kali melupakan akar budaya, adat istiadat dan agama. Perubahan itu janganlah sampai melupakan akar ideologi kita. Perubahan itu jangan melupakan sejarah berdirinya PKPI dan nilai perjuangan PKPI. “Seperti yang sudah diutarakan oleh Ketua Umum PKPI 2016-2018, Bapak AM Hendropriyono, bahwa PKPI memiliki empat platform dasar yang mengandung nilai untuk menyusun perjuangan PKPI. Yaitu, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tungal Ika, dan NKRI,” kata Diaz.

Diaz menegaskan, PKPI menolak pesimisme bahwa Indonesia akan bubar, dan berkeyakinan bahwa Indonesia akan terus raya sampai akhir dunia. Dalam hal ini, Diaz melihat adanya kesamaan pemikiran dan keselarasan tujuan antara tokoh-tokoh PKPI, antara lain Eddy Sudrajat, Try Sutrisno, dan AM Hendropriyono, dengan Presiden Jokowi, yang sama-sama gigih menjaga Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi, jiwa dan marwah bangsa.

Diaz menutup pidato politiknya dengan menekankan pesan utama bagi seluruh pengurus dan kader PKPI di seluruh Indonesia untuk memperjuangkan dan memenangkan Jokowi sebagai Presiden RI periode kedua.

“Perlu saya tambahkan, pengalaman saya mendukung Pak Jokowi sejak Pilkada Gubernur 2012, Pilpres 2014, dan saat ini Pilpres 2019, memberi keyakinan bahwa mendukung Pak Jokowi adalah keputusan yang tepat. Bukan saja untuk saya pribadi tetapi untuk seluruh bangsa Indonesia. Dengan ini saya ingin menegaskan bahwa dengan segala daya yang kita miliki, serta restu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seluruh kader PKPI dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, siap bekerja keras untuk memenangi Pemilu 2019. Seluruh kader PKPI siap untuk kerja, kerja, kerja, memenangkan Bapak Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia 2019-2024,” imbuh Diaz.

Presiden Jokowi bersama para hadirin yang menyimak dan menyaksikan Diaz berpidato tampak terharu. Tepuk tangan membahana diiringi seruan “kerja, kerja, kerja,” memenuhi Gedung Sekar Wijayakusuma, tempat berlangsungnya kongres.