Santos Thenu: Selalu Ada Peluang untuk Benahi Pasar Tradisional Jadi Pasar Modern

95
views
Santos Thenu, Business Development Director Lotte Mart Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga. Bahkan menurut BPS pada 2017 ini konsumsi rumah tangga diperkirakan mencapai 60-70 % ekonomi Indonesia. Konsumsi rumah tangga memang selalu menjadi andalan pemerintah dan otoritas keuangan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peran industri ritel sangat strategis, berada di garda depan dalam pemenuhan konsumsi rumah tangga.

Lantas, bagaimana prospek industri ritel Tanah Air ke depan dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangannya?. Untuk menjawab pertanyaan ini dari persfektif pelaku bisnis ritel, Achmad Dzulfikar mewawancarai Santos Thenu, Business Development Director Lotte Mart Indonesia. Berikut petikannya:

Bagaimana prospek industri ritel Tanah Air satu dekade mendatang? Bisa digambarkan potensi pasarnya?

Pertanyaan yang menarik. Bicara prospek industri ritel, kita harus mengacu data dari lembaga riset independen. Biasanya yang kerap dipakai oleh pelaku bisnis adalah McKinsey Global Institute Report. September 2012, McKinsey mengumumkan hasil risetnya yang menarik tentang Indonesia. Disebutkan bahwa pada 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi nomor 7 terbesar di dunia.

McKinsey lebih moderat dibandingkan Standard Chartered. Standchart malah lebih optimis lagi, memprediksi ekonomi Indonesia berada dalam posisi 5 besar dunia.

McKinsey merinci bahwa pengeluaran tahunan terbesar masyarakat Indonesia pada 2030 mendatang, nomor satu adalah saving & investment sebesar 565 miliar dolar. Berikutnya nomor dua food & beverage sebesar 194 miliar dolar, dan nomor tiga leisure sebesar 105 miliar dolar.

Jadi, kalau disimpulkan, makanan dan minuman plus hiburan di waktu luang menjadi sumber pengeluaran terbesar masyarakat Indonesia. Memang kenyataannya makan bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat kita. Orang beli rumah mungkin sekali seumur hidup. Beli baju juga belum tentu sekali sebulan. Tapi kalau makan dan minum, setiap hari. Bahkan sehari bisa beberapa kali. Kita mau meeting dan hangout saja biasanya makan dan minum. Fenomena ini sudah terjadi di masyarakat kita sejak sekitar 1990-an, di mana waktu itu ada revolusi F&B di Indonesia, banyak resto luar negeri masuk ke negeri kita.

Tingkat persaingannya antara ritel merk global dan pemain lokal?

Dari pengalaman kita, sebenarnya nggak mudah bagi merk global untuk ekspansi ke daerah. Jadi challenge tersendiri. Kekuatan pasar merk global memang ada di kota-kota besar. Di daerah, kita berhadapan dengan peritel lokal modern yang tangguh, dengan model manajemen yang sederhana dan jaringan distribusi yang luas. Seperti Yogya di Yogyakarta, Sri Ratu di Semarang, Hardys di Bali, dan Multimart di Manado, Alfamart, Indomart, dll yang berkembang pesat di daerah-daerah. Karena manajemennya sederhana di mana pengambil keputusan cukup dekat secara geografis, mereka bisa mengeksekusi kebijakan perusahaan dengan cepat.

Saya memang orang Indonesia yang bekerja di perusahaan asing. Kalau saya boleh bilang, sebenarnya sekarang saatnya kebangkitan ritel modern asli Indonesia. Lihat saja begitu berkembangnya ritel asli Indonesia di daerah-daerah. Ini menunjukkan masyarakat kita sudah berubah gaya hidupnya. Sekali lagi, belanja tidak lagi sekadar mencukupi keperluan, tapi sudah jadi gaya hidup.

Orang pilih belanja di supermarket, minimarket, di banding pasar tradisional yang belum hilang dari kesan becek dan kumuhnya.

Bagaimana dengan pasar tradisional yang trennya mulai ditinggalkan oleh masyarakat karena kalah bersaing dengan ritel modern?

Budaya belanja masyakat kita berubah seiring dengan meningkatnya taraf hidup. Wajar jika orang lebih memilih belanja di ritel modern karena bersih, nyaman dan banyak hiburan. Budaya belanja yang berubah itu tidak bisa dibendung dengan regulasi yang membatasi ritel modern. Tapi sebenarnya selalu ada peluang untuk membenahi pasar tradisional menjadi pasar modern yang memenuhi selera konsumen. Kita bisa mencontoh Singapura. Di sana pasar yang becek dan kumuh sudah nggak ada karena pemerintah amat perhatian pada pasar.

Saya salut dengan PD Pasar Jaya yang sukses mengubah Pasar Santa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.  Kehadiran Pasar Santa dengan wajah baru pada 2014 lalu sempat menggemparkan masyarakat dan mengundang rasa penasaran orang, setelah sebelumnya selama tujuh tahun ‘mati suri’. Pasar Santa yang semula becek berubah menjadi pasar modern yang lengkap dan penuh berbagai kios dagangan, tenan kuliner, café dan hiburan. Anak-anak muda menjadikan Pasar Santa tongkongan favorit di Jakarta. Begitu fenomenal sampai-sampai sejumlah menteri sengaja datang mengunjungi Pasar Santa. Sayangnya, euforia itu tidak berlangsung lama. Baru setahun melejit, ketenaran Pasar Santa meredup setelah banyak toko yang tutup. Pengunjung pun sekarang sepi. Saya nggak faham apa masalahnya karena nggak mengikuti lagi perkembangannya kemudian.

Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan industri ritel Tanah Air? Apakah tata kelola logistik dalam negeri masih menjadi kendala bagi pelaku bisnis ritel?

Kalau saya cermati, setidaknya ada tiga poin yang menjadi tantangan industri ritel kita hari-hari ini.

Pertama, logistik. Bagaimana pun Indonesia adalah negara kepulauan. Bisa dipahami kalau distribusi logistik masih menjadi tantangan. Khususnya untuk kawasan timur Indonesia.

Kedua, properti. Kenaikan harga properti lima tahun terakhir ini gila-gilaan. Bahkan nggak seirama dengan daya beli. Juga nggak seiring dengan harga sewa. Sebagai contoh ruko di BSD (Bumi Serpong Damai) yang 5 tahun dijual dengan harga 1 miliar, sekarang sudah 5 miliar. Ruko itu sempat disewa tukang soto dengan harga sewa 25 juta pertahun, sewaktu harga jual rukonya 1 miliar. Nah, kalau naik jadi 5 miliar, mau disewakan dengan harga berapa? Sampai sekarang ruko itu belum terjual. Jadi jangan heran kalau kita lihat di berbagai tempat ada banyak ruko belum terjual. Ini menyulitkan orang untuk membuka usaha.

Regulasi pemerintah yang sering berubah-ubah kerap menghambat pelaku usaha ritel untuk ekspansi.

Ketiga, regulasi. Regulasi pemerintah yang sering berubah-ubah kerap menghambat pelaku usaha ritel untuk ekspansi. Sebagai contoh, pemerintah pusat tiba-tiba mengeluarkan aturan yang mewajibkan pelaku usaha ritel untuk mengikuti Rencana Detail Tata Ruang (RDRT) setiap membuka outletnya di daerah. Masalahnya hanya beberapa daerah yang sudah punya RDRT. Lalu, peraturan itu ditinjau ulang.

Kenangan bersama Presiden RI ke-4 KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

Pemerintah mengeluarkan sejumlah Paket Kebijakan Ekonomi, yang tujuannya antara lain membenahi logistik. memangkas aturan (deregulasi) dan menyederhanakan birokrasi (debirokrasi). Sejauhmana kebijakan ini akan berdampak positif pada investasi pada industri ritel Tanah Air?

Tentu saja kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Jokowi yang mendukung pengembangan industri ritel menjadi kabar baik bagi pelaku bisnis ritel. Kita berharap pemerintah terus berbenah memperbaiki tata kelola logistik dan perizinan untuk semakin menggairahkan investasi di industri ritel. Kita yakin pembenahan di berbagai sisi akan menjadi  solusi atas tantangan-tantangan yang dihadapi pelaku bisnis ritel.

Bagaimana rencana pengembangan bisnis Lotte Mart Indonesia, khususnya untuk mewujudkan visi menjadi 10 besar di Asia pada 2018?

Dalam hal penjualan, kita bersyukur Lotte Mart Indonesia sekarang berada di posisi tiga besar di Asia. Sebagai pusat grosir kita berada di posisi nomor 1 di Indonesia. Di tengah pertumbuhan ekonomi global dan Asia yang belum sesuai harapan, tentu saja ini pencapaian yang patut disyukuri.

Mengutip Business Plan Lotte Ltd disebutkan bahwa perusahaan berambisi mendominasi pasar lokal di tiga negara; Tiongkok, Vietnam, dan Indonesia dengan membuka 20 gerai lagi di tiga negara tsb. Sejauhmana realisasinya di Indonesia?

Indonesia tetap menjadi prioritas bagi Lotte Mart untuk ekspansi karena konsumsi dalam negeri kita sangat besar, dan pertumbuhan ekonomi kita cukup baik di tengah tantangan ekonomi global. Karena itu, kita terus berekspansi. Seperti tahun lalu kita buka 5 gerai baru di sejumlah kota, antara lain di Jakarta dan Surabaya.

Belum lama ini Lotte Mart bekerjasama dengan Salim Group untuk merambah pasar e-commerce. Tampak jelas Lotte Mart membidik peluang e-commerce sebagai salahsatu strategi ekspansi, bagaimana potensi pasarnya di tengah persaingan ketat?

Ya, kita melihat tren belanja online masyarakat Indonesia terus meningkat. Terutama di perkotaan. Pemerintah pun mendukung perkembangan e-commerce. Tentu saja ini peluang yang menarik untuk dikembangkan. Itu sebabnya kita menjalin kerjasama dengan Salim Group untuk merambah pasar ritel di dunia maya. Potensi pasarnya sangat besar.

Keunggulan dalam hal apa yang akan membedakan e-commerce Lotte Mart dengan e-commerce lainnya yang sudah lebih dulu merebut pasar Indonesia?

Soal e-commerce saya nggak bisa bicara detail. Ada tim tersendiri yang menangani. Yang jelas, e-commerce Lotte di negeri asalnya, Korea Selatan, menempati posisi nomor 1. Kemungkinan kita akan mengadopsi konsep e-commerce Lotte yang sudah sukses di Korsel, dengan penyesuaian-penyesuaian mengikuti selera konsumen Indonesia.

Bagaimana peran dan kontribusi Lotte Mart Indonesia dalam pengembangan UKM di Tanah Air?

Lotte Mart sebagai pusat grosir sebenarnya setiap saat berhubungan langsung dengan UKM karena konsumen utama kita adalah UKM. Selain perorangan yang belanja grosir untuk kebutuhan mingguan dan bulanan, kita justru lebih banyak melayani konsumen pelaku usaha kecil, seperti warung-warung. Mereka belanja secara grosir untuk dijual kembali. Dalam hal ini, termasuk hotel, restoran, dan katering (horeka) yang belanja grosir untuk kebutuhan sendiri. Jadi, peran dan kontribusi Lotte Mart untuk UKM boleh dibilang sejak Lotte Mart ada di Indonesia.

Di luar itu, kita juga berkontribusi sosial dengan masyarakat. Seperti program Kulakan Kita-Kita. Lewat program ini, masyarakat kurang mampu yang berminat buka warung kita fasilitasi.

Kita sediakan gerobaknya dan barang daganganya. Tanpa mengeluarkan modal sedikit pun. Bahkan, biaya modal para pedagang untuk pengadaan barang dagangan bisa dibayar dengan sistem cicilan. Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan program ini, kita bekerjasama dengan BNI. Dalam hal ini, disediakan kredit modal untuk belanja barang di Lotte Mart yang bisa dibayar menyicil ke Bank BNI.

Selain itu, kita bekerjasama dengan Rumah Zakat Indonesia untuk mengumpulkan potensi zakat masyarakat Indonesia yang berbelanja melalui jaringan ritel Lotte Mart. Dananya disalurkan melalui Rumah Zakat untuk pengembangan sosial masyarakat, pendidikan, dan keagamaan.