Maryono, Bankir Cemerlang dari Tanah Rembang

247
views
Maryono, S.E., M.M., Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) disambut milenial Indonesia.
Namanya tercatat dalam sejarah, sebagai salah satu bankir terbaik yang dimiliki Indonesia. Melalui berbagai inovasi dan strategi cemerlangnya, bank yang tadinya pesakitan dan dalam kondisi sekarat, berhasil ‘diobati’ sampai sembuh bahkan sanggup berlari kencang dan melesat dengan pesat.

Kkisah yang paling fenomenal dan masih dikenang oleh publik adalah aksi Maryono memulihkan dan menyehatkan Bank Century. Bank yang belakangan berubah nama menjadi Bank Mutiara ini tampil bugar di bawah nahkoda Maryono. Maryono berhasil mengubah kondisi keuangan Bank Mutiara, dari Bank Tidak Sehat menjadi Bank Sehat hanya dalam waktu satu tahun. Luar biasa. Bank ini juga melompat dari status Bank Dalam Pengawasan Khusus menjadi Bank Dalam Pengawasan Normal dalam 2,5 tahun.

Catatan prestasi kembali ditorehkan Maryono saat mengemban amanah sebagai Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN). Atas kepiawaiannya, kini bank berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu berkembang pesat; BTN menjadi pemeran utama pembangunan rumah di negeri ini. Tak berlebihan jika kiprah Maryono dan BTN berperan penting dalam menyukseskan program sejuta rumah yang diinisiasi dan digalakkan Presiden Jokowi.

Jika dirunut ke belakang, kepiawaian Maryono mengelola bank tak lepas dari sepak terjang dan pengalamannya di dunia perbankan. Pria kelahiran Rembang 16 September 1955 ini memulai karir dari titik nol sebagai Wira Muda di Kelompok Pembahas Kredit Kantor Cabang Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) tahun 1983. Berbekal prinsip kerja keras, cerdas dan tuntas yang mendarah daging dalam dirinya, karir Maryono menanjak dari Kepala Cabang Bapindo di Batam dan Pontianak (1996-1997), Kepala Wilayah IX/Banjarmasin Bank Mandiri (Agustus 1999-Juli 2002), Kepala Wilayah IX/Banjarmasin Bank Mandiri (Agustus 1999-Juli 2002), Kepala Wilayah I/Medan Bank Mandiri (Juli 2002-Desember 2003), Executive Vice President/Group Head Jakarta Network Group PT Bank Mandiri (2004-2008), Komisaris Utama PT. Mandiri Investama (September 2007), dan Direktur Utama PT. Bank Mutiara Tbk (November 2008-Desember 2012). Lalu pada Desember 2012, Maryono didapuk sebagai Direktur Utama BTN, kepercayaan dari pemerintah — sebagai pemegang saham mayoritas — yang ia emban sampai dengan hari ini.

Mendampingi Presiden Jokowi dalam event BTN Digital Start Up Connect 2018.

Sengkarut Bank Century

T

tantangan terberat Maryono sebagai bankir adalah menyehatkan bank sakit. Pengalaman itu terjadi pada November 2008, Maryono yang kala itu menjabat Group Head Jakarta Network Bank Mandiri ditunjuk sebagai Direktur Utama Bank Century, setelah bank itu diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 21 November 2008. Ketika Maryono ditugaskan membenahi Bank Century, kondisi bank itu sudah kritis. Bank Century diambil alih LPS lantaran telah mengalami gagal kliring. Maryono mengakui, masalah Bank Century sangat kompleks dan jelas sekali bahwa bukan perkara mudah untuk menyelesaikannya.

Untuk diketahui, Bank Century merupakan bank hasil penggabungan Bank CIC dengan Bank Danpac dan Bank Pikko. Pada 28 Desember 2004, Bank CIC berganti nama menjadi Bank Century. Semula Bank Century dimiliki pengusaha Robert Tantular, namun terpaksa diambil alih LPS pada 21 November 2008, lantaran bank valuta asing terbesar ini diduga terlibat kasus penyalahgunaan dana nasabah.

Skandal Century ini dimulai pada 1989 ketika Robert Tantular mendirikan Bank Century Intervest Corporation (Bank CIC). Tahun 1999, pada bulan Maret, Bank CIC melakukan penawaran umum terbatas pertama dan Robert Tantular dinyatakan tidak lolos uji kelayakan dan kepatutan oleh Bank Indonesia. Pada tahun 2002, auditor Bank Indonesia menemukan rasio modal Bank CIC amblas hingga minus 83,06% dan CIC kekurangan modal sebesar Rp 2,67 triliun. Tahun 2003, bulan Maret, Bank CIC melakukan penawaran umum terbatas ketiga. Bulan Juni, Bank CIC melakukan penawaran umum terbatas keempat.

Pada tahun 2003 pun bank CIC diketahui terdapat masalah yang diindikasikan dengan adanya surat-surat berharga valuta asing sekitar Rp 2 triliun yang tidak memiliki peringkat, berjangka panjang, berbunga rendah, dan sulit dijual. BI menyarankan merger untuk mengatasi ketidakberesan pada bank ini. Tahun 2004, 22 Oktober dileburlah Bank Danpac dan Bank Picco ke Bank CIC. Setelah penggabungan nama tiga bank itu menjadi PT Bank Century Tbk, dengan aset 25 kantor cabang, 31 kantor cabang pembantu, 7 kantor kas, dan 9 ATM.

Tahun 2008, Bank Century mengalami kesulitan likuiditas ketika beberapa nasabah besar Bank Century hendak menarik dananya, termasuk pengusaha Budi Sampoerna yang akan menarik uangnya yang mencapai Rp 2 triliun. Kas Bank Century boleh dibilang kosong, dan bank itu dinyatakan tidak mampu mengembalikan uang nasabah. Tanggal 30 Oktober dan 3 November sebanyak US$ 56 juta surat-surat berharga valuta asing jatuh tempo dan gagal bayar. Keadaan ini diperparah pada tanggal 17 November Antaboga Delta Sekuritas yang dimiliki Robert Tantular tak sanggup membayar kewajiban atas produk discreationary fund yang dijual Bank Century sejak akhir 2007.

Tanggal 20 November, BI mengirim surat kepada Menteri Keuangan dan menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik dan mengusulkan langkah penyelamatan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sehingga, diputuskan menyuntikkan dana sebesar Rp 632 miliar untuk menambah modal agar dapat menaikkan CAR menjadi 8%. Enam hari dari pengambilalihan, LPS mengucurkan dana Rp 2,776 triliun pada Bank Century untuk menambah CAR menjadi 10%. Karena permasalahan tak kunjung selesai, Bank Century mulai menghadapi tuntutan ribuan investor Antaboga atas penggelapan dana investasi senilai Rp 1,38 triliun yang mengalir ke Robert Tantular.

Pada 5 Desember 2008, LPS menyuntikkan dana kembali sebesar Rp 2,2 triliun untuk memenuhi tingkat kesehatan bank. Akhir bulan Desember 2008 Bank Century mencatat kerugian sebesar Rp 7,8 triliun. Bank Century masih tetap diberikan kucuran dana sebesar Rp 1,55 triliun pada tanggal 3 Februari 2009. Padahal bank ini terbukti lumpuh. KPK menduga ada korupsi di balik bailout Bank Century.

Begitu rumitnya silang-sengkarut yang terjadi di Bank Century, sehingga siapa pun yang memimpin bank ini pasti menghadapi tantangan yang luar biasa untuk membenahinya.

Dari Century ke Mutiara: Strategi Bertahan, Tumbuh dan Keluar

P

pembenahan Bank Century di bawah kepemimpinan Maryono ditandai dengan pergantian nama, logo dan tagline. Pada Oktober 2009, Bank Century resmi berganti nama menjadi Bank Mutiara. Maryono menuturkan, pergantian nama ini bukan untuk melarikan diri dari setumpuk masalah yang ditimbulkan oleh manajemen lama Bank Century, sebaliknya justru untuk mengurai masalah yang membelit sebagai batu pijakan untuk pembenahan, dengan jalan memulihkan kepercayaan nasabah, karyawan dan masyarakat luas.

Pemilihan nama Bank Mutiara sebagai brand untuk menekankan pesan bahwa pendirian dan pengembangan bank ini, melalui proses yang pahit dan pempelajaran yang berharga, seperti mutiara di laut yang disapih dan dibentuk dengan rasa sakit, hingga menjadi permata yang bernilai. Maryono menggambarkan, berbagai rintangan dihadapi dengan penuh kesabaran oleh kerang mutiara dalam kurun waktu tahunan untuk akhirnya menghasilkan permata yang sangat indah dan bernilai tinggi. Karena itu, sebagaimana mutiara, Bank Mutiara dapat dimaknai sebagai persembahan paling bernilai kepada keluarga, kolega, nasabah, dan masyarakat.

Logo baru Bank Mutiara yang didominasi warna merah dan biru, tampak lebih berenergi jika dibandingkan dengan logo Bank Century yang berwarna pink. Dengan tagline baru “Bernilai Karena Anda Berharga”, Bank Mutiara menunjukkan esensi dari layanan perbankan. Sebuah lambang mutiara berada di atas huruf ‘i’ dalam kata Mutiara. Lambang mutiara digambarkan dengan lingkaran berwarna merah dan di dalamnya berwarna biru dan putih. Warna merah memberi tambahan energi, warna biru berarti kepercayaan dan bersih sehingga diharapkan segera mengembalikan kepercayaan masyarakat. Perubahan nama, logo dan tagline yang diinisiasi Maryono terbukti berhasil membangkitkan energi positif dan memulihkan kepercayaan masyarakat.

Maryono mengisahkan, di awal kepemimpinannya, Bank Mutiara harus menghadapi berbagai masalah internal dan eksternal yang berat. Seperti diketahui, secara eksternal kepercayan masyarakat terhadap bank ini luntur. Terlebih setelah terkuaknya kasus Bank Century yang akhirnya merembet ke ranah politik. Di sisi lain, karyawan bank yang sebelumnya tidak mengetahui kondisi bank tempatnya bekerja, sempat patah semangat dan kehilangan harapan.

Bagaimana strategi Maryono memulihkan krisis di Bank Mutiara? Maryono menetapkan sejumlah strategi. Pertama, tiga bulan pertama kepemimpinannya sebagai fase survival. Bila selama tiga bulan pertama Bank Mutiara bisa bertahan, ada harapan untuk dapat hidup terus dan bangkit. Namun bila tidak berhasil, Maryono sudah menyiapkan opsi terburuk kepada pemerintah untuk menutup saja bank ini. Untuk bertahan di tiga bulan pertama, fokus Maryono adalah memulihkan kepercayaan nasabah dan loyalitas para karyawan, sebagai dua pilar utama penyangga Bank Mutiara.

Kedua, manajemen berusaha melakukan pendekatan pribadi kepada nasabah potensial untuk tidak menarik dananya dari Bank Mutiara. Pendekatan itu dibarengi dengan mengemukakan apa saja yang akan dilakukan manajemen sebagai bukti kesungguhan untuk membenahi Bank Mutiara dan menjelaskan bentuk dukungan dari pemerintah dalam hal menjamin keamanan dana nasabah. Pendekatan pribadi kepada nasabah terbukti berhasil. Bahkan, hebatnya banyak nasabah yang malah menambah jumlah tabungan dan deposito mereka di rekening Bank Mutiara. Padahal di antara mereka ada yang telah kehilangan uang akibat kasus Antaboga.

Ketiga, dari sisi internal, untuk membangkitkan semangat dan harapan karyawan, manajemen memberikan pengertian bahwa keputusan pemerintah untuk mem-bailout Bank Mutiara ini tak boleh disia-siakan. Justru momentum untuk menjadi bank yang berkembang pesat. Sebab, jika pemerintah memilih menutup Bank Mutiara, karyawan akan kehilangan pekerjaan. Sebaliknya, jika berkembang pesat, karyawan akan ikut menikmati sukses bersama.

Layaknya seorang dokter, Maryono berusaha sekuat tenaga memulihkan kesehatan pasiennya. Proses pemulihan Bank Mutiara tergolong cepat. Bank Mutiara berhasil keluar dari kondisi Bank Tidak Sehat menjadi Bank Sehat hanya dalam waktu satu tahun,dan mentas dari status Bank Dalam Pengawasan Khusus menjadi Bank Dalam Pengawasan Normal dalam 2,5 tahun. Banyak yang tidak mengira bank ini dapat dapat berbenah dalam waktu yang tergolong singkat, mengingat begitu rumit persoalan yang membelit.

Bahkan Maryono mengakui, proses pemulihan yang terjadi di Bank Mutiara merupakan sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Saat diambil alih LPS, rasio kecukupan modal atau CAR (capital adequacy ratio) -23%. Namun, per 30 Juni 2012, CAR Bank Mutiara sudah mencapai 11,1 %. Kredit bermasalah atau NPL (non performing loan) pun turun dari 10,4% menjadi 3,4%. Turun drastis dan berada di bawah batas ketentuan Bank Indonesia, yakni maksimal sebesar 5%.

Tak hanya sehat, Bank Mutiara juga mampu memberikan keuntungan bagi pemerintah. Tahun 2011 misalnya, Bank Mutiara berhasil membukukan laba bersih Rp 260 miliar. Tahun selanjutnya hingga semester I, bank ini berhasil membukukan laba bersih Rp 83,8 miliar atau meningkat 309,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, saat diambil alih oleh LPS pada tahun 2008, Bank Mutiara masih mengantongi kerugian Rp 7,2 triliun.

Hasil kerja keras Maryono bersama tim manajemen dan karyawan tak sia-sia. Sejumlah investor menyatakan minatnya untuk membeli Bank Mutiara. Kebanyakan mereka merupakan investor luar negeri.  Pada 2014, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) secara resmi menyerahkan 99 persen saham PT Bank Mutiara ke perusahaan keuangan asal Jepang, J Trust Co. Ltd. Persetujuan transaksi tersebut didapat setelah melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Maryono berhasil memulihkan dan menumbuhkan Bank Century, dengan energi baru sebagai Bank Mutiara, hingga mengantarnya menjadi rebutan investor.

Transformasi BTN: Bisnis, Infrastruktur, dan SDM

M

melewati tahun-tahun penuh tantangan di Bank Century, hingga sukses mentransformasikan Bank Century menjadi Bank Mutiara yang berkembang pesat,  menambah kuat kemampuan Maryono sebagai “dokter spesialis” mengobati bank sakit. Sosok murah senyum ini lantas dipercaya oleh pemerintah untuk mengemban amanah sebagai Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) pada 2012.

Ketika Maryono masuk, BTN memang tidak sakit. Performanya baik, hanya saja pemerintah tidak ingin sekadar baik, tetapi harus tumbuh besar dan menjadi pemimpin pasar. Di bawah kepempinan Maryono, pemerintah meyakini BTN akan berkembang pesat, terlebih dengan visi besar Maryono menjadikan BTN pemimpin pembiayaan perumahaan dan kebutuhan rumah tangga Indonesia dengan layanan kualitas dunia.

Untuk mewujudkan visi besarnya, Maryono mentransformasi BTN secara mendasar dan menyeluruh; transformasi bisnis, infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM). Ketiganya dilakukan secara simultan sebagai langkah percepatan mengangkat BTN menjadi perusahaan kelas dunia. Dalam hal transformasi bisnis, ia menetapkan tiga tahap: tahap pertama adalah survival transform yang telah dilalui pada 2013 hingga 2015; tahap kedua, periode digital banking yang dijalankan sejak 2015; dan tahap ketiga adalah global partnership transform untuk menyiapkan BTN menjadi pemain global.

Pada transformasi infrastruktur, BTN mengembangkan layanan digital banking untuk lebih memudahkan layanan perbankan bagi nasabah dan sistem operasi BTN. Penerapan layanan digital banking telah dilakukan BTN dengan membuka gerai smart branch, portal www.btnproperti.co.id bagi masyarakat yang ingin mencari informasi terkait kredit rumah baru hingga soal mengajukan KPR. BTN juga membangun portal www.rumahmurahbtn.co.id untuk masyarakat yang ingin memiliki rumah dengan harga yang lebih murah melalui proses lelang.

Sedangkan transformasi SDM dilakukan untuk mempercepat proses kerja BTN dengan mengedepankan good corporate governance. Proses transformasi SDM BTN tercermin dalam rekrutmen karyawan yang didominasi generasi milenial. Semua proses transformasi BTN dirangkum dalam program ‘5 Siap,’ yakni Siap SDM, Siap Teknologi, Siap Proses Bisnis, Siap Pendanaan dan Siap Suplai Rumah.

Transformasi mengantar BTN ‘naik kelas’ menjadi lebih baik, tak hanya menjadi anchor dalam program sejuta rumah. BTN kini tercatat sebagai bank dengan aset terbesar ke-5 di Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan bisnis BTN rata-rata sekitar 18-20%. Untuk pertumbuhan KPR bahkan mencapai 21,86% YoY per Juni 2018.

Dengan kinerja positif, hingga 30 Juni 2018, BTN masih menjadi pemimpin pasar KPR di Indonesia dengan pangsa sebesar 37,73% (lainnya dikuasai BCA sebesar 17,18%, BNI 8,94%, Mandiri 9,47% dan BRI 5,5%, CIMB Niaga 6,45 %, lainnya 14,67%). Sebagai bank yang befokus di pembiayaan perumahan sejak 1974, BTN berhasil mendominasi pasar KPR subsidi dengan nilai sebesar 94,12% dari total realisasi KPR subisidi nasional.

Maryono bahkan telah menyiapkan cetak biru sebagai langkah transformasi BTN menjadi pemain global. Periode global playership dimulai sejak tahun ini, 2019 hingga 2025. “Pada periode ini, kami akan membawa produk dan layanan BTN beroperasi sesuai standar layanan internasional atau kelas dunia. Tujuannya, agar semakin banyak menjangkau masyarakat Indonesia untuk memenuhi berbagai kebutuhan pribadi dan rumah tangga, terutama untuk memiliki rumah dengan murah, mudah, dan cepat. Kami juga terus memperkuat budaya kerja perusahaan sehingga dapat menjadi pondasi   tangguh menghadapi persaingan global dan menggarap berbagai peluang bisnis ke depannya,” ungkap Maryono.

Untuk menggarap pasar di luar negeri, BTN terus menggalang kemitraan, terutama dengan para anggota yang tergabung dalam World Saving Bank Institute (WSBI) Asia Pacific Region. BTN bermitra dengan Dongbu Savings Bank untuk menganalisis peluang kerja sama bisnis di Korea.

Digital Banking: Inovasi untuk Percepatan Transformasi

D

di bawah komando Maryono, selain melakukan efisiensi dan menjaga kualitas kredit, BTN juga melakukan berbagai inovasi dalam menghadapi tantangan zaman, satu di antaranya adalah melakukan transformasi digital banking. Dalam hal ini, tidak hanya digital banking terkait layanan perbankan kepada masyarakat, lebih dari itu digital banking pada setiap transaksi dan operasi di semua kantor BTN. Dengan penerapan digital banking di semua sistem operasi, BTN berkembang menjadi perusahan layanan bank berbasis data yang cepat, akurat, dan transparan, sehingga kian mendapat kepercayaan masyarakat.

Proses inovasi digital banking yang digalakkan Maryono di BTN melibatkan generasi milenial yang cakap mengembangkan teknologi informasi menjadi start up bisnis potensial dan mendukung pengembangan BTN. Karena itu, BTN berkolaborasi dengan sejumlah start up karya milenial untuk mendukung bisnis perseroan, antara lain; KYCKI, ManPro, Gradana, dan Buildeco.

Kolaborasi BTN dengan KYKCI mempermudah nasabah BTN mengisi data dalam pembukaan rekening tabungan. Dengan penggunaan teknologi optical character recognition (OCR) pembukaan rekening tabungan cukup menggunakan foto KTP. Kemudian dengan Manpro, BTN bekerja sama dalam penggunaan aplikasi monitoring pembangunan proyek perumahan agar sesuai dengan rencana anggaran biayanya. Sedangkan dengan Gradana, BTN bekerja sama dalam KPR auto approval untuk pasar properti, di mana Gradana akan membantu debitur dalam pencicilan uang muka KPR. BTN dan Gradana bekerja sama dalam pembelian properti. BTN memberikan pencairan berdasarkan analisis kredit dan Gradana memberikan pencairan sejumlah uang muka kepada debitur. Sedangkan dengan Buildeco, BTN bekerja sama dalam portal perdagangan elektronik untuk pembelian bahan bangunan bagi mitra perseroan untuk mendukung program sejuta rumah, program konstruksi, dan program infrastruktur lainnya.

Kolaborasi strategis ini bertujuan mempercepat pelayanan kepada nasabah, baik segmen individu mau pun korporasi. Dengan berbagai inovasi, diharapkan obsesi BTN menjadi pemain global pada 2025 mendatang dapat terwujud. Untuk menyukseskan target tersebut, Maryono terus menempa generasi milenial untuk mengembangkan keahlian, memperkuat daya juang, dan membentuk ekosistem digital yang merangsang dan memacu lahirnya berbagai inovasi digital, sehingga berdampak positif mempercepat pertumbuhan perusahaan.

Maryono mengungkapkan langkah-langkah BTN menginovasi produk dan layanan. Pertama, bermitra dengan Plug n Play Indonesia dalam menjajaki perusahaan-perusahaan start up untuk dijadikan strategic partner BTN dalam bertransformasi digital. Kedua, penguatan e-channel, berkolaborasi dengan e-commerce dan fintech. Salah satunya dengan menjadi e-commerce acquirer mengingat transaksi e-commerce di Indonesia tumbuh sangat pesat.Tren ke depan, e-commerce diramalkan akan terus mendominasi perkembangan start up di Indonesia bersama dengan financial technology.

Kebutuhan dana dan kredit akan terus meningkat, karena itu bank harus cepat beradaptasi dengan perkembangan technology digital bersaing dengan maraknya peminat fintech. BTN pun mengembangkan aplikasi bergerak (mobile apps) untuk agen laku pandai dan digital on boarding untuk aplikasi kredit maupun pembukaan rekening.  Digital on boarding adalah layanan yang mengintegrasikan teknologi milik fintech berupa proses digital authentication dengan produk tabungan ataupun credit scoring dengan produk kredit BTN. “Start Up harus dirangkul perbankan, karena menguntungkan perbankan dan yang terpenting mempermudah masyarakat menikmati akses layanan perbankan yang mereka butuhkan,” jelas Maryono.

Bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan tim BTN Milenial.

Menggerakkan Kekuatan Generasi Milenial

S

sebagai orang Jawa tulen, Maryono memegang teguh filosofi ojo gumunan, ojo kagetan. Jangan mudah terpukau, jangan gampang terkejut. Falsafah Jawa yang sangat terkenal ini intinya mengingatkan setiap orang untuk selalu menanamkan sifat tenang dalam dirinya. Pribadi yang tenang dapat membangun sikap awas dan cermat. Maka tak heran jika pesan adiluhung ini kerap digunakan sebagai petuah bagi orang-orang besar yang merengkuh kesuksesan hidup, karir dan keuangan. Filofosi tersebut manjur membentuk pribadi yang tenang, jeli, tangguh, dan percaya diri, namun tetap ikhlas, membumi, dan sadar diri.

Maryono mengakui keputusan-keputusan hidupnya, termasuk dalam berkarier, banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai moral tersebut. “Saya mencari kehidupan yang tenang. Maka saya tidak takut kehilangan. Saya berusaha selalu menyelaraskan kehidupan jasmani dengan batin, tidak usah dibuat-buat, apa adanya,” tuturnya. Bagi Maryono, pribadi yang tidak kagetan dan tidak mudah terpukau oleh sesuatu apa pun, cenderung lebih mampu menentukan pilihan secara tepat. Alhasil, ia dapat menetapkan perencanaan untuk meraih target secara akurat dan teliti. Berkat ketepatan dan ketelitian dalam usaha meraih target, apa yang dicita-citakan akan mudah diwujudkan. Nilai-nilai itu mewarnai kepemimpinan Maryono sebagai Dirut BTN. Di kalangan anak buahnya di BTN, Maryono dikenal sebagai pemimpin yang sedikit bicara dan lebih suka memberi contoh. Karena itu, tidak heran ia dijadikan role model bagi para jajarannya di BTN, dari tingkat staf, manajer, kepala cabang, kepala divisi, hingga para direktur.

Di BTN, Maryono membangun lingkungan kerja yang hangat dan penuh kebersamaan, yang mendorong gairah kerja dan kreativitas karyawan tumbuh pesat hingga membawa BTN meraih pencapaian-pencapaian gemilang. Kendati demikian, ia juga terkadang harus menunjukkan ketegasan dalam hal kinerja dan sikap mental karyawan, wujud tanggung jawab penuhnya sebagai pemimpin tertinggi di BTN, kepada nasabah dan pemegang saham. Ia tidak segan-segan memberi sanksi jika mendapati karyawan melakukan kesalahan. Sebaliknya, ia memberi apresiasi kepada karyawan yang berprestasi. Semua penilaian kinerja karyawan ia sampaikan secara terbuka, sehingga menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi setiap karyawan. Dalam hal membangun budaya perusahaan, Maryono menggerakkan karyawan untuk bekerja secara profesional dan cepat, sesuai keahlian dan target pencapaian yang diberikan pimpinan masing-masing unit kerja.

Maryono mengandalkan tenaga kerja usia produktif untuk mentransformasikan BTN menjadi pemain utama sektor perumahan dan rumah tangga, serta memenangkan persaingan ketat layanan perbankan di era digital. Sebab itu, komposisi tenaga kerja di BTN sekitar 60 persen lebih, kini diisi oleh generasi milenial. Untuk membangun generasi milenial ini menjadi sumber daya manusia yang produktif, Maryono memodifikasi dan mengembangkan budaya perusahaan, dengan pendekatan SIIPS.

“SIIPS adalah singkatan dari Synergy, Integrity, Innovation, Professionalism, dan Strive of Excellence. Atinya, secara ringkas, adalah SDM harus bekerja lebih baik setiap harinya, harus sempurna, harus ada eskalasi kinerja setiap hari. Termasuk dalam hal mengembangkan teknologi keuangan untuk meningkatkan kualitas layanan BTN menjadi berkelas dunia. Intinya, dengan SIIPS kita mendorong generasi milenial melakukan transformasi dan modernisasi BTN untuk memenangi persaingan,” tutur Maryono..

Keberadaan generasi milenial di BTN bagi Maryono sangat penting untuk membawa kemajuan dunia properti di Indonesia, hari ini dan masa depan. Maryono mengaku beruntung memiliki 60 persen lebih SDM milenial. Mereka lebih mudah memahami situasi yang sedang bergejolak dan mencari solusi yang harus dilakukan bersama. Gairah milenial untuk berkembang adalah energi positif. Kekuatan inilah yang dioptimalkan Maryono dengan dukungan peningkatan keahlian lewat latihan dan kerja tim, mengedepankan sinergi dengan menumbuhkan budaya kerjasama, gotong royong, dan soliditas kerja tim.

Pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor properti, tidak lepas dari peran para milenial. BTN menilai milenial bukan hanya objek tapi juga subjek yang akan menjadi pendorong utama sektor properti. Karena itu, BTN berupaya mengoptimalkan peran mereka di sektor properti baik dari sisi supply maupun demand. Dari sisi demand, BTN meluncurkan program KPR Gaeesss pada triwulan III 2018, dengan fitur yang sesuai dengan kemampuan finansial milenial, sementara dari sisi suplai BTN mengajak milenial menjadi entrepreneur di bidang properti lewat pelatihan atau workshop yang diselenggarakan Housing Finance Center (HFC) BTN.

Pengembangan bisnis properti 2019, menurut Maryono, tidak akan lepas dari peran milenial baik dari sisi suplai dan permintaan properti, sehingga pelaku bisnis properti dan perbankan harus dapat mengatur strateginya menyesuaikan dengan “selera” milenial. Salah satu acuan memotret selera milenial antara lain dengan riset. Berdasarkan riset dari HFC terhadap 374 responden dari generasi milenial, sebanyak 43 persen menginginkan rumah satu lantai dengan halaman yang tidak terlalu luas, dan hanya sebesar 29 persen yang menginginkan rumah satu lantai berukuran cukup luas tanpa halaman. Sisanya menginginkan rumah dua lantai. Sedangkan dari sisi harga properti, sama halnya dengan generasi lain, rumah dengan harga terjangkau menjadi pilihan utama 46,8 persen responden, sementara pemilihan properti berdasarkan lokasi hanya menjadi sasaran utama bagi sekitar 36,6 persen responden. Kesimpulan dari riset tersebut adalah milenial masih membutuhkan rumah tapak untuk mereka jadikan tempat tinggal atau investasi, dan harganya harus terjangkau.

Dengan strategi yang tepat, BTN optimis akan dapat menggapai demand milenial dari seluruh lapisan masyarakat seperti Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), kelas menengah ataupun atas, dan setiap generasi, baik milenial, generasi X, baby boomers dan lain sebagainya. Untuk itu, BTN kini mengembangkan produk KPR disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dan kemampuan masyarakat Indonesia.Tahun 2019, BTN optimis dapat menyalurkan pembiayaan KPR sekitar 850.000 unit rumah. Jumlah tersebut naik 100.000 unit dibandingkan target 2018 sebesar 750.000 unit.

Di hadapan generasi milenial yang menyambut antusias program-program BTN untuk milenial.

Pemimpin Perumahan dengan Layanan Kelas Dunia

K

kinerja Maryono kerap dipuji oleh Menteri BUMN Rini Soemarno. Peran Maryono dalam mendukung Program Sejuta Rumah yang diinisiasi dan digalakkan Presiden Joko Widodo tergolong signifikan. Selama mengawal program tersebut, Maryono berhasil menyalurkan 95% KPR Subsidi kepada masyarakat, terutama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Ia memenuhi harapan pemerintah, menjadikan BTN sebagai garda terdepan pembiayaan perumahan rakyat dalam Program Sejuta Rumah.

Sanjungan memang layak diberikan kepada Maryono, berbagai inovasi dan strateginya untuk menyukseskan Program Sejuta Rumah berhasil meningkatkan pertumbuhan penyaluran KPR FLPP BTN di atas rata-rata perbankan nasional. Hingga akhir September 2018, BTN mencatat pertumbuhan penyaluran kredit 19,28 persen secara tahunan (year on year/yoy) di atas rata-rata perbankan nasional yang 12,12 persen. Secara faktual, BTN berhasil menyalurkan kredit senilai Rp220,07

Maryono optimis BTN akan mengusai pasar sebagai bank terbesar, terdepan dan terbaik di sektor pembiayaan perumahan. BTN memiliki keunggulan, sebagai bank pembiayaan perumahan sejak tahun 1974, pengalaman BTN sangat panjang. Selama 68 tahun BTN berdiri, hampir 4,5 juta masyarakat Infonesia telah menikmati kredit perumahan sekitar Rp437 triliun. Di sisi lain, BTN memiliki komunitas perumahan yang luas dan memudahkan pengembangan bisnis. Namun, Maryono mengaku tidak cukup puas dengan semua keunggulan itu. Ia menuntut terjadinya transformasi bisnis yang signifikan di BTN, yang membawa pada pertumbuhan besar dan keberlanjutan yang berjangka panjang.

Gagasan Maryono dalam transformasi bisnis, “Tak hanya menjadi bank terbesar, terdepan, dan terbaik di sektor perumahan, BTN bertransformasi menjadi bank multi-layanan yang terbesar, terdepan, dan terbaik dalam hal memberikan layanan keuangan lengkap kepada keluarga untuk mencapai hidup lebih sejahtera.” Untuk itu, ia bertekad membawa BTN menjadi tumbuh besar, baik dari sisi volume maupun perluasan layanan, dari sektor perumahan hingga kebutuhan pribadi dan rumah tangga secara keseluruhan, termasuk traveling, kesehatan, kebutuhan sehari-hari, dan lain sebagainya.

Bersasama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, menebarkan energi juang untuk berkarya dan berprestasi kepada generasi milenial.

Maryono menyadari BTN kini menjadi tumpuan rakyat. Terutama mengangkat harkat, derajat dan martabat masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan memiliki rumah. Sebab itu, 90% KPR yang disalurkan BTN untuk penyediaan rumah MBR. Satu sisi, Maryono ingin BTN tetap bertahan sebagai legenda bank perumahan sampai kapan pun. Untuk itu, BTN harus sungguh-sungguh dijaga kesehatan keuangannya dan kualitas layanannya. Sisi lain, BTN harus bertransformasi sebagai bank digital dengan layanan berkualitas dunia. Karena itu, di bawah kepemimpinannya, Maryono membawa BTN berlari kencang. Misalnya dengan memperbaiki rasio kredit macet, NPL. Terbukti, di tengah kondisi ekonomi yang memburuk, BTN berhasil menurunkan NPL dari 3% pada tahun 2014 menjadi 2,48% pada akhir tahun 2016. Hal itu merupakan prestasi luar biasa karena belum pernah terjadi NPL Bank BTN berada di bawah 3. Harus diakui mengelola NPL bank yang fokus di sektor perumahan sangat sulit, terlebih perumahan rakyat.

Untuk itu, ia membawa BTN melanjutkan proses transformasi digital yang telah digelar sejak 2015, memoles kinerja bisnis, infrastruktur, sumber daya manusia (SDM) perseroan, hingga menggelar aksi anorganik serta menjaga komitmen sebagai integrator Program Sejuta Rumah yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Sebagai integrator Program Sejuta Rumah, BTN di bawah kepemimpinan Maryono melakukan berbagai langkah untuk mengurangi kesenjangan antara jumlah rumah terbangun dan jumlah rumah yang dibutuhkan masyarakat (backlog). Tidak hanya meningkatkan kualitas dan kuantitas penyaluran KPR, lebih dari itu juga memperkuat sumber pembiayaan, mendorong keterjangkauan, mendorong sisi ketersediaan rumah, serta bersinergi dengan stakeholder perumahan untuk mempercepat penyediaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Agar bisnisnya terus berkembang, Maryono menargetkan BTN naik kelas menjadi bank BUKU 4 (bank dengan modal inti paling sedikit Rp 30 triliun) paling lambat pada 2020 mendatang.Target tersebut dapat diraih perseroan dengan asumsi kenaikan modal inti sebesar 20% per tahun. “Pada 2020 nanti, kami menargetkan, BTN menjadi pemimpin perumahan di Indonesia dengan pelayanan kelas dunia,” ungkapnya dengan mantap.

Ia memprediksi, BTN akan memiliki pangsa pasar sekitar 40% dan menyalurkan KPR sekitar 600.000 unit rumah per tahun. Dengan kinerja tersebut, bank berkode emiten BBTN itu akan menjadi entitas dengan aset sekitar Rp 800 triliun. Selama periode 2015–2022, pihaknya juga menargetkan BTN mampu berkontribusi dalam penyediaan rumah sekitar 3,5 juta unit atau sebesar 87,5% dari 4 juta unit yang merupakan total target Program Sejuta Rumah selama 5 tahun. Ia berobsesi, melalui perusahaan yang dinakhodainya, masyarakat Indonesia dapat menikmati hunian yang layak. BTN terus meningkatkan upaya mengangkat harkat, martabat, dan derajat kemanusiaan masyarakat berpenghasilan rendah melalui penyediaan rumah murah, dengan proses yang mudah dan cepat.

CEO BUMN Terbaik

C

cita-cita Maryono membawa BTN masuk jajaran Top Five kini sudah tercapai. Berkat kerja keras, cerdas dan tuntas Maryono dan jajarannya, BTN kini berada dalam posisi ke-5 sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia. Pencapaian ini mengantar BTN semakin mendekati The World Class Mortgage Bank. Atas prestasi luar biasa itu, ia meraih penghargaan sebagai CEO Terbaik untuk BUMN Terbuka dalam ajang bergengsi “Anugerah BUMN Award 2018”.

Penghargaan yang diraih Maryono sebagai CEO terbaik BUMN itu, melengkapi dua penghargaan BTN lainnya pada event yang sama; yaitu The Best GCG atau Tata Kelola Perusahaan Terbaik BUMN Terbuka dan sebagai BUMN Terbuka dengan Talenta Terbaik. Tiga penghargaan yang diraih sekaligus ini mengapresiasi kontribusi BTN sebagai BUMN yang telah menunjukkan kinerja unggul serta mampu berdaya saing di tingkat nasional dan global.

Untuk meraih penghargaan itu, jalan yang ditempuh Maryono berliku. Semua aspek kepemimpinan Maryono di BTN diuji secara mendalam dan komprehensif oleh Dewan Juri yang profesional dan independen: kinerja usaha, kinerja keuangan, kinerja kepemimpinan dan tata kelola perusahaan. Proses penjurian berlangsung tiga tahap, berupa seleksi kuesioner, presentasi pendalaman materi kuesioner di hadapan Dewan Juri, serta wawancara CEO. Banyak CEO berguguruan dalam proses ini, dan hanya yang benar-benar berkinerja tinggi mampu melenggang ke panggung utama.

Kepemimpinan Maryono di BTN dinilai berhasil terutama dilihat dari kinerja keuangan perseroan. Secara umum hasil yang diraih BTN sepanjang 2017 positif, di mana salah satunya tercermin dari harga saham BTN yang meningkat 115 persen, paling tinggi diantara bank BUMN dengan status perseroan terbuka. Disamping itu, kinerja BTN mengalami pertumbuhan yang luar biasa berada diatas rata-rata industri nasional. Maryono dinilai berhasil menorehkan kinerja BTN yang cemerlang di tengah perlambatan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Ketika sentimen negatif naiknya suku bunga The Fed berdampak pada hampir seluruh bisnis di dalam negeri, BTN mampu mencatatkan kinerja perseroan yang sangat baik dan sehat. Ini menjadi bukti, Maryono berhasil mengembangkan BTN melampaui harapan pemerintah, sebagai pemegang saham mayoritas.

Di sisi lain, Maryono dianggap berhasil memimpin BTN sebagai bank dengan penugasan khusus untuk mengembangkan perumahan rakyat. Kepemimpinannya di BTN berperan penting dalam menyukseskan Program Sejuta Rumah yang diinisasi Presiden Jokowi. “Alhamdulillah. Melalui program sejuta rumah, masyarakat berpenghasilan rendah sekarang bisa mendapatkan rumah layak dengan proses yang cepat, mudah dan murah”, ujar Maryono.

Sisi Lain: Keluarga dan Hobi

K

kebahagiaan terbesar bagi Maryono adalah keluarga yang mendukung dan mencintainya. Banyak hal yang harus ia perbuat untuk BTN, bangsa dan negara. Namun semua langkahnya harus mendapat dukungan keluarga. Ketulusan bekerja terbentuk karena mendapat dukungan keluarga. Tanpa dukungan keluarga, kerja kerasnya menjadi sia-sia; tidak tulus dan tidak maksimal hasilnya.

Karena itu, momen bersama orang-orang tercinta, bagi Maryono, adalah penting dan sakral, menjadikan hidupnya bermakna dan sempurna. Keluarga baginya adalah motivator terbaik. Tempat mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang terkasih. Dengan begitu lelahnya terbayar lunas. ”Kalau sama keluarga, biasanya pergi ke mal untuk bersenang-senang. Ngumpul-ngumpul dan happy-happy, ini bagi saya bagus untuk menjaga kebugaran jiwa dan raga,” ucap dia.

Di sela kesibukan sebagai orang nomor satu di BTN, Maryono masih menyempatkan diri menekuni hobinya di bidang fotografi. Bahkan, ia seakan tenggelam dalam kesenangan memotret. Tiap kali ada waktu luang, Maryono memotret apa saja yang ada di depannya. Objek fotografi yang paling ia minati adalah keindahan alam Indonesia. Sebab itu, dalam setiap kunjungan kerja ke daerah, ia berusaha menyempatkan diri berwisata ke lokasi-lokasi yang menawarkan pemandangan alami yang memukau.

”Favorit saya adalah Bali dan Lombok. Dua daerah ini memiliki keindahan alam yang bagus. Kehidupan sosial masyarakatnya juga sangat menarik untuk diabadikan,” tutur Maryono. Dari hobinya itu, tidak heran jika koleksi hasil jepretannya kini cukup banyak dan tersimpan rapi di kediamannya.

Maryono juga kerap mengarahkan jepretannya saat berada di luar negeri. Nah, untuk urusan hunting foto di luar negeri, dia mengaku takjub dengan sejumlah negara di Eropa yang memiliki bangunan tua dan terpelihara dengan baik. ”Kalau ke luar negeri, yang paling bagus Eropa. Terutama bangunan kuno terpelihara dengan baik. Pemukiman juga rapi banget,” ungkapnya. Kendati sudah tak terhitung berapa banyak objek yang dibidiknya, Maryono mengakui masih terus belajar fotografi. Termasuk kepada menantunya yang menguasai teknik fotografi.

Di luar fotografi, Maryono juga mengembangkan minat di bidang olahraga dan organisasi. Olahraga yang kerap dilakukannya usai jam kerja biasanya jogging dan golf. Di organisasi, Maryono hingga kini menjadi Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Diponegoro (Undip) periode 2017-2022. Ia terpilih kembali setelah memenangkan suara terbanyak dalam Musyawarah Nasional (Munas) IX Undip. Organisasi baginya adalah ladang amal dan wadah menyambung silaturahmi.