SEBUTIR TELUR DIBAGI DELAPAN: Kisah Perjuangan Anak Petani Menjemput Mimpi, Hingga Jadi Menteri dan Ketua MPR RI

0
426
views

“Kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang untuk belajar dan belajar haruslah menawarkan jalan keluar dari kemiskinan.”

~ LYNDON B. JOHNSON, Presiden Amerika Serikat ke-36 ~

Sebutir telur dibagi delapan adalah kisah nyata tentang anak Indonesia yang berjuang keluar dari jeratan kemiskinan. Kisah ini sekali lagi meneguhkan hikmah kehidupan, bahwa siapa pun hari ini yang hidupnya dihimpit dalam berbagai bentuk kesulitan, selalu diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjemput hidup sukses sesuai impian. Berhasil keluar dari jerat kemiskinan dan kemudian mencapai kehidupan sesuai impian adalah proses panjang dari tindakan kecil harian yang diakumulasi dalam keyakinan tak tergoyahkan dan ketekunan tak terhentikan.

Zulhas berbaju Pramuka bersama saudara kandungnya.

Sepenggal Kisah dari Desa Pisang

Tahun 1969 di Desa Pisang, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, seorang bocah melangkahkan kaki tanpa alas, keluar dari pintu rumah dan berjalan ke sekolahnya sejauh lima kilo meter. Sesekali ia berlari-lari kecil, sambil bersenda gurau dan bernyanyi, bersama teman-temannya. Berjalan kaki ke sekolah tanpa alas, pergi-pulang sejauh 10 kilometer, menjadi kesehariannya selama enam tahun mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Gayam di Desa Gayam, Kecamatan Penengahan. Tak hanya itu, sepulang sekolah, ia harus menempuh perjalanan 14 kilometer demi dapat belajar mengaji. Begitu gigihnya ia berjuang untuk merengkuh pengetahuan setiap hari sepanjang waktu.

Bocah itu adalah Zulkifli Hasan (Zulhas). Ia anak dari pasangan Hasan dan Siti Zaenab, keluarga petani miskin yang menggantungkan hidup dari berladang dan berdagang.

Betapa miskin keluarganya, sampai-sampai saban hari Zul bersaudara hanya makan nasi dengan lauk telur berukuran seperdelapan, dari sebutir telur yang dipotong delapan untuk dibagikan kepada saudara kandungnya. Agar sepotong telur berukuran seperdelapan itu terasa cukup untuk lauk sepiring nasi, Zul menyiasatinya dengan kerap menciumi bau telur tanpa memakannya. Ketika nasi hampir habis, baru kemudian telur itu ia makan.

Rumah keluarga Zulhas berada di dusun yang jauh dari keramaian. Bahkan sebagian kawasan desa masih berupa hutan lebat, lengkap dengan  binatang buas dan hewan buruan. Karena itu, tak aneh bila Zul kecil kerap berburu rusa dan babi hutan bersama warga suku Bali di kampungnya. Dibentuk di lingkungan desa yang dihuni suku Lampung, suku Jawa, dan suku Bali, membuat Zul kecil hidup membaur dan bersentuhan dengan ragam budaya bangsa.

“Kalau kami dapat rusa, rusanya buat saya. Kalau yang kena tombak babi hutan, buat sahabat saya dari suku Bali. Dari sana saya belajar tentang toleransi. Bahwa kita saudara se-bangsa se-Tanah Air,” kenang Zulhas.

Seperti halnya keluarga Zulhas, kemiskinan menjadi potret kehidupan masyarakat Desa Pisang, yang mayoritas berprofesi petani. Setiap hari warga bergelut dengan tanah ladang dan sawah, berjuang mengalahkan terik dan hujan, hanya untuk menyambung hidup.

Karena itu, ketika mendampingi ayahnya bekerja di ladang, ayahnya berpesan kepada Zul, “Nak, lihat para buruh tani, buruh ladang, kasihan mereka. Pergi saat gelap, pulang sudah gelap, nasib juga gelap. Kalau kamu besar nanti, kalau bisa tolong mereka.” Menyimak pesan sang ayah, Zul kemudian membulatkan tekad  untuk meraih mimpi menjadi pribadi sukses yang dapat menolong banyak orang.

Kendati hidup dalam himpitan kemiskinan, kedua orang tua Zulhas sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya. Sebab itu semua anaknya dapat bersekolah, meski dengan segala keterbatasan. Bagi mereka, sekolah adalah ladang pengetahuan, pembuka jalan untuk mencipta kehidupan sesuai impian.

Zulhas menggendong saudaranya.

Zul kecil pun tak menyerah dengan keadaan. Ia berusaha terus belajar tanpa henti. Belajar dari sekolah dan belajar dari kehidupan sehari-hari. Di sekolah ia belajar mata pelajaran, dan praktik kepemimpinan lewat kegiatan Pramuka. Di keseharian, Zulhas belajar tentang semua hal, tak hanya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, tapi juga untuk menjadi sosok yang berarti bagi keluarga dan lingkungannya.

Suatu hari saat kelas satu SD, Zul diminta ibunya belajar berdagang. “Anakku, sebagai anak laki-laki, tidak boleh bergantung pada orang lain. Anak laki-laki harus bisa mengikuti keluarganya dan saudara-saudaranya,” tutur ibunda.

Menanggalkan rasa malu, Zul memutuskan mengikuti petuah Ibunya dengan berjualan jagung rebus dan es balok yang dibuat sendiri. Ia jajakan dagangannya bekeliling kampung untuk ditukarkan dengan kopi, telur, cengkih. Pada hari libur, kopi dan cengkih, ia bawa ke pasar. Ia jual untuk mendapatkan uang.

Zulhas mengunjungi sekolah masa kecilnya.

“Jangan Pulang Sebelum Sukses”

Usai menamatkan sekolah dasar, sang ayah membawa Zulhas merantau ke Bandar Lampung, sejauh 100 kilometer dari Desa Pisang, untuk mengantar anaknya melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Tanjung Karang. Ayahnya berharap, kelak Zul menjadi ulama seperti Buya Hamka.

Zul berusaha mengikuti keinginan Ayahnya. Selama menempuh pendidikan di PGAN, ia indekos.. Namun pada tahun keempatnya di PGAN, Zul memutuskan berhenti. Dalam perenungannya, Zul merasa dirinya tak cocok menjadi ulama. Dengan pengalaman selama sekolah di kampung aktif kegiatan Pramuka dan gemar berdagang, Zul menyadari panggilan hidupnya adalah menjadi pemimpin, entah pemimpin bisnis dan atau pemerintahan.

Tanpa sepengetahuan ayahnya, Zul kemudian mengikuti ujian Madrasah Tsanawiah dan lulus. Dilanjutkan dengan mendaftar di SMAN Tanjungkarang dan diterima.. Mengetahui perbuatan anaknya yang keluar dari PGAN dan malah masuk sekolah umum, sang ayah memaksa Zul keluar dari sekolah.

Akhirnya, berbekal izin dan sedikit uang saku dari hasil ibunya menjual tabungan emas, Zul memberanikan diri pergi meninggalkan Lampung untuk merantau ke Jakarta. Sebelum berangkat, ibunya berpesan, “Jangan pulang sebelum sukses.”

Zul mengangguk, menyalami dan memeluk kedua orang tuanya, dan akhirnya memulai perjalanannya ke tanah rantau, menyeberangi Selat Sunda menuju Ibu Kota Jakarta seorang diri.

Di Jakarta, Zul mendaftar di SMA Negeri 53 dan dengan segala kesulitan mengikuti ujian masuk akhirnya ia diterima. Untuk dapat bertahan hidup dan bersekolah di Ibu Kota Jakarta, ia bekerja serabutan dari tukang cuci taksi hingga menjual minuman.

Perjalanan sekolah di SMA 53 Jakarta dilalui Zulhas dengan penuh tantangan. Ia dipaksa situasi untuk beradaptasi dengan pelajaran umum, seperti matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), pelajaran yang tidak didapatnya selama sekolah di PGAN Tanjungkarang.

“Awalnya saya nggak bisa jawab soal ujian masuk karena di sekolah sebelumnya tidak ada pelajaran matematika, ekonomi. Jadi semua pelajaran itu saya tidak mampu jawab karena belum pernah dikasih pelajaran itu. Jadi berapa lama pun menunggu saya tidak akan bisa jawab,” kenang Zulhas.

Perbedaan kurikulum di sekolah barunya menuntut Zulhas bekerja keras untuk menguasai semua pelajaran. Terlebih ia sudah telanjur berjanji kepada ayahnya untuk berprestasi di sekolah dan sebisa mungkin masuk ke jurusan IPA.

Setiap kali mengingat ibunya menjual perhiasan untuk bekal ia merantau dan sekolah di Jakarta, Zulhas terenyuh dan bertekad untuk berhasil di sekolah dan di kehidupan. Terngiang lagi pesan ibunya, “Jangan pulang sebelum sukses.” Pesan ibunda berhasil memompa semangat juang Zulhas dalam belajar dan mengantarnya menjadi juara satu di sekolah.

Momen Zulhas dalam suatu kesempatan lawatan ke Thailand setelah jadi pengusaha.

Gagal Masuk PTN, Kuliah Swasta Sambil Jadi Pedagang Panci

Lulus dari SMA 53 Jakarta, Zulhas berusaha keras mengikuti ujian masuk untuk sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN), antara lain Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Namun, tak satu pun lolos alias diterima.

Kendati tergolong siswa berprestasi di sekolahnya, tapi keberuntungan belum berpihak kepada Zulhas. Ia gagal mengenyam pendidikan di universitas negeri yang dicita-citakannya. Saat itu banyak temannya yang diterima di perguruan tinggi negeri, hanya dia yang tidak diterima.

“Saya mendaftar di Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran. Tidak diterima di UI, tidak diterima di ITB, tidak diterima di (Universitas) Gadjah Mada bukan akhir segalanya, tentu Tuhan punya rencana lain untuk saya,” tutur Zulhas.

Zulhas tak menyesal harus mengalami kegagalan ujian masuk PTN. Kendati demikian, keinginannya belajar tetap tak terhentikan. Ia percaya, Sang Pencipta telah menentukan jalan hidupnya.

Demi memuaskan keinginan kuliahnya, ia putuskan melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana (Unkris), Jakarta.  Kegiatan kuliah di Unkris dijalani Zulhas dengan tekun, sambil berdagang panci dari pintu ke pintu (door to door) demi mencukupi kebutuhan hidup dan studi.

Kenangan Zulhas bersama mendiang Ibnu Sutowo, orang dekat Presiden Soeharto dan Direktur Utama PT Pertamina.

Mundur dari PNS, Malah Jadi Pengusaha Sukses

Di tengah kesibukannya kuliah dan berdagang, Zulhas mendapat informasi pembukaan tes pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Kementerian Pertanian. Tanpa banyak pertimbangan, ia mencoba mendaftar dan mengikuti proses seleksi PNS yang cukup ketat, hanya dengan mengandalkan ijazah SMA.

Ketika hari pengumuman hasil CPNS tiba, tanpa diduga namanya muncul menjadi salahseorang yang diterima sebagai PNS Kementerian Pertanian. Jadilah ia PNS sekaligus mahasiswa dan pedagang.

Namun, Zulhas yang terbiasa menghadapi tantangan dan perjuangan, merasa menjadi PNS bukan panggilan hidupnya. Berbeda dengan kebanyakan temannya yang senang di zona nyaman, ia justru merasa seolah kehilangan bagian terpenting dari dirinya setelah menjadi PNS, yakni etos sebagai pemimpin dan inovator. Bertolak belakang dengan posisinya sebagai PNS yang pada masa itu umumnya lebih banyak perperan di belakang layar sebagi pengikut daripada pembuka jalan.

Lalu ia terkenang pesan ayahnya untuk jangan terus menjadi follower (pengikut) tetapi harus berani menjadi pemimpin meskipun dimulai dari sesuatu yang kecil.

“Begitu ingat pesan ayah, saya putuskan berhenti dari PNS. Meskipun dicibir teman-teman, saya dianggap sudah ‘miring’ (stress) gara-gara memutuskan mundur dari PNS, tetapi karena bertekad untuk menjadi pemimpin sekaligus pengusaha dengan penghasilan besar, saya acuhkan,” kisah Zulhas.

Di tengah kebingungan mencari bisnis yang paling tepat untuknya, Zulhas bertemu seorang teman yang mengajaknya untuk berdagang perlengkapan rumah tangga. Dengan modal keyakinan kuat yang ditanamkan orangtuanya, akhirnya Zulhas memberanikan diri untuk berjualan.

Usaha yang dirintis Zulhas lambat laun membuahkan hasil menggembirakan. Sampai kemudian pada tahun 1988, ia memutuskan mendirikan PT Batin Eka Perkasa (BEP), perusahaan penjualan dan distribusi peralatan rumah tangga yang menjual produk bermerk terkenal. Dengan bendera BEP, bisnis Zulhas semakin berkibar.

Puncaknya terjadi pada tahun 1997, ketika ia mendirikan pabrik peralatan rumah tangga dengan bendera PT Panamas Mitra Inti Lestari. Ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS jatuh, bisnis Zulhas justru meroket. Volume dan nilai penjualan perusahaannya meningkat ribuan persen.

“Tahun 1998-1999 pendapatan bersih bisnis saya luar biasa besar. Kalau dihitung rupiah mungkin Rp 100 miliar. Saya memandang itu peluang, maka jadi peluang betulan,” kenang Zulhas.

Pencapaian luar biasa dalam bisnis tidak menjadikan Zulhas terlena dan hidup bergelimang kemewahan. Sebaliknya dijadikannya sebagai momentum ekspansi dan pertumbuhan bisnis. Tahun 2000, ia memutuskan mendirikan dua perusahaan nyaris secara bersamaan, PT Sarana Bina Insani yang bergerak di bidang pendidikan dan PT Hudaya Safari Utama di bidang tour dan travel.

Keyakinan tak tergoyahkan dan ketekunan tak terhentikan akhirnya mengantarkan Zulhas, bocah miskin dari Desa Pisang menjadi seorang pengusaha sukses di Ibu Kota Jakarta.

Setelah menjadi pengusaha sukses, Zulhas kemudian berkiprah di bidang politik untuk berkontribusi kepada bangsa dan negara. Ia bergabung di partai politik sebagai Ketua Bidang Logistik Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN).

Singkat cerita, karir politik Zulhas terbilang moncer, hingga terus menanjak menjadi anggota DPR RI dan Sekretaris Jenderal DPP PAN. Dalam perjalanannya kemudian, ia diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Kehutanan RI. Setelah menyelesaikan tugas sebegai menteri, ia kemudian mengemban amanah sebagai Ketua MPR RI.

Zulhas kini dikenal sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), partai politik yang mewarnai reformasi dan tranformasi Indonesia hingga hari ini.

Sebagai Ketua Umum PAN, Zulhas tak hanya menyuarakan aspirasi masyarakat Indonesia. Di banyak kesempatan, ia juga berperan sebagai motivator untuk menginspirasi generasi muda Indonesa agar menempuh jalan hidup sebagai wirausaha, demi menciptakan lapangan kerja baru dan membangun Indonesia menjadi bangsa dan negara maju.

Keakraban Zulhas bersama Buya Syafi’i Maarif, tokoh bangsa, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pesan Zulhas kepada Generasi Muda Indonesia

“Sering saya katakan kepada para kolega, jangan cepat merasa tua, lalu berhenti berbuat yang terbaik untuk negeri ini. Tidak ada kata pensiun atau terlalu tua untuk terus berjuang. Energi untuk terus mencurahkan yang terbaik bagi umat dan bangsa harus terus kita rawat, kita hidupkan.

Apalagi buat mereka yang memang masih muda, inilah saatnya untuk mencurahkan tenaga, pikiran, rasa dan karsa untuk Indonesia. Jangan lelah berjuang, berbuat baik dan berkarya. Indonesia butuh para pejuang, butuh para pemenang. Karena kalau disadari, sesungguhnga ketika kamu lahir, kamu sudah jadi pemenang.

Sejak muda, luaskanlah pergaulan, perbanyak perjalanan, kayakan diri dengan pengalaman-pengalaman. Semua itu yang akan memberi kita bekal untuk memenangkan banyak perjuangan dalam hidup. Kemampuan bergaul dan memiliki lingkar pertemanan yang luas akan memberi kita bekal jaringan.

Perjalanan-perjalanan yang jauh akan memperluas cakrawala berpikir kita dalam melihat dunia. Pengalaman-pengalaman hidup yang beragam akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat.”

Zulhas dalam suatu acara untuk memotivasi generasi muda Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here