Tito Sulistio, Maestro Pasar Modal Indonesia

323
views
Perawakannya tinggi sedang. Pribadinya rendah hati dan penuh humor. Berbicara ceplas-ceplos apa-adanya, namun berbobot; sarat dengan pengalaman, pengetahuan, dan wawasan yang bernilai “emas”. Kendati pencapaian prestasinya di dunia pasar modal tergolong luar biasa, dari cara bicaranya yang ringan dan kocak, ia lebih nampak seperti teman ngobrol yang asyik, tetap biasa-biasa saja dan jauh dari kesan sebagai kaum elit ekonomi.

SSosok mengagumkan itu adalah Tito Sulistio, salahseorang tokoh pasar modal Tanah Air. Ia mengakhiri masa tugasnya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Juni 2018 dan langsung mengisi jabatan Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) hingga kini.

Tito meninggalkan warisan berharga untuk BEI dan industri pasar modal Tanah Air, berupa teladan kepemimpinan, strategi bisnis, etos kerja keras, kerja senang dan kerja ikhlas yang telah mengantar BEI mencapai prestasi gemilang: kapitalisasi, transaksi harian, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkali-kali mencapai rekor tertinggi dan terbaik sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

Seperti halnya Benteng Wulung, melambangkan semangat icon pasar modal Indonesia, kepemimpinan Tito sebagai Dirut BEI berhasil membangkitkan kepercayaan investor dan optimisme pelaku pasar modal Indonesia, meningkatkan investasi dan memajukan dunia usaha Tanah Air, mewujudkan kemandirian dan kemapanan ekonomi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan segudang pengalaman, baik di pasar modal, asosiasi, maupun emiten, Tito layak menyandang sebutan Maestro Pasar Modal Indonesia. Keterlibatannya merancang dan merintis pembentukan sejumlah lembaga yang mendukung kemajuan pasar modal Indonesia, hingga peran utamanya sebagai Dirut memajukan BEI, dengan prestasi sejajar bahkan kerap melampaui bursa pasar modal ASEAN, tercatat dalam sejarah perkembangan pasar modal Indonesia.

Dunia investasi, khususnya pasar modal, sudah mendarah-daging dalam diri Tito. Lebih dari tiga dekade ia mendalami ilmu investasi dan pasar modal, malang-melintang bergumul di lantai bursa. Siapa sesungguhnya Tito Sulistio? Bagaimana latarbelakang keluarga, pendidikan dan pengalamannya? Apa yang ia perbuat hingga BEI meraih berbagai pencapaian luar biasa?

Redaksi IndonesianBiography.com menyajikan perjalanan hidup, karir dan bisnis Tito Sulistio, lengkap dengan kepemimpinan, gagasan dan inovasi cemerlangnya, semata-mata untuk menginspirasi generasi milenial Indonesia. Simak kisahnya:

Machiko Rini Kusnaeni bersama Christine Hakim.

Lahir dari Rahim Wartawan-Pejuang

TTito adalah anak bungsu dari 10 bersaudara yang lahir di Bogor pada 5 Juli 1955 dari rahim Machiko Rini Kusnaeni, seorang perempuan Indonesia berdarah Jepang yang mendedikasikan hidupnya sebagai wartawan. Di kalangan pendengar radio dan insan wartawan Tanah Air, Rini dikenal sebagai reporter dan penyiar Siaran Bahasa Jepang Voice of Indonesia. Profesi wartawan ditekuni Rini sejak September 1977.

Rini adalah sosok penyiar dan reporter yang gigih. Lebih tepat disebut sebagai wartawan-pejuang. Tubuh mungilnya amat gesit dan berdaya juang tinggi ketika berada di lapangan untuk meliput berita. Kemana pun ia pergi selalu membawa perekam suara, seakan tak mau menyia-nyiakan setiap menemukan orang, momen atau peristiwa yang bernilai berita.

Ia wartawan yang kaya persfektif. Tak hanya mewancari public figure seperti Christine Hakim, Rano Karno, Ami Priyono (sutradara) yang menjadi narasumber untuk materi siarannya, ia juga memberi warna reportasenya dengan laporan ringan namun menyentuh sisi kemanusiaan dari hasilnya mewawancarai rakyat biasa; tukang cukur di bawah pohon, tukang gorengan dan tukang sapu di tepi jalan raya, untuk menyebarkan gambaran kehidupan masyarakat Indonesia kepada masyarakat Jepang.

Sebagai penyiar, Rini jeli mengangkat topik menarik dan menyentuh bagi pendengar siaran bahasa Jepang, Voice of Indonesia. Ia seorang yang tekun menyimpan dan mengelola arsip sejarah, termasuk menyimpan catatan sejarah hidupnya dan catatan sejarah siaran Bahasa Jepang, Voice of Indonesia.

Rini meninggal dunia pada Jum’at sore 13 April 2018 di usia 88 tahun. Atas jasa dan baktinya merekatkan hubungan antara masyarakat Indonesia dan Jepang, dedikasinya memperkuat hubungan pemerintah Indonesia dan Jepang, secara khusus Pemerintah Jepang menyematkan penghargaan satu bintang dari Kaisar, “Order of The Rising Sun Silver Rays” pada 13 Oktober 2010.

Ini adalah penghargaan tertinggi dari pemerintah Jepang untuk masyarakat dan mitra kerja kebudayaan di berbagai negara. Sebelumnya, pada 2008, Rini juga mendapat penghargaan dari Kementerian Luar Negeri Jepang, atas jasanya sebagai relawan dalam tugas menyusun dan menyiarkan program siaran radio berbahasa Jepang di RRI. Kemenlu Jepang menilai, Rini berjasa meningkatan saling pengertian antara Indonesia dan Jepang dengan memperkenalkan berbagai hal tentang Indonesia dalam bahasa Jepang melalui program radio.

Rini mewariskan etos kerja keras, kerja senang dan kerja ikhlas kepada putera bungsunya, Tito Sulistio. Termasuk daya juang untuk mendulang prestasi. Sebab itu, hal utama yang selalu menjadi senandung doa Rini untuk Tito adalah meraih pendidikan setinggi mungkin, menghimpun ilmu dan pengalaman sedalam mungkin, menjaring teman sebanyak mungkin, untuk menggapai sukses dalam hidup, keluarga dan karir.

“Ibu saya dari mulai menikah umur 19 atau 20 tahun sampai meninggal, setiap malam selalu bangun untuk shalat tahajud. Dia sembayang dan berdoa. Doanya cuma satu, enggak berubah. Dia cuma minta anak-anaknya dapat pendidikan yang tinggi dan sekolah yang rajin. Berkat doa Ibu, saya menjadi seperti hari ini. Prinsip orang tua saya itu benar, katanya kalau kamu sekolah kamu punya teman, punya duit. Dari sekolah, pertemanan dan rejeki, kita meraih sukses demi sukses,” kenang Tito.

Kisah Mahasiswa UI: Buku, Pesta dan Cinta

KKarir Tito di pasar modal boleh dibilang “kecelakaan”. Ketika ia kelas 3 SMA, Tito tak berminat menempuh studi sarjana ekonomi. Seperti kebanyakan teman-temannya pada masa itu, Tito lebih condong menyukai ilmu eksakta dan berniat melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Jadi, begitu lulus SMA, ia merantau ke Bandung untuk mengikuti bimbingan tes dan berharap diterima di ITB. Namun, jalan hidup Tito yang digariskan Tuhan tak selalu sesuai keinginannya. Namanya tak muncul dalam daftar calon mahasiswa yang diterima ITB.

“Sampai sana boro-boro bimbingan tes. Akhirnya nggak lulus. Tidak diterima di ITB. Belakangan saya diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ya sudah jalanin hidup. Semua orang bilang masuk Ekonomi susah, saya nggak takut. Memang bukan hal yang gampang untuk bisa masuk UI. Kita kadang-kadang nggak punya pilihan dalam hidup. Tuhan tuh punya jalannya sendiri, ikutin aja apa yang Dia mau,” tutur Tito.

Tito mengaku ia termasuk mahasiswa UI rata-rata: tak ada prestasi akademis yang menonjol. Nilainya tergolong pas-pasan. Ia tak begitu antusias dengan pelajaran di kelas, sebaliknya lebih senang bergaul dan berorganisasi. Karena itu, wajar jika perjalanan studi sarjana jurusan marketing di Fakultas Ekonomi UI ditempuh Tito dalam waktu yang cukup panjang, delapan tahun (1974-1982).

“Dulu sewaktu mahasiswa saya sibuk berorganisasi dan malah nggak sempat kuliah. Mahasiswa zaman itu saya berkenalan dengan tiga hal; buku, pesta dan cinta. Jadi kalau cuma buku doang, kamu jadi robot. Kalau cinta doang, maka kamu nggak punya output, jadi pengangguran,” ujar Tito.

Dalam suatu momen berbicara di hadapan ribuan mahasiswa UI, Tito tak lupa memotivasi para mahasiswa,”Eh, anak-anak UI yang baru, kamu jangan takut kalau nilai kamu nggak terlalu bagus. Yang penting lulus, kamu baru S1 kok. S1 saya pas-pasan, S2 saya dapat cumlaude, S3 saya IPK-nya 3,99. Lumayan kan ya? Kamu jangan takut nilau kamu jelek. Kamu jangan takut. Jangan sedih. Jangan kecewa kalau bahkan harus mengulang ujian. Tapi kamu harus kecewa jadi mahasiswa jika kamu meninggalkan UI tanpa meninggalkan cinta,” seloroh Tito, disambut gemuruh tepuk tangan para mahasiswa.

Bukan berarti pengetahuan dan pencapaian akademis tak penting, Tito menekankan besarnya manfaat bagi mahasiswa jika membangun relasi sejak dini. Karena menurutnya, lewat pertemanan dan persahabatan, peluang karir dan bisnis terbuka untuk kita. Hal itu terbukti dalam perjalanan hidup Tito selanjutnya. Begitu ia lulus sarjana, ketika banyak temannya masih mondar-mandir melamar kerja, Tito justru mendapat tawaran kerja dari temannya di PT 3M – Minnesota, Mining and Manufacturing Indonesia.

Dari Sales Hingga Bos Pasar Modal

PPeralanan karir Tito sesungguhnya dimulai dari titik nol, sebagai seorang sales atau tenaga penjualan, dengan posisi Koordinator Marketing di PT 3M (Minnesota, Mining and Manufacturing) Indonesia. Selang satu tahun kemudian, ia hijrah ke industri barang-barang konsumsi dengan menjadi Senior Brand Manager Food & Drinks PT Unilever Indonesia Tbk pada 1983-1989.

“Modal awal saya hanya teman dan nyali. Lagi kerja di 3M saya ditawari masuk Unilever. Masih bekerja di Unilever, saya diterima di Dirjen Pajak, walau pun cuma tiga hari kerja dan karena suatu hal saya putuskan keluar. Lanjut kerja di Unilever, nggak lama kemudian saya bangun securities companies,” cerita Tito.

Di penghujung dekade 80-an, Tito kembali hijrah ke perusahaan lain yaitu Penta Group (Pentasena Arthasentosa, Warta Arta, Money Broker). Di Penta Group dia diaulat sebagai CEO. Sembari menjabat sebagai CEO Penta Group pada periode 1989-1994, Tito juga mengabdikan diri pada dunia pendidikan dengan menjadi pengajar di Institute Management Finance and Accountancy pada 1990-1991.

Selain itu, ia juga duduk sebagai anggota Preparatory Committee of MoF (Forming the Jakarta Stock Exchange) pada 1990-1991 sekaligus anggota Asia Pacific Capital Market Study, conducted by Arthur Anderson International.

Pada 1992, Tito mulai masuk ke PT Bursa Efek Jakarta dengan menjabat sebagai komisaris hingga 1994. Saat bersamaan, dia menduduki kursi ketua Jakarta Broker Club, Wakil Ketua Asosiasi Penjamin Emisi Indonesia (KPEI), Komisaris PT Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI), sekaligus komisaris PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Tito juga menjabat sebagai komisaris Bursa Paralel Indonesia (BPI) pada 1993-1994. Periode berikutnya, dia didapuk sebagai direktur utama BPI. Lepas dari semua jabatan itu, pada 1995-1998 dia menjabat sebagai direktur utama Bursa Efek Surabaya.

Ketika tengah menjabat Dirut BES, Tito juga menjadi Direktur Keuangan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. tepatnya pada 1995-1999. Pada periode yang sama, dia bergabung ke dalam perusahaan milik keluarga Cendana, Siti Hardianti Rukmana atau Mbak Tutut, PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia sebagai managing director.

Tito juga sempat membangun bisnis media. Tepat di era milenium, Tito mendirikan perusahaan media cetak PT Media Investor On Line, dan menjadi direktur utama, sepanjang 2000-2003. Ia berpikir untuk meninggalkan sesuatu yang berharga ke pasar modal yang menghidupi dan membesarkan namanya, dengan membangun bisnis media yang berfokus di bidang ekonomi dan investasi untuk mendukung kemajuan industri pasar modal Tanah Air.

“Saya hidup dari pasar modal. Pentasena hancur. Lalu, saya berpikir untuk bikin online. Waktu itu saya mau bikin dot-com karena sedang marak, tapi ternyata tidak jalan. Lalu saya bikin koran, jadilah Investor Daily. Saya dirikan media cetak tersebut dari nol. Saya ikut mendistribusikan koran dengan mengendarai sepedamotor. Saya harus pelajari sendiri. Jadi, seminggu sekali saya turun ke lapangan untuk menyebarkan koran-koran itu,” jelas Tito, mengenang peluh dan sengatan matahari ketika menyebarkan koran di lapangan.

Tak lama kemudian, ia bergabung dengan grup konglomerasi milik Hary Tanoesoedibjo sebagai CEO PT Media Nusantara Citra Networks pada 2004-2007. Lengser sebagai CEO, dia kemudian menjabat sebagai komisaris PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) pada 2007-2009.

Sebelum mencalonkan sebagai Dirut BEI, Tito menduduki jabatan di lima perusahaan berbeda. Di antaranya, Komisaris PT Mitra International Resources Tbk., Wakil Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP). Selain itu, dia juga menjabat sebagai Komisaris BUMD Jawa Barat PT Jasa Sarana, Dirut PT Gerai Motor Terpadu-Triumph Motorcycles Exclusive Official Dealer Jakarta, dan Dirut Magenta Kapital Indonesia. Di lingkup asosiasi, Tito menjabat sebagai Waketum Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) dan Penasihat Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DKI Jakarta.

Puncak perjalanan karirnya di pasar modal terjadi pada 26 Juni 2015, ketika Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BEI memutuskan pengangkatan Tito sebagai Direktur Utama periode 2015-2018.

Kepemimpinan dan Warisan Sang Maestro Pasar Modal

PProfesional pasar modal kerap digambarkan dalam film-film sebagai orang-orang yang mengerjakan hal-hal rumit dan menegangkan, memandangi layar monitor beserta deretan angka dan grafik dengan respon panik, emosi, dan sebal. Setiap saat selalu bicara untung dan rugi.

Kesan kaku dan menegangkan itu coba diubah Tito sejak pertama kali menduduki kursi jabatan Dirut BEI. Ia mengubah suasana kerja yang menegangkan dengan keakraban, canda-tawa, dan hubungan emosional yang erat antara manajemen dan karyawan sebagai satu tim dan keluarga besar.

Dengan tetap mengutamakan tanggung jawab sesuai bidang tugas masing-masing, karyawan ia inspirasi untuk bekerja dengan senang, bahagia dan ikhlas. Ia beri contoh dalam dialog keseharian yang santai, tidak kaku, dan tetap profesional. Ia puji setiap karyawan yang berhasil mencapai target dalam tugasnya. Di sisi lain, ia motivasi karyawan yang sedang berjuang mengejar targetnya.

“Selama menjalani pekerjaan dengan fun and responsibility kita nggak akan pernah merasa capek. Tapi kalau cuma responsibility saja, nggak ada fun-nya kamu pasti capek. Karena alasan itu lah saya bergaul dengan teman-teman, pegawai BEI,” tutur Tito.

Di awal kepemimpinannya sebagai Dirut BEI, Tito fokus pada tiga program utama untuk memajukan pasar modal RI. Pertama, memperbarui dan memperkuat portofolio emiten. Kedua, memperkuat posisi broker. Ketiga, merapikan aktivitas pengawasan atau surveillance pasar modal.

Di bawah nakoda Tito, sejumlah prestasi dan penghargaan dikantongi BEI.  Tercatat pada tahun 2017, BEI meraih penghargaan Best Companies To Work in Asia 2017 dari HR Asia. Penghargaan Best Companies To Work in Asia 2017 dari HR Asia didasarkan pada hasil survei terhadap karyawan mengenai perusahaan dan tingkat kepuasaan kerja di masing-masing perusahaan. Penghargaan tersebut diberikan karena BEI berhasil memperbaiki posisinya sebagai perusahaan yang layak dijadikan tempat bekerja, dari posisi 21 menjadi urutan ke-12 dari beberapa perusahaan di Asia.

Sebelumnya, BEI  juga mencatat beberapa penghargaan, yakni sistem manajemen keamanan informasi ISO 27001:2013 sejak 2015. Bursa Efek Indonesia juga diganjar penghargaan The Best Supporting Institution of The Year 2016 oleh Global Islamic Finance Award.

Pada Februari 2018, BEI terpilih sebagai penerima anugerah apresiasi karya alumni UI di bidang pasar modal. Penghargaan tersebut diberikan untuk Tito karena Iluni UI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) menilai Tito berhasil membawa BEI mencapai indeks tertinggi sepanjang sejarah selama masa kepemimpinannya.

Pada Maret 2018, Tito Sulistio menerima penghargaan pada ajang kompetisi PR Indonesia Awards 2018 di Tunjungan Plaza, Surabaya, karena kepemimpinannya sebagai Dirut BEI dinilai menginspirasi. PR Indonesia Awards 2018 diikuti oleh 463 entri yang berasal dari 12 kementerian, 12 lembaga Negara, 21 perusahaan BUMN, Sembilan pemerintah daerah, 15 perusahaan swasta non Tbk, 11 perusahaan swasta Tbk, 19 anak usaha BUMN, empat BUMD, dan perusahaan swasta daerah. Penjurian melibatkan para ahli dan praktisi komunikasi terpercaya dengan kredibilitas dianggap mumpuni.

Penghargaan demi penghargaan memang layak disandang BEI dan Tito Sulistio. Sejak Tito memimpin BEI, dari 2015 hingga 2017, kinerja BEI begitu mengagumkan. Mulai rekor tertinggi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke posisi 6.314, nilai kapitalisasi tertinggi Rp 6.993 triliun, imbal hasil tertinggi dalam 10 terakhir 286 persen, rata-rata nilai transaksi harian tertinggi Rp 7,52 triliun, rata-rata volume transaksi harian tertinggi 11,9 miliar, rata-rata frekuensi transaksi harian tertinggi 312 ribu kali, jumlah emiten tertinggi sejak 1994 37 emiten.

“Market cap kita sudah mencapai Rp6.700 triliun. Pada tahun 1992, market cap BEI hanya 15 persen dari toal aset perbankan, itu hanya satu per enamnya aset perbankan. Detik ini total aset perbankan dengan market cap kita hanya selisih sekitar Rp250 triliun atau sekitar 4 persen,” kata Direktur Utama BEI, Tito Sulistio di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Lalu, fund raised tertinggi Rp 801 triliun, lonjakan kekayaan investor lokal Rp 432 triliun, tingkat literasi pasar modal 15 persen, jumlah investor pasar modal 1,12 juta, tingkat availabilitas 99,98 persen, kantor perwakilan (KP) dan galeri investas (GI) 352 unit, yang menjalin kerja sama dengan IDX Incubator 42 startup, pertama di dunia sharia online trading, kontribusi pasar terhadap lebih dari 10 persen, pengenalan saham hingga ke Desa Nabung Saham, penghargaan pendukung amnesti pajak, best supporting institution of the year 2016 and 2017 for Islamic Finance (GIFA) award, one of the best companies to work in asia 2017, HR Asia award dan, tingkat kepuasan stakeholder 78 persen.

Salahsatu inovasi cemerlang Tito dalam meningkatkan investasi ke pasar modal Indonesia adalah gagasannya menjadikan Perwakilan RI di seluruh dunia sebagai pusat informasi investasi. Cukup datang ke Kedutaan dan Konsulat Jenderal RI terdekat, calon investor bisa mendapatkan informasi peluang investasi di pasar modal Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Tito, BEI memiliki 332 galeri investasi, yang terbanyak di dunia. Selain itu ada 29 kantor perwakilan BEI serta 370 komunitas pasar modal. “Ini yang membuat investor domestik kita berkembang. Sebanyak 250 ribu investor domestik dalam dua tahun ini menyumbang 54 persen ke pasar modal,” ucapnya. Tito mengungkapkan, pertambahan jumlah investor domestik tersebut terbukti mampu mengimbangi tren aliran modal asing keluar. “Net sell asing ditahan oleh investor domestik. Bahkan saat ada net sell asing, IHSG naik 15 persen. Ini prestasi besar,” ucapnya.

Berkaca dari prestasi dan pencapaian yang sudah diraih BEI selama kepemimpinannya, Tito optimis pasar modal Indonesia akan berada terdepan di ASEAN. “Master plan BEI 2016-2020 memproyeksikan BEI menjadi bursa efek terkemuka di Asia Tenggara mulai tahun 2020,” jelas Tito. Untuk mencapai visi besar itu, Tito berfokus pada empat pilar utama, yakni penambahan jumlah investor aktif, peningkatan jumlah perusahaan tercatat, penguatan anggota bursa, dan penguatan ketahanan industri pasar modal Indonesia.

Dalam rangka peningkatan jumlah emiten, Tito mendirikan pusat informasi Go Public (PIGP). Keberadaan PIGP memudahkan calon perusahaan mengakses data dan memperoleh informasi tentang bagaimana mencatatkan saham di BEI. Di sisi lain, BEI terus mendukung berbagai upaya penguatan anggota bursa seperti melakukan relaksasi marjin yang bertujuan mendorong transaksi lebih tinggi, yang ditandai dengan pendirian PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI) bersama Self Regulatory Organization (SRO) dll.

BEI juga mendorong meningkatnya jumlah Wakil Perantara Perdagangan Efek bekerja sama dengan The Indonesia Capital Market Institute (TICMI). Asal tahu saja, hingga akhir 2016 BEI telah berpartisipasi dalam menghadirkan sejumlah kalangan profesional dan berlisensi melalui penambahan 814 Wakil Perantara Perdagangan Efek (WPPE), 1.151 WPPE Pemasaran, 193 WPPE Pemasaran Terbatas, 641 Wakil Manajer Investasi (WMI), dan 41 Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM).

Perpisahan yang Mengharukan

PPlease excuse me. I’m sorry. Thank you.” Kuotasi kata-kata itu terpampang di papan Main Hall Bursa Efek Indonesia, Kamis (28/6/2018) siang. Hari itu menjadi hari terakhir Tito Sulistio bertugas sebagai Dirut BEI. Tito menggelar acara perpisahan sederhana dengan manajemen dan karyawan BEI. Suasananya haru. Beberapa karyawan bahkan terlihat tak kuasa menitikkan air mata.

Acara dimulai dengan peluncuran buku ‘Aku Mau: 50 Alasan Mengapa Nabung Saham. Kampanye Yuk Nabung Saham menjadi salahsatu program aksi yang digagas Tito sejak awal kepemimpinannya. “Apa yang kita capai? Tingkat literasi naik 15%, jumlah investor tumbuh 60%, dalam 3 tahun jumlah investor aktif naik 110%,” kata Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan.

Giliran Tito tampil. Semua sorot mata di ruangan mengarah pada tokoh sentral BEI itu. Secara singkat ia menyampaikan capaian BEI selama 3 tahun di bawah kepemimpinannya. Meski demikian, menurut Tito, bukan angka-angka yang akan membuat seseorang selalu diingat, namun konsep yang digagasnya untuk membuat lembaga lebih maju.

“Konsep yang akan diingat selalu. Praktis, hari ini adalah hari terakhir kami bertujuh kerja. Like it or not, saya bilang, saya pegawai kontrakan dan Anda semua pemilik perusahaan ini,” kata Tito. Suasana berubah haru ketika Tito mulai memanggil beberapa karyawan untuk memberikan barang-barang pribadinya sebagai penghargaan kepada karyawan.

Pertama dia memanggil Johanes Liaw, karyawan BEI yang sudah bekerja puluhan tahun sejak masih berbentuk Bursa Efek Jakarta. Kemudian dia memanggil Rusi dan Alit. Dua karyawan yang sering lembur hingga terpaksa menginap di kantor. Tito memberikan hadiah bantal yang salah satunya berbentuk tengkorak, bantal kesukaannya.

“Saya punya barang yang selalu saya pakai kalau tidur di kantor, mudah-mudah bisa dipakai. Maafkan saya karena membuat kalian kerja begitu keras sehingga terpaksa harus tidur di kantor,” tutur Tito.

Kemudian dia memanggil petugas teknisi. Tito membuka bajunya hingga hanya memakai kaos dalam dan memberikan kemeja seragam kesayangannya yang sedang ia pakai kepada petugas teknisi itu.

Terakhir Tito menyerahkan ID Card BEI-nya. “Kartu ini selalu saya pakai. Termasuk saat tidur. Sejak awal menjabat hingga menikahkan 2 anak saya. Hari ini terakhir saya pakai dan saya kembalikan,” tanbahnya. Di akhir sambutannya, dalam suasana haru dan mata berkaca-kaca, Tito mengucapkan terimakasih kepada seluruh karyawan BEI atas dukungan dan kerja keras mereka yang membantunya mencapai kemajuan perusahaan.

Seorang karyawan muncul di depan untuk menyampaikan kata perpisahan mewakili seluruh karyawan. Sambil menyeka air mata, ia ungkapkan kesan-kesannya tentang Tito, kepribadian dan kepemimpinannya.

“Waktu awal Pak Tito datang, jujur kami takut. Kita diajak berlari, bukan merangkak. Terima kasih Pak Tito dan Direksi lainnya atas kerjasama selama ini, sukses di tempat yang baru,” tuturnya.

Hari terakhir bersama manajemen dan karyawan BEI menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi Tito. Pesan utama dan lebih penting dari barang-barang berharga miliknya yang diberikan kepada para karyawan, Tito mewariskan teladan kepemimpinan, strategi bisnis, etos kerja keras, senang dan ikhlas yang mengantar BEI mencapai prestasi gemilang sepanjang 3 tahun kepemimpinannya.

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) Tito Sulistio dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  meresmikan pengoperasian jalan Tol Depok-Antasari Seksi I di Jakarta, Kamis (27/9/2018). ANTARA/Puspa Perwitasari

CMNP: Pulang ke Rumah Lama

BBaru saja mengakhiri tugasnya sebagai Dirut BEI, Tito langsung  mendapat tempat berlabuh. Ia kembali ke rumah lamanya, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), dipercaya menjabat Direktur Utama dan Independen. Keputusan pengukuhan Tito disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPST dan RUPSLB), Kamis (28/6/2018).

Sebelum menjabat Dirut BEI, Tito menduduki kursi jabatan di lima perusahaan berbeda. Salah satunya, sebagai wakil direktur utama CMNP. CMNP merupakan sebuah konsorsium, terdiri dari beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang infrastruktur, khususnya pengusahaan jalan tol dan bidang terkait lainnya.

Bisnis tol tak asing bagi Tito. Sebelum namanya besar lewat BEI, Tito sempat menjadi Direktur Keuangan PT CMNP pada tahun 1995-1999. Berselang hampir 20 tahun, Tito kembali lagi ke bisnis ini menakhodai CMNP dan menggarap sejumlah proyek tol prestisius di Pulau Jawa.

Tito menuturkan, pembangunan jalan tol bertujuan membuat konektivitas dan meningkatkan aktivitas ekonomi. Kesejahteraan masyarakat di sekeliling jalan tol akan meningkat. Ia mencontohkan, harga tanah tol Depok-Antasari naik dari Rp 1 juta/m2 jadi Rp 8 juta/m2, maka kesejahteraan masyarakat di sekeliling jalan tol meningkat. “Jadi, setiap Jokowi bangun jalan tol, harusnya bilang bahwa kesejahteraan rakyat itu meningkat ujung ke ujung,” ujar Tito.

Tito setuju dengan langkah Presiden Jokowi yang menghapuskan tarif Suramadu. Secara tidak langsung, ada dua pesan yang disampaikan Jokowi dalam kebijakan pro rakyat itu. Pertama, adalah bagaimana secara langsung kesejahteraan masyarakat akan meningkat karena tidak perlu mengeluarkan uang. Kedua, Jokowi bermaksud memperlihatkan dan menegaskan bahwa APBN kita sesungguhnya kuat.

Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) Jonathan L Parapak (kanan) meluluskan Tito Sulistio dari sebagai Doktor Ilmu Hukum UPH.

Gagasan Privatisasi BUMN Berkerakyatan

MMenjelang resmi menjabat Dirut BEI, Tito tampil di hadapan senat civitas akademika Universitas Pelita Harapan (UPH) untuk menyampaikan disertasi doktoral bertopik “Privatisasi Berkerakyatan: Implementasi Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara konstitusional dengan mempertimbangkan aspek keputusan komersial.”

“Pelaksanaan privatisasi yang beroerientasi kerakyatan selalu mengedepankan dan berlandaskan pada teraktualisasinya tujuan bernegara, cita-cita dan jiwa bangsa, serta pemenuhan kontrak sosial antara penyelenggara negara dengan rakyat,” ujar Tito di depan para penguji dan undangan di Kampus UPH, Lippo Karawaci, Tangerang, Selasa (16/6/2015).

Keberpihakan kebijakan privatisasi kepada rakyat harus jelas dan kongkrit, mulai dari arah kebijakan privatisasi, pengelolaan proses dan prosedur privatisasi, sampai implementasi serta pengelolaan hasil-hasil privatisasi. Semua tahapan kebijakan ini secara nyata dan sebesar-besarnya harus bermuara pada kemakmuran rakyat.

Tito menyebut, model privatisasi seperti itu sebagai ‘privatisasi berkerakyatan’. Secara lebih konseptual ia menjelaskan, ‘privatisasi berkerakyatan’ adalah sebuah model privatisasi yang dirancang secara strategis, agar kebijakan dan arah privatisasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap badan usaha milik negara (BUMN) dapat tetap memenuhi atau mewujudkan tujuan berdirinya Indonesia, yakni melindungi hak-hak dan menyejahterakan rakyatnya.

Keberpihakan terhadap rakyat harus tercermin dan tertuang secara jelas dan kongkrit dari seluruh dasar hukum yang mendasarinya. Dalam hal ini, negara diwakili oleh pemerintah berperan sebagai institusi atau pelaku ekonomi memainkan peran dan fungsinya dalam memastikan terpenuhinya hak-hak ekonomi rakyat.

Oleh karenanya, menurut Tito, ‘Privatisasi Berkerakyatan’ menjadi upaya untuk lebih memenuhi hak-hak ekonomi rakyat melalui aktivitas, strategi dan kebijakan arah privatisasi badan usaha milik negara. Rakyat telah memberikan serta menyerahkan mandat/hak politiknya kepada pemerintah untuk mengelola negara dan pemerintahan, salah satunya untuk mengelola badan usaha milik negara.

“Karenanya ketika pemerintah memutuskan untuk melaksanakan privatisasi, pada dasarnya akan menghilangkan atau mengurangi mandat yang diterimanya dari rakyat untuk memiliki dan mengelola salah satu aset negara yaitu badan usaha milik negara,” kata Tito.

Sebagai konsekuensi atas berkurangnya mandat dari rakyat atas pengelolaan BUMN, agar tetap dalam koridor tidak berkurangnya hak-hak ekonomi rakyat, menurut dia, maka keputusan untuk melepas kepemilikan badan usaha milik negara hendaknya tetap berorientasi pada upaya memenuhi kesejahteraan rakyat.

Dalam konteks ‘privatisasi berkerakyatan’, jelas Tito, yang terjadi adalah prinsip efisiensi yang berkeadilan. Pelepasan peran negara dalam melaksanakan privatisasi dikendalikan oleh pasal 33 UUD 1945 yang merupakan kompas atau panduan dalam menjalankan privatisasi.

“Dengan kata lain, ‘privatisasi berkerakyatan’ adalah privatisasi yang dijalankan dalam pemenuhan amanat konstitusi, yang merupakan penjelmaan dari aspirasi rakyat dalam bernegara,” imbuh Tito.

Lewat disertasinya, Tito meluruskan stigma negatif tentang proses pengalihan kepemilikan (privatisasi) BUMN yang selama ini seakan dianggap sebagai tindakan amoral dan berdosa.

“Privatisasi bukan lah dosa. MK juga menuangkan hal tersebut,” terang Tito.Privatisasi, bagi Tito, merupakan salah satu cara mengubah paradigma ekonomi pemerintah untuk mengurangi intervensi pemerintah kepada BUMN secara konstitusional. Pemerintah cukup memerankan tugas penting sebagai pengontrol. Namun, diakui Tito, hal yang paling menakutkan selama ini adalah tarik-menarik kepentingan politik. Karenanya, ganjalan tersebut harus diselesaikan juga secara politik.

“Dalam hal ini ya legislasi Undang-undang. Sedangkan soal akan adanya benturan dengan hukum, itu terjadi karena devinisi yang tidak jelas. Seperti Undang-undang No.19 tahun 2003 BUMN, Undang-undang No.17 /2003  tentang keuangan Negara,  Undang- undang No.31 tentang Tipikor, jadikan ini sebagai like spesialis,” ujarnya.

Menurut Tito, seharusnya pemerintah menyusun dan mengembangkan konsep “Privatiasi Berkerakyatan” sebagai alternatif pengganti arah dan strategi privatisasi BUMN yang ada, agar sesuai prinsip negara kesejahteraan dan UUD 1954 yang terimplementasi dalam sistem hukum.

“Malaysia, Kenya, Turki , Rusia melakukan (itu), kenapa kita tidak bisa?.  Selama tujuannya adalah  kesejahteraan masyarakat, kenapa tidak,” ujarnya. Sebagai profesional pasar modal yang berpengalaman, Tito meyakini privatisasi BUMN akan mendorong pertumbuhan pasar modal domestik.

Setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji, Tito akhirnya diwisuda sebagai doktor ilmu hukum Universitas Pelita Harapan, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,99 dan nilai sempurna, cum laude.